Ekspor Kopi Sumut Meredup Gara-Gara Anomali Cuaca

Oleh: Ropesta Sitorus 07 Agustus 2018 | 20:01 WIB
Ekspor Kopi Sumut Meredup Gara-Gara Anomali Cuaca
Petani memeriksa tanaman kopi./Antara-Raisan Al Farisi

Bisnis.com, MEDAN – Kinerja ekspor Sumatra Utara per Juni 2018 kembali menunjukkan perlambatan pada hampir semua golongan komoditas, antara lain kopi.

Menurut data Badan Pusat Statistik Sumatra Utara, ekspor dari Sumut masih didominasi sektor industri dengan kontribusi 91,94% dan sektor pertanian dengan porsi 8,06% terhadap perdagangan per Juni 2018 yang berjumlah US$549,93 juta.

Ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah turun US$14,79 juta atau 26,83% menjadi US$40,37 juta per Juni 2018. Komoditas tersebut merupakan kontributor ekspor terbesar keempat dari Sumut, setelah lemak & minyak nabati, karet dan barang dari karet dan berbagai produk kimia.

Secara khusus, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatra Utara mencatat volume ekspor kopi asal Sumut 3.584,39 ton atau US$22,39 juta per Juni 2018, turun 37,8% secara bulanan atau minus 33,4% secara tahunan.

Secara kumulatif Januari – Juni 2018 ekspor kopi Sumut mencapai 28.276,39 ton atau setara US$149,96 juta. Apabila digabungkan dengan realisasi ekspor Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) melalui Pelabuhan Belawan per semester I/2018 menjadi 30.511,66 ton atau setara US$163,32 juta.

Parlindungan Lubis, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut, menjelaskan turunnya ekspor kopi disebabkan pasokan yang seret.

“Areal penanaman kopi sangat kurang sehingga produksi juga kecil. Di sisi lain, permintaan besar sehingga harga lokal jadi mahal,” katanya kepada Bisnis Selasa (7/8/2018).

Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut Saidul Alam menyatakan seretnya ekspor kopi tersebut akibat turunnya produksi yang terjadi hampir merata di semua wilayah penghasil kopi arabica di Sumut.

“Faktornya karena tidak ada buah. Sebab periode ini sampai Agustus – September memang masa-masa penurunan produksi atau istilahnya trek buah, nanti akan peak lagi pada Oktober,” ujarnya kepada Bisnis.

Alam, begitu dia biasa disapa, menuturkan anomali cuaca dalam beberapa tahun terakhir, di mana periode musim kemarau lebih panjang, membuat produksi kopi Sumut mulai surut sejak pertengahan tahun hingga awal September.

Padahal, curah hujan yang tinggi merupakan prasayarat penting yang menunjang produksi kopi, khususnya dalam masa pematangan buah kopi menjelang masa panen.

“Kendala lainnya belum ada plot khusus lahan mana yang baik untuk tanaman kopi. Harusnya itu yang dikerjakan sekarang, karena banyak yang hanya coba-coba tanam kopi, sehingga penambahan areal tidak signifikan dan produksinya tidak maksimal. Analoginya pada 15 tahun lalu masih dapat 5 kg per pohon sekarang hanya 2 kg per pohon,” ungkapnya.

Turunnya jumlah produksi tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian bersama, antara pelaku usaha dan pemerintah.

Selain kendala domestik, dia juga mengatakan faktor harga menjadi penyebab importir mencari alternatif kopi dari negara lain yang harganya lebih murah.

“Harga kopi Sumut yang tertinggi sekarang, sekitar US$5.4 – US$5.5 per kg. Pelanggan-pelanggan kami sudah mulai kurangi pasokan dan mereka cari substitusi dari negara lain seperti arabica dari Brazil yang punya produksi 3 kali lipat dari kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, imbuh Alam, AEKI bersama pemerintah mencari pasar-pasar baru di luar pasar utama.

Ekspor kopi Sumut masih mayoritas diserap pasar Amerika, Eropa dan Jepang dan sebagian kecil dipasok ke Korea. Selain itu, eksportir kopi juga mulai menjajaki peluang ekspor ke negara yang prospektif seperti Rusia dan kawasan Timur Tengah, kendati belum dilakukan secara masif.

“Selain itu, penyerapan kopi di dalam negeri juga trennya terus meningkat sejalan dengan pasar kopi domestik terus bertumbuh beberapa tahun terakhir.”

Ekspor kopi sebagai salah satu produk unggulan diharapkan dapat terus meningkat. Angka ekspor kopi dari Sumut cenderung fluktuatif di kisaran 60.000 ton.

Sepanjang 2017 lalu, jumlah ekspor kopi Sumut dan NAD melalui Belawan mencapai 67.573,24 ton atau setara US$338,59 juta. Realisasi tersebut meningkat dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 65.214,85 ton atau senilai US$326,65 juta.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya