Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perusahaan Perkebunan Didorong Gunakan Sekat Kanal Berbahan Baku Karet

Pemerintah mulai mengenalkan sekat kanal berbahan baku karet alam kepada perusahaan perkebunan di Sumatra Selatan karena dinilai lebih awet dan tahan lama ketimbang bahan kayu.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 08 Mei 2018  |  11:10 WIB
Petani mengumpulkan getah karet seusai dipanen di Nagari Muaro Bodi, Sijunjung, Sumatra Barat, Minggu (12/3). - Antara/Iggoy el Fitra
Petani mengumpulkan getah karet seusai dipanen di Nagari Muaro Bodi, Sijunjung, Sumatra Barat, Minggu (12/3). - Antara/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemerintah mulai mengenalkan sekat kanal berbahan baku karet alam kepada perusahaan perkebunan di Sumatra Selatan karena dinilai lebih awet dan tahan lama ketimbang bahan kayu.

Direktur Pusat Penelitian Karet Karyudi mengatakan uji coba penggunaan karet alam untuk sekat kanal sudah dilakukan di tujuh titik yang ada di Kabupaten Banyuasin dan Muaraenim.

“Dari hasil uji coba bisa dikatakan berhasil, tinggal kami gencarkan sosialisasi ke kalangan pengusaha perkebunan,” ujarnya, baru-baru ini.

Potensi penggunaan karet alam untuk sekat kanal dinilai sangat besar mengingat saat ini terdapat 14,9 juta hektare (ha) lahan gambut. Dari belasan ha ini, sebanyak 5% di antaranya merupakan areal perkebunan.

“Untuk menghindari kebakaran hutan dan lahan, pembuatan sekat kanal menjadi wajib bagi perusahaan dan ini sudah ada payung hukumnya,” tutur Karyudi.

Dia mengemukakan pihaknya telah melakukan uji coba sejak April 2017. Adapun penelitian terkait sekat kanal berbahan baku karet itu mendapatkan dukungan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, yang memanfaatkan dana hibah USAID dalam program mitigasi berbasis lahan.

Karyudi menjelaskan penggunaan karet alam terbukti lebih efektif karena setiap satu meter sekat kanal hanya membutuhkan bahan baku sebanyak 4 kg karet alam. Jika dihitung secara keseluruhan, jauh lebih menguntungkan karena awet selama beberapa tahun.

“Sungguh berbeda jika menggunakan kayu karena cepat lapuk mengingat air lahan gambut itu dikenal sangat asam. Jika menggunakan karet, justru semakin bagus karena menyatu dengan alam,” tambahnya.

Penggunaan karet alam juga disebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan serapan dalam negeri mengingat saat ini harga karet di pasaran internasional sedang anjlok. Harga di tingkat petani hanya berkisar Rp8.000 per kg.

Pusat Penelitian Karet kemudian mendapatkan tugas dari pemerintah untuk meriset kemungkinan pemanfaatkan karet alam untuk proyek infrastruktur, selain untuk pintu air dan dok kapal. Belum lama ini, Pusat Penelitian Karet telah menelurkan hasil riset berupa aspal karet yang sukses dalam uji coba di Lido, Jawa Barat.

“Untuk aspal karet, rencananya akan diterapkan pada jalan sejauh 11 km di Sumatra Selatan. Tahun ini akan direalisasikan,” ungkap Karyudi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karet gambut
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top