Pelabuhan Bengkulu Mulai Disandari Kapal Besar

Oleh: Akhmad Mabrori 09 Oktober 2018 | 00:04 WIB
Pelabuhan Bengkulu Mulai Disandari Kapal Besar
MV Ch Bella, kapal berbendera Korea Selatan dengan bobot 33.000 DWT, sandar di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, memuat batu bara 27.797 ton dengan tujuan Jeju, Korsel./Istimewa-PT Pelindo II

Bisnis.com, JAKARTA – Kapal berbendera asing berbobot 35.000 death weight tonage (DWT) mulai singgah di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, setelah pengerukan alur pelayaran di area pintu masuk pelabuhan itu diselesaikan hingga mencapai kedalaman -10 meter LWS (lower water spring).

Hambar Wiyadi, General Manager PT Pelabuhan Indonesia II cabang Bengkulu, mengatakan pada 3 Oktober 2018 telah selesai dilakukan pengerjaan pengerukan pendalaman alur pelayaran di pelabuhan tersebut.

"Sebelum dilakukan pengerukan kedalaman alur pelayaran hanya mencapai 5 meter LWS, sehingga hanya mampu melayani tongkang atau barge 9000 ton," ujarnya melalui siaran pers yang diterima Bisnis pada Senin (8/10/2018).

Dia berharap dengan peningkatan kedalaman alur pelayaran di pelabuhan itu, akan mampu meningkatkan pengiriman komoditas utama Bengkulu seperti batu bara, cangkang, klinker/semen, dan crumb rubber yang memang menjadi andalan ekspor ke beberapa negara seperti Asia, China, India, dan Amerika Serikat.

Hambar mengungkapkan biaya pengerukan alur pelayaran Bengkulu mencapai Rp65 miliar dan dengan kedalaman alur itu diharapkan mencapai kondisi ideal sehingga dapat meningkatkan produktivitas Pelabuhan Bengkulu hingga 40% lebih dari kondisi yang ada saat ini.

Tentunya, lanjutnya, hal itu juga diimbangi dengan adanya peningkatan pelayanan untuk mendukung aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan sebanding dengan peningkatan arus komoditas utama Provinsi Bengkulu.

"Dengan demikian, pada akhirnya akan turut membantu kelancaran distribusi barang dan pertumbuhan ekonomi di Bengkulu dan sekitarnya," ucapnya.

Hambar mengutarakan upaya yang dilakukan manajemen Pelabuhan Bengkulu tidak hanya pada kondisi alur pelayaran yang ideal, juga penambahan dua fasilitas dermaga untuk penanganan bongkar muat curah kering yaitu dermaga untuk kegiatan bongkar muat batu bara di dermaga Jetty A dan dermaga eks-Bukit Sunur dengan total investasi Rp24 miliar.

Untuk Jetty A telah diselesaikan 100% yang dilengkapi dengan fasilitas pendukungnya berupa conveyor dengan kapasitas 1.500 ton per jam.

Sedangkan dermaga eks-Bukit Sunur dalam proses dilaksanakan pembangunan berupa dermaga floating rampdoor yang nantinya digunakan untuk melayani kapal jenis tongkang dengan kapasitas 10.000 ton serta didukung dengan fasilitas lapangan dan peralatan bongkar muat berupa 1 unit excavator dan 1 unit whell loader dengan nilai total investasi mencapai Rp6,5 miliar.

"Apabila kedua dermaga tambahan itu sudah dioperasikan, akan meningkatkan pendapatan dan nilai aset kepada perusahaan, yang pada gilirannya akan memberikan peningkatan deviden kepada pemerintah," paparnya.

Dia juga menyatakan dampak langsung dari pembangunan terminal ini: pertama, peningkatan kapasitas daya tampung kapal dengan kapasitas bongkar muat curah kering dari 2,4 juta ton menjadi 3,5 juta ton serta dapat melayani kapal besar (mother vessel) serta kapal jenis tongkang.

Kedua, tersedianya dedicated terminal untuk barang curah kering, sesuai dengan jenis barang yang dibongkar dan muat di terminal tersebut.

Ketiga, mampu melayani kapal-kapal di atas 35.000 ton dengan peningkatkan produktivitas terminal, tentunya terminal ini akan menjadi pelabuhan pilihan bagi liner internasional dan regional yang pada akhirnya terminal akan menjadi hub port di pantai barat Indonesia.

Keempat, membantu menurunkan biaya logistik dengan tersedianya terminal yang didukung dengan peralatan dan produkvitas tinggi, disertai dengan service pelayanan yang pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan perekonomian nasional.

Kelima, peningkatan aktivitas dan operasional pelabuhan yang diimbangi dengan produktivitas dan standar pelayanan yang baik, akan berdampak pada peningkatan penghematan biaya operasional kepelabuhanan dan penghematan waktu.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya