Jelajah UMKM: Tenun Wan Fitri Diminati Generasi Muda, Sekaligus Lestarikan Budaya di Era Digital

Pengembangan pasar ini tidak lepas dari digitalisasi mulai media sosial seperti facebook dan instagram, hingga menjual di berbagai platform marketplace.
Wan Mirdayati tengah melihat hasil kain Tenun Wan Fitri (TWF)./Istimewa
Wan Mirdayati tengah melihat hasil kain Tenun Wan Fitri (TWF)./Istimewa

Bisnis.com, PEKANBARU — Rumah Tenun Wan Fitri (TWF) telah berdiri dan dijalankan sejak 1965 silam oleh Hj Mursidah. Usaha tenun dan songket Melayu itu kini diteruskan oleh generasi kedua yakni Wan Mirdayati sejak 1985, dan diberi nama Wan Fitri sesuai nama putri bungsunya.

Pada 1993, songket khas Riau mulai dilirik oleh banyak kalangan, karena dianggap menarik untuk dijadikan oleh-oleh di saat masih sedikitnya buah tangan dari Bumi Lancang Kuning kala itu. 

“Awalnya, memang orang tua saya menjadikan usaha tenun songket ini sebagai usaha sampingan. Mengisi waktu luang mereka menenun kain sesuai pesanan, tapi karena ada potensi songket dijadikan oleh-oleh kami melihat peluang itu,” ujar Wan Mirdayati, Rabu (22/11/2023).

Saat ini Rumah Tenun Wan Fitri telah memproduksi beberapa motif kain songket seperti pucuk rebung, tampuk manggis, siku keluang, siku awan, lebah bergayut, wajik bintang dan lain-lain. Selain unik, motif-motif songket ini memiliki nilai filosofisnya masing-masing. 

Misal, motif pucuk rebung, bermakna kesuburan, kemakmuran dan keteguhan. Tampuk manggis, bermakna kasih sayang, Siku awan bermakna kelembutan, setia kawan dan persatuan. Motif lebah bergayut bermakna kekompakan dan kerja sama.

Wan Mirdayati menyebut produk kain tenun tidak cuma sebatas pelengkap baju kurung (pakaian khas Melayu), tapi sudah menjadi bagian penentu dalam perkembangan fashion di Tanah Air, khususnya di Bumi Lancang Kuning.

Dengan besarnya potensi itu, Rumah Tenun Wan Fitri dilirik Bank Indonesia dan menjadi mitra sebagai UMKM binaan bank sentral tersebut sejak 2019 silam. Diakuinya memang ada banyak perubahan yang dirasakan setelah menjadi mitra binaan BI Riau.

“Banyak perubahan yang terasa sejak kami bergabung dengan BI sebagai UMKM binaannya. Dari sisi pemasaran dulu kita kebingungan cari pasar. Tapi sekarang, kita kebingungan untuk memenuhi permintaan pasar. Order datang dari mana-mana, malah kita yang dikejar-kejar konsumen,” ujarnya.

Dia menguraikan pada tahap awal TWF dilibatkan secara langsung dalam berbagai latihan, seperti strategi pemasaran, packaging, kualitas produk, hingga pengembangan pasar secara digital. Keterlibatan BI diakuinya memberikan dampak yang besar terhadap usaha tenun songket yang dia geluti. Terlebih lagi, TWF sering dilibatkan berbagai ajang pameran bergengsi di skala daerah, nasional dan internasional.

Pada sejumlah kesempatan pelatihan BI yang digelar beberapa tahun lalu, penyelenggara selalu menghadirkan kurator profesional di bidangnya, untuk berbagi pengalaman dan menambah pengetahuan para pelaku UMKM termasuk TWF. Hasil koreksi itu kemudian memberikan perubahan yang besar terutama dalam hal perluasan pasar. Misalnya, untuk produk tenun TWF ini produk yang dihasilkan harus disesuaikan dengan permintaan pasar dan menyasar semua kalangan termasuk generasi muda.

