Industri di Sumut Minta Pemerintah Buat Kebijakan Kuat Atasi Harga Gas

Oleh: Ropesta Sitorus 16 Juli 2018 | 10:39 WIB
Ilustrasi.

Bisnis.com, MEDAN – Kalangan pelaku industri mengharapkan pemerintah turun tangan membuat kebijakan yang lebih kuat untuk mendorong penurunan harga gas di Sumatra Utara. Pasalnya, harga gas industri yang dipasok Perusahaan Gas Negara (PGN) ke kawasan Medan dan wilayah Sumut lainnya merupakan yang tertinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.

"Ini tergantung political will dari pemerintah. Tinggal keluarkan kebijakan, maka PGN atau pun yang lainnya tinggal menjalankan," kata Johan Brien, Ketua Asosiasi Perusahaan Pemakai Gas Indonesia (Apigas) kepada Bisnis, Minggu (15/7/2018).

Johan yang juga Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, menuturkan harga gas untuk semua sektor industri di Sumut masih termahal di dunia, yakni di level USD9,95/mmbtu. Padahal, Presiden lewat Perpres nomor 40/2016 telah mengamanatkan agar harga gas industri diarahkan ke level USD6/mmbtu.

Dia mengatakan, penyedia gas tidak boleh lagi berdalih bahwa harga gas selama ini tidak bisa diturunkan karena alasan jauhnya jarak dari sumber gas KE Sumut.

"Sumber gas mungkin berbeda-beda. Bagi industri, dari mana sumbernya sama saja, itu tidak di bawah kendali industri. Sama halnya dengan BBM di Papua dari harga Rp60.000/liter bisa turun jadi Rp6.500/liter," katanya.

Johan mendorong agar persoalan harga gas tersebut menjadi fokus perhatian pemerintah mengingat faktor tersebut juga berpengaruh pada peningkatan daya saing industri. Apalagi holding migas telah resmi didirikan dengan tujuan untuk mendorong efisiensi penyediaan gas industri dan PGN tengah memproses akuisisi Pertagas.

"Kalau setelah merger masih bicara soal sumber dan harga setiap daerah yang berbeda, maka apa maksud merger itu?Sudah tak jelas lagi karena hanya menguntungkan pihak tertentu tanpa ada esensi yang menambah nilai daya saing industri dari merger tersebut," paparnya.

Dia optimistis, harga gas di Sumut berpotensi turun apabila Pertagas mendapat porsi yang dominan dalam penyediaan pasokan gas mulai dari hulu hingga ke hilir.

"Kalau pipa gas open access, sehingga Pertagas dapat menjual langsung ke konsumen, maka harga gas akan bisa drop USD1/mmbtu," katanya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya