Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tarif Pengiriman Kontainer di Batam Naik, Begini Respons Pengusaha

Kalangan pengusaha di Batam memprotes kenaikan tarif pengiriman kontainer rute Batam-Singapura.
Kegiatan Bongkar muat kontainer di Pelabuhan Batu Ampar, Selasa (8/9/2020)./Bisnis-Bobi Bani.
Kegiatan Bongkar muat kontainer di Pelabuhan Batu Ampar, Selasa (8/9/2020)./Bisnis-Bobi Bani.

Bisnis.com, BATAM - Kalangan pengusaha di Batam mengajukan protes atas kenaikan biaya logistik, berupa tarif pengiriman kontainer rute Batam-Singapura.

Kenaikan tersebut ternyata sudah dialami sejak 2022 lalu hingga tahun ini, dengan rentang kenaikan 6-14 persen untuk kontainer berukuran 20 feet dan 8-11 persen untuk kontainer 40 feet.

Selain kenaikan tarif tersebut, pengusaha juga memprotes rencana kenaikan tarif bongkar muat di pelabuhan bongkar muat di Batam.

"Para pelaku usaha di Batam baru-baru ini menemukan kenaikan tarif kontainer yang signifikan sejak 2021 sampai sekarang. Kami tidak paham mengapa ada kenaikan tersebut dan juga belum mendapat sosialisasi apapun terkait kenaikan tarif tersebut," kata Ketua Asosiasi Pengusahaan Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, Minggu (2/7/2023).

Berdasarkan data yang diterima Bisnis, tarif kontainer 20 feet pada 2021 adalah US$470. Pada 2022, tarifnya naik 6 persen menjadi US$500 dan terakhir naik 14 persen menjadi US$570 pada tahun ini.

Sementara itu, untuk tarif kontainer 40 feet pada 2021 sebesar US$665, lalu naik 8 persen menjadi US$720 dan terakhir naik 11 persen menjadi US$800 pada tahun ini. Tarif tersebut berasal dari perusahaan forwarder atau ekspedisi.

"Banyak yang tahu kalau tarif kontainer di Batam jauh lebih mahal dibanding daerah lain. Sehingga jika tiap tahun naik, maka akan menambah beban bagi investor dan pelaku usaha di Batam. Akibatnya daya saing Batam sebagai daerah tujuan investasi akan menurun, investor pun malas berinvestasi," ujarnya.

Persoalan tarif kontainer yang mahal ini sudah lama disuarakan oleh dunia usaha di Batam. Rafki menyebut tarif kontainer dari Tanjung Priok, Jakarta menuju luar negeri jauh, dengan jarak ratusan hingga ribuan kilometer jauh lebih murah dari Batam-Singapura yang hanyak berjarak 22 km. Namun hingga saat ini, belum ada solusi konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.

Di saat tarif kontainer mengalami kenaikan, Badan Pengusahaan (BP) Batam juga berencana melakukan penyesuaian tarif bongkar muat kontainer di Pelabuhan Batuampar.

"Ini akan membuat tarif kontainer di Batam semakin mahal lagi. Tanpa kenaikan tarif bongkar muat saja, kami sudah menemukan kenaikan tarif secara diam-diam," ujarnya.

Rafki menduga masih ada biaya-biaya siluman yang masih harus dibayar pelaku usaha di pelabuhan, sehingga tarif kontainer sangat susah diturunkan di Batam.

"Kami berharap BP Batam mau membersihkan pelabuhan dari oknum-oknum yang bermain mencari keuntungan pribadi dari mahalnya tarif kontainer. Kami siap membantu, karena kalau seperti ini Batam akan susah maju," paparnya.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepulauan Riau (Kepri), Achmad Makