Aceh Diminta Terapkan Standar Harga TBS Kelapa Sawit

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Kabupaten Aceh Selatan, Khaidir Amin, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh tegas terkait standar harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.
Newswire | 27 November 2018 14:43 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, MEULABOH – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Kabupaten Aceh Selatan, Khaidir Amin, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh tegas terkait standar harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

"Karena sudah ada penetapan harga jual beli TBS oleh Pemprov Aceh, bahkan ada timnya yang dibentuk sebagai pengambil kebijakan penetapan harga, tetapi di lapangan harga TBS petani tidak seperti itu," kata dia yang dihubungi dari Meulaboh, Selasa (27/11/2018).

Khaidir, mengatakan di Kabupaten Aceh Selatan harga TBS petani anjlok hingga Rp650-Rp700 per kg, sementara Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh telah menatapkan harga minimal pembelian TBS Rp1.200 per kg dengan rendeman 18,41%.

Harga tersebut diperkirakan dengan nilai rata-rata penjualan CPO Rp6.062 per kg, kemudian rata-rata harga kernel Rp4.945 per kg, kemudian juga disesuaikan dengan umur tanaman kelapa sawit serta rendemen atau kadar minyak dalam kelapa sawit.

Penyebab anjloknya harga itu diakibatkan mata rantai penjualan produksi petani kebun sawit di Aceh Selatan masih sangat panjang hingga sampai ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) untuk diolah menjadi bahan baku minyak mentah atau crude palm oil (CPO).

"Harus ada ketegasan dulu dari pemerintah, tidak boleh beli TBS di bawah standar minimum ditetapkan. Kedua, memang perlu segera tersedia pabrik pengolah CPO di Aceh Selatan sehingga dapat memangkas biaya transportasi darat," katanya.

Kalaupun ada pabrik pengolah CPO di Kabupaten Aceh Selatan yang merupakan milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), tetapi selama ini tidak beroperasi maksimal karena pihak ketiga yang mengelola mengalami persoalan keuangan.

Kemudian, agen penampung yang membeli produksi TBS kelapa sawit di Aceh Selatan selama ini terpaksa mengeluarkan modal lebih untuk biaya transportasi darat tujuan Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil.

Sebab, kata Khaidir, hanya di dua daerah tetangga tersebut yang tersedia PKS, terkadang saat produksi melimpah harga TBS dari petani dibeli dengan harga paling murah dan kondisi ini sangat tidak memihak kepada petani sebagai produsen.

Diperkirakan lebih dari 1.000 ton per hari TBS dari Aceh Selatan dijual ke pemilik PKS. Poduktivitas begitu besar harusnya investor dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk membangun sebuah pabrik pengolah CPO di daerah setempat.

"Kita menyarankan kepada Pemkab Aceh Selatan mengotimalkan pengelolaan pabrik pengolah CPO milik daerah, sebab itu aset dan menjadi sumber pemasukan daerah. Kemudian investor bisa melirik potensi ekonomi itu," katanya.

Sumber : Antara

Tag : aceh, kelapa sawit
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top