Riau Perlu Optimalkan Ekspor Kawasan FTZ

Provinsi Kepulauan Riau perlu memaksimalkan kinerja ekspor di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam, Bintan dan Karimun (BBK).
Sarma Haratua Siregar | 26 November 2018 15:37 WIB

Bisnis.com, BATAM – Provinsi Kepulauan Riau perlu memaksimalkan kinerja ekspor di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam, Bintan dan Karimun (BBK).

Merosotnya kinerja ekspor membuat Kepri mengalami perlambatan paling tajam di Sumatra, dari 4,51% di triwulan II menjadi 3,74% di triwulan III 2018.

Ekspor luar negeri Kepri mengalami perlambatan dan berdampak pada kontraksi net ekspor luar negeri. Ekspor luar negeri mencatatkan perlambatan pertumbuhan sebesar 5,36% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 16,97% (yoy).

Dalam catatan Bank Indonesia, Net Ekspor luar negeri Kepri mengalami kontraksi sepanjang tahun 2018. Mulai dari -51,17% di triwulan pertama, -6,26% di kuartal kedua. Kontraksi semakin parah di kuartal ketiga menjadi -56,43%.

Makin dalamnya kontraksi net ekspor membuat perannya dalam struktur ekonomi Kepri semakin berkurang. Dari 13,98% di kuartal pertama 2018, kemudian 12,75% di kuartal kedua dan menjadi 11,3% di kuartal ketiga.

“Kontraksi Net Ekspor yang makin dalam paling banyak berkontribusi menurunkan ekonomi Kepri,” ujar Kepala KPW BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra, Senin (26/11/2018).

Kontraksi ekspor migas menyebabkan kinerja ekspor luar negeri mengalami perlambatan. Ekspor migas Kepri pada triwulan III-2018 tercatat mengalami kontraksi - 20,86% (yoy) lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 56,61% (yoy).

Ekspor nonmigas Kepri pada triwulan III 2018 tercatat tumbuh melambat sebesar 5,09% (yoy), lebih rendah dibandingkan ekspor triwulan II 2018 yang tumbuh sebesar 8,00% (yoy). Produk besi dan baja mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Olahan CPO yang biasanya cukup tinggi juga mengalami penurunan, walaupun tidak separah penurunan ekspor besi dan baja. Produk industri shipyard seperti perahu, kapal dan struktur terapung lainnya mengalami pertumbuhan negatif, tapi sudah mengalami perbaikan.

“Sektor elektronik masih tumbuh positif, tapi pertumbuhannya tidak begitu tinggi, namun lebih baik ketimbang kuartal II 2018,” jelasnya.

Makin dalamnya kontraksi Net Ekspor harus menjadi perhatian utama Kepri. Kepri harus bisa engoptimalkan peran FTZ BBK yang selama ini menjadi mesin utama ekonomi Kepri . Jika Net Ekspor negatif, berarti mesin ekonomi Kepri tak begitu baik jalannya.

“Harusnya dengan status FTZ, net ekspornya harusnya positif,” jelasnya.

Jika Kepri mengalami net ekspor negatif, maka akan memberikan dampak negatif terhadap Current Acount Defisit Indonesia. Padahal pemerintah berharap banyak terhadap kontribusi ekspor daerah, terutama yang diberikan keistimewaan seperti FTZ BBK untuk meningkatkan kinerja ekspor negara.

“Daerah-dareah harus memberikan kontribusi membantu mengurangi defisiti transaksi transaksi berjalan dengan meningkatkan kinerja ekspor,” ujarnya.

Di sisi lain, Impor Kepri juga mengalami penurunan. Namun jumlah impor Kepri masih lebih besar ketimbang ekspor. Impor luar negeri Kepri pada triwulan III 2018 tumbuh 20,01 persen (yoy), lebih rendah dari triwulan lalu yang tercatat tumbuh 23,93 persen (yoy). Perlambatan impor terjadi pada komoditas migas dan non migas.

Tag : riau
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top