Sejak itu, pihaknya mulai melakukan evaluasi terhadap bahan baku pembuatan tenun songketnya. Jika awalnya kualitas benang yang dipakai menghasilkan kain bertekstur kasar dan panas, lalu diganti dengan benang katun, sehingga kain yang dihasilkan jadi lebih lembut dan nyaman dikenakan.

Selain benang, koreksi juga dilakukan dari sisi warna. Awalnya, kain songket produksi rumah tenun ini identik dengan warna mencolok dan gelap, kini disesuaikan dengan warna-warna lembut dan lebih disukai oleh kalangan muda milenial.

“Termasuk dari sisi motif tenunnya juga kita koreksi. Kalau dulu, hasil tenun itu cenderung monoton. Setelah mendapatkan banyak pelatihan dari BI, kita sesuaikan motif dan dikombinasikan dengan produk kekinian. Jika dulu tenun songket itu identik dengan benang emas dan warna dasarnya yang gelap, sekarang kita sesuaikan lagi warna lembut dan, alhamdulilah diterima pasar,” ujarnya.

Saat ini TWF memiliki sekitar 10 unit mesin tenun, dengan jumlah produksi sekitar 200 lembar kain tenun dalam sebulan. Omset yang diraih rata-rata per bulan berkisar dari Rp40 juta-Rp60 juta. Pasar yang ditarget pihaknya yakni para turis, instansi pemerintahan, komunitas bahkan masyarakat umum yang banyak menjadikan tenun songket sebagai bahan utama seragam keluarga. 

Memang diakuinya kontribusi dari pengembangan pasar ini, tidak lepas dari peran digitalisasi mulai dari memanfaatkan media sosial seperti facebook dan instagram, hingga menjual di berbagai platform marketplace. Efeknya yang terjadi misalnya sudah beberapa kali pihaknya pernah menjual ke pelanggan di luar negeri yaitu di Malaysia dan Singapura.

Guna menyasar segmen generasi muda dan pasar yang lebih luas, TWF telah berkolaborasi dengan para desainer lokal dan nasional. Tahun 2022 misalnya, kain tenun songket produksi TWF tampil dalam fashion show di Jakarta, dan laku terjual. Sinergi yang dibangun ini tidak cuma untuk perluasan pasar, tapi juga memberikan warna baru terhadap produk, dengan sentuhan inovasi dan kreativitas.

“Mereka selalu memberi kita masukan, apa yang harus ada, bagian mana yang harus ditonjolkan. Semuanya kita dapatkan dengan kolaborasi. Karena binaan BI itukan banyak, ada yang bidang desainer juga. Nah, kita dipertemukan dan membahas apa yang bisa dikolaborasikan,” ungkapnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Riau, Muhamad Nur mengungkapkan ada tiga capaian yang menjadi sasaran BI terhadap pengembangan dan pembinaan UMKM di daerah yakni meningkatkan kualitas produk, membuka ruang pasar yang lebih luas, dan onboarding.

Menurutnya BI hadir dengan memberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan secara berkala, menjadi penghubung untuk berkolaborasi, hingga menjadi bagian dalam mendorong UMKM binaan agar mampu beradaptasi dengan dunia digital. “Ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain, sekaligus menjadi kunci bagi UMKM untuk tetap bisa tumbuh dan berkembang,” katanya.

Di berbagai kegiatan pelatihan, BI selalu menghadirkan pemateri profesional di bidangnya, untuk memberikan koreksi, pencerahan, dorongan hingga ide-ide segar. Sehingga para pelaku UMKM secara berkelanjutan dapat memperbaiki kualitas produk mereka sesuai dengan kebutuhan pasar.

Selain itu, pengenalan dan pendalaman materi terkait digital marketing turut jadi bagian penentu dalam hal perluasan pasar. Hal ini menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan untuk mewujudkan UMKM yang go digital dan go internasional. 

“Saat ini, ada banyak UMKM di Riau yang sudah berhasil memanfaatkan peluang itu dan produk mereka diperhitungkan, bahkan dalam skala nasional hingga internasional,” pungkasnya.

Konten ini merupakan bagian dari pemberitaan Program Jelajah UMKM Riau yang didukung oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, dan Bank BRI Regional Pekanbaru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Arif Gunawan
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper