Bisnis.com, MEDAN - Sejumlah pedagang di Pasar Pringgan Medan ditemukan masih menjual Minyakita rata-rata di harga Rp18.000 per liter jelang Ramadan hari ini, Jumat (28/2/2025).
Padahal, sidak di tiga pasar lain di Medan yang dilakukan tim gabungan Polda Sumut, Pemprov Sumut, Bulog, hingga Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada Rabu (26/2/2025) menemukan harga jual Minyakita dari pedagang ke konsumen sudah turun ke level Rp16.000 per liter.
Sedangkan harga eceran tertinggi (HET) untuk Minyakita ditetapkan Pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Dari pengakuan salah seorang pedagang di Pasar Pringgan, harga jual Minyakita ke konsumen yang menyentuh Rp18.000 per liter sudah berlangsung sejak akhir tahun lalu.
Mereka menyebut membeli Minyakita ke distributor dengan harga hampir Rp17.500 per liter. Hal itu membuat pedagang tak bisa menjual Minyakita ke konsumen sesuai HET yang ditetapkan lewat Permendag Nomor 18 tahun 2024 tersebut.
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah I Ridho Pamungkas mengatakan Minyakita menjadi salah satu produk yang terus dipantau KPPU lantaran harganya bertahan mahal di atas HET dalam waktu yang cukup lama.
Baca Juga
Apalagi jelang Ramadan, di mana tahun-tahun sebelumnya kerap terjadi peningkatan harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat, termasuk minyak.
Ridho mengatakan, saat sidak ke sejumlah pasar tradisional di Medan yakni pasar Simpang Limun, pasar Halat, dan pusat Pasar akhir Januari lalu, pihaknya menemukan harga jual Minyakita di tingkat pedagang sebesar Rp17.000 per liter.
Sedangkan dalam sidak tim gabungan kemarin ke Pasar Sei Sikambing, Pasar Petisah, dan Pusat Pasar, lanjutnya, pedagang mengakui telah menjual Minyakita di harga Rp16.000 per liter.
Merespos harga Minyakita yang masih dijual pedagang di Pasar Pringgan, Ridho menyebut akan melakukan pemanggilan kepada para produsen Minyakita dalam waktu dekat.
"Dari sidak sebelumnya, kami setidaknya sudah dapat cerminan harga di pasar. Besok kami akan ada rapat di Disperindag Sumut. Pelaku usaha juga diundang, termasuk produsen Minyakita," kata Ridho saat dihubungi Bisnis, Jumat (28/2/2025).
Ridho tak menampik kemungkinan akan diadakan sidak lanjutan untuk mengecek perkembangan harga komoditas, baik ke pedagang di pasar tradisional, distributor, maupun ke hulu (produsen/ kilang padi).
Pemanggilan produsen Minyakita, disebutnya akan dilakukan beriringan untuk mendalami penyebab harga Minyakita di Sumut yang bertahan di atas HET.
"Bisa jadi berikutnya kami akan sidak lagi. Karna yang krusial itu saat jelang Ramadan dan menjelang lebaran. Ini di samping kami memanggil para produsen juga," katanya. (K68)