Batam Tangkap Peluang di tengah Perang Dagang AS-China

Oleh: Sarma Haratua Siregar 16 April 2018 | 20:13 WIB
Suasana pembuatan kapal di galangan kapal Batam, Senin (5/2/2018)./ANTARA-Wahyu Putro A

Bisnis.com, BATAM – Batam harus mampu memanfaatkan momentum yang tercipta akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Sejumlah peluang menggaet investor baru terbuka lebar, termasuk mendorong komoditas ekspor Batam ke pasar Amerika.

Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo mengungkapkan sejumlah peluang yang bisa diambil Batam di tengah perang dagan kedua raksasa ekonomi dunia tersebut. salah satunya adalah kemungkinan menggaer investasi baru untuk masuk ke Batam.

Menurut Lukita, sejumlah investor di Tiongkok, terutama yang orientasi produknya untuk ekspor ke Amerika berencana mengalihkan investasinya di negara-negara lain. Pasalnya kebijakan negara Paman Sam membuat ekspor produk dari Tiongkok ke negara tersebut terhambat.

Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang disasar investor dari Tiongkok. Kawasan ini dianggap lebih kompetitif dengan arus perdagagan yang lebih memadai dibanding kawasan lainnya. Tentu saja Batam akan menjadi salah satu pertimbangan yang potensial.

“Momentum ini harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” ujar Lukita.

Melihat kesempatan ini, Batam mencoba menawarkan sejumlah kemudahan-kemudahan kepada investor yang ingin masuk. Salah satu yang menjadi unggulan adalah program Izin Investasi 3 Jam (I23J), dimana investasi di atas Rp 50 miliar, atau menyerat 500 tenaga kerja bisa mengurus izin hanya dalam waktu 3 jam.

“Kami juga akan mengawal semua perizinan yang dibutuhkan hingga investor bisa merealisasikan investasinya di Batam. Batam juga sudah punya Mall Pelayanan Publik (MPP), sehingga investor akan lebih mudah mengurus perizinan,” jelas Lukita.

Masalah lahan juga menjadi fokus BP Batam agar investasi yang akan masuk tak terkendala. Dari catatan terakhir yang disampaikan BP Batam, saat ini ada 2.737 lokasi lahan tidur di seantro Batam dengan luas lahan mencapai 7.777,01 hektar.

Dia mendorong pengusaha proaktif mengusahakan lahan yang sudah dialokasikan agar lebih produktif. Jika kekurangan modal, BP Batam akan membantu mencari jalan keluar, termasuk mengkolaborasikan penerima alokasi lahan dengan investor asing yang hendak masuk.

"Kalau tidak ada biaya untuk membangun, kita carikan solusi bersama-sama. Apakah harus join dengan investor lain atau seperti apa," jelasnya.

Industri di Batam juga melihat perang dagang antara raksasa ekonomi ini menjadi peluang. Beneral Managere Affair Batamindo Cakrawala Investmen Tjauw Hoeing menilai, industri Batam berkesempatan mengisi kekosongan komoditas akibat perang dagang kedua negara.

“Kita melihat ini sebagai peluang bagi industri Batam. Ketika bnyak produk dari Cina yang terkena dampak dari perang dagang, dapat dimanfaatkan oleh manufaktur yang plantnya ada di Batam. Jadi mereka dapat bagian,” jelas Ayong.

Investor-investor di Cina yang orientasi pasarnya adalah Amerika disebut-sebut sedang berupaya menari daerah investasi baru. Menurut Ayong, momentum ini harus dimanfaatkan untuk menarik investais-investasi baru ke Batam.

Namun dia menegaskan, Batam harus mampu menjaga iklim investasinya. Saat ini sejumah kawasan di Asia Tenggara juga menangkap peluang tersebut dan mempersiapkan sejumlah fasilitas untuk menyambut peluang besar tersebut.

Jika Batam tak mampu memberikan penawaran lebih baik, baik dari sisi keamanan dan kenyamanan, maupun fasilitas insentif fiskal dan non fiskal, maka investasi-investasi potensial akan lari ke kawasan lain di Asean.

“Kita jangan sampai kehilangan momentum ini,” jelasnya.

Dia menilai Batam sudah punya sejumlah keunggulan seperti fasiltais I23J dan Kemudahan Izin Langsung Konstruksi (KILK) di beberapa Kawasan Industri. Ditambah lagi kemudahan perizinan di MPP, dan program Online Single Submision (OSS) yang akan segera diluncurkan.

Namun pemerintah perlu segera mensosialisasikan kebijakan insentif fiskal dan non fiskal yang baru saja selesai dibahas. Sebut saja seperti revisi Tax Holiday dan Tax Allowance yang digadang-gadang mampu emnarik ivenstasi baru ke Indonesia.

“Revisi ini perlu di sosialisasikan lebih gencar lagi. Supaya investor uamg eksisting maupun prospect mengerti betul tentang manfaat yang akan mereka dapatkan,” saranya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya