Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Momen Lebaran, Penumpang Pesawat di Sumut Turun 7,79%

Dishub Sumatra Utara (Sumut) menyebut angka penumpang angkutan udara pada masa angkutan Lebaran 2024 turun hingga 7,79% dibanding tahun 2023.
Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, MEDAN - Dinas Perhubungan (Dishub) Sumatra Utara (Sumut) menyebut angka penumpang angkutan udara pada masa angkutan Lebaran 2024 turun hingga 7,79% dibanding tahun 2023.

Penurunan itu tercatat oleh Posko Induk Monitoring Dishub Sumut terhitung selama rentang H-7 (3/4/2024) sampai H+2 (13/4/2024).

Kepala Dishub Sumut Agustinus Panjaitan mengatakan, selama periode arus mudik dan balik tersebut jumlah penumpang pesawat di Sumut sebanyak 243.454 orang atau turun 7,79% dari tahun lalu.

Penurunan jumlah penumpang juga berdampak pada berkurangnya jumlah penerbangan (flight). Tercatat ada 1.714 penerbangan di Sumut selama periode tersebut atau turun 11,88% (yoy).

"Kami sebelumnya memprediksi angkutan udara ini akan naik sekitar 2%. Namun tercatat justru menurun," kata Agustinus, Rabu (17/4/2024).

Ia menampik penurunan penumpang angkutan udara ini berkaitan dengan harga tiket pesawat yang biasanya melonjak pada momen Idulfitri.

Menurutnya, harga tiket pesawat saat momen mudik dan balik Lebaran memarin masih di bawah Tarif Batas Atas (TBA) yang ditetapkan pemerintah. Penurunan terjadi lantaran demand dari masyarakat juga menurun.

"Beberapa waktu lalu kami mengunjungi tower ATC (air traffic controller) bersama Angkasa Pura. Memang, untuk jumlah penerbangan itu turun. Lebaran tahun lalu bisa menyentuh 200 flight per hari. Tahun ini satu hari rata-rata 172 flight," tambahnya.

Adapun Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha Kantor Wilayah I (KPPU Kanwil I) Sumut Ridho Pamungkas menyebut sejauh ini pihaknya belum menemukan adanya pelanggaran batas tarif tiket oleh maskapai di Sumut.

Pada arus balik ini, Ridho mengatakan tingginya permintaan balik dari Medan menuju Jakarta menggunakan maskapai low cost carrier menyisakan penerbangan dengan harga subclass tertinggi.

"Harganya nyaris Rp2 juta, sementara di hari normal kita masih bisa mendapatkan tiket jenis tersebut di harga Rp1,3 juta. Sedangkan untuk maskapai full cost seperti Garuda dan Batik Air, dijual di harga sekitar Rp2,3 juta. Tarif ini juga terhitung belum melanggar ketentuan tarif batas atas," kata Ridho saat dihubungi Bisnis, Rabu (17/4/2024).

Kendati, lanjutnya, KPPU Kanwil I akan mendalami kebijakan pengalokasian subclass oleh maskapai pada momen Idulfitri ini. (K68)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Delfi Rismayeti
Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper