Bank Sumut Rintis Terobosan Tingkatkan Layanan

Oleh: Juli E.R. Manalu 28 Maret 2018 | 23:20 WIB
Bank Sumut Rintis Terobosan Tingkatkan Layanan
Gedung Bank Sumut/banksumut.com

Bisnis.com, MEDAN— PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Bank Sumut) melakukan sejumlah terobosan demi meningkatkan kualitas pelayanan terhadap nasabah.

Bank yang berpusat di Ibu Kota Sumatra Utara ini baru saja menyelesaikan proses peningkatan sistem sebagai persiapan peluncuran produk kartu debit yang akan dilakukan pada semester ini.

“Kartu debit ia, kemarin kami menungu upgrading sistem, sekarang sudah selesai. Saya rasa kalau kartu debit ini disemester ini juga,” kata Eddie Rizliyanto, Selasa (28/3/2018).

Peluncuran kartu debit Bank Sumut ini diharapkan bisa meningkatkan kenyamanan dan transaksi, khususnya pengalaman berbelanja nasabah.

Pasalnya, selama ini, Bank Sumut hanya mengeluarkan produk kartu berupa kartu ATM yang hanya bisa digunakan untuk bertansaksi di ATM.

Seiring dengan penerbitan produk kartu debit ini, pihaknya akan secara perlahan menerapkan penggunaan chip demi menjaga keamanan transaksi seluruh nasabah. Adapun untuk nasabah eksisting yang masih menggunakan kartu ATM, tidak perlu khawawtir dan bisa menggunakan kartu yang ada untuk bertransaksi di merchant.

“Kalau kita nanti menerbitkan kartu debit, kita sudah pakai yang chip, chip kan lebih aman. Cuma untuk keamanan [migrasi kartu eksisting ke debit] nanti bertahap kita, karena kan investasi lagi itu,” katanya.

Selain melakukan peningkatan sistem, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan jaringan ATM Prima guna memperluas jangkauan jaringan ATM. Selama ini, Bank Sumut telah bekerja sama dengan jaringan ATM bersama.

“Jadi, MoU dengan Jaringan Prima itu memperluas akses kami ke ATM bank- bank lain. Saat ini kan kita pakai ATM bersama, tapi prima juga bisa, ini lah cikal bakal kita untuk kartu debit. Jadi misalnya kita belanja kita bayar pakai kartu bank sumut sudah bisa,” tambahnya.

Selain meluncurkan produk berupa kartu debit, pihaknya juga berencana untuk mengadopsi penggunaan QR Code dan biometrik untuk melayani transaksi nasabah baik untuk pembayaran, penarikan uang tunai, dan lain-lain.

Pasalnya, menurut Eddie, penggunaan kartu sebagai sarana transaksi secara masif hanya akan bertahan hingga sekitar lima tahun ke depan. Bank-bank yang ada, katanya akan semakin enggan untuk mengucurkan investasi untuk pengadaan kartu juga mesin electronic data capture (EDC) yang mamakan biaya besar.

“Bisnis bank itu, ke depannya, nggak mau lagi dia investasi di dalam perangkat-perangkat misalnya kartu, kemudian edc. Jadi dia apa digunakannya? ini karena kemajuan teknologi ini QR code. Dia pakai itu nanti buat pembayaran ya,” jelasnya.

Dengan penggunaan QR code, biaya investasi akan berpindah ke pihak nasabah dalam bentuk ponsel pintar milik mereka.Adapun untuk pengganti mesin edc, bank hanya perlu mengeluarkan pmflet yang menerakan barcode untuk di scan menggunakan ponsel pada saat akan melakukan transaksi.

Sementara untuk transaksi di ATM, menurut Eddie, fungsi kartu akan digantikan oleh pemindai biometrik yang dipasang pada mesin ATM. Sehingga pada saat akan melakukan transaksi, nasabah hanya perlu memasukkan pin yang dilanjutkan pemindaian biometrik. Adapun karakteristik bilogi terukur (biometrik) yang berpotensi dimanfaatkan adalah pemindaian sidik jari.

“Kalau [investasi untuk] thumb print lebih murah kan [dibandingkan karakteristik bilogi lainnya]. Mungkin nggak nggak terlalu lah untuk investasi, tapi EDC udah akan nggak ada lagi, hilang,” katanya.

Sama seperti peluncuran produk kartu debit, Bank Sumut juga berharap bisa menyediakan layanan berbasis QR Code tahun in lah, tahun ini.

Selain Bank Sumut, menurut Eddie yang juga Sekretaris Jenderal Asosiasi Bank Daerah (Asbanda), bank-bank daerah lainnya juga berniat untuk mengadopsi teknologi keuangan ini. Namun, mereka juga masih sedang menunggu hasil uji coba yang dilakukan Bank DKI guna meminimalisir kekurangan-kekurangan yang mungkin ada.

“Kemarin kita (Asbanda) ada rapat, semua anggota Asbanda sudah bilang, pak kami copy semua. Cuma bank DKI meminta sabar, karena sedang uji coba. Nanti kalau sudah di-copy tapi nggak puas kan nggak enak. Jadim, tahun ini lah,” jelasnya.

Dihubungi secara terpisah, General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Martha mengemukakan pendapat yang tak jauh berbeda.

Menurutnya, penggunaan fisik kartu dalam sistem pembayaran merupakan sebatas instrumen atau media untuk identifikasi atau otentifikasi pengguna yang bisa saja diganti dengan instrumen lain seperti aplikasi, QR Code, dan biometrik.

“Kenapa kartu digunakan, ya karena memang dari zaman dulu itu teknologi ini [Aplikasi, QR code, dan lainnya] belum ada, jadi masih memerlukan fisik. Nah ke depannya, saya setuju juga bahwa posisi kartu ini akan semakin lama semakin berkurang lah,” katanya.

Namun, diapun meyakini keberadaan fisik kartu sebagai sarana pembayaran tidak akan sepenuhnya hilang sama seperti penggunaan telepon rumah atau fixed line yang memang semakin jarang tetapi masih terus digunakan.

Steve menambahkan, peralihan secara drastis dari penggunaan kartu ke sejumlah teknologi terbaru ini baru akan terlihat dalam lima tahun ke depan. Sementara untuk kartu benar-benar hampir mengilang masih akan terjadi lebih dari 10 tahun ke depan.

Dia pun mengamini jika investasi yang harus dikucurkan untuk teknologi ini memang akan lebih murah, khususnya untuk aplikasi berbasisi QR. Namun, di sisi lain, untuk aplikasi dengan tingkat keamanan yang tinggi bisa jadi biaya yang diperlukan juga akan tinggi.

Sementara itu, untuk penggunaan biometrik sebagai sarana otentifikasi pengganti kartu, dana yang dibutuhkan bisa jadi lebih mahal dari aplikasi atau hampir menyamai investasi untuk kartu.

“Harganya, nilainya akan lebih murah tetapi apakah keamanannya bisa sustainable dibandingkan dengan biometrik karena kan biometrik harganya akan lebih mahal ataupun sama dengan kartu. Jadi kalau menurut saya ada dua hal yang akan dilihat, satu adalah kenyamanan dan kemudahan, kedua adalah keamanannya, kalau keamanan ini balik lagi tergantung nilainya, harganya,”paparnya.

Meski demikian, dia berpendapat, tidak menutup kemungkinan seiring dengan semakin masifnya penggunaan teknologi dalam urusan keuangan ini, maka harga yang dibutuhkan untuk mendapatkan produk berkualitas dengan mutu keamanan tinggi juga akan semakin murah.

REGULASI

Untuk menunjang keamanan dan kenyamanan penggunaan aplikasi, QR Code dan biometrik ke depannya, menurut Steve dibutuhkan perubahan atau pembuatan regulasi baru guna melindungi hak dan kenyamanan bertransaksi nasabah.

Untuk itu, dia mengimbau agar baik pemerintah dan bank selaku operator bisa membuat kebijakan yang tepat agar masyarakat berani beralih dan tidak dirugikan

”Bagaimana menjaga supaya masyarakat itu tidak dirugikan atau masyarakat itu dijaga, satu dari keamanan dan kedua dari hak-haknya. Jadi kalau misalkan ada tiba-tiba transakasi yang nasabah merasa tidak menggunakan terus kemudian langsung otomatis ini di charge ke customer, customer akan takut,” katanya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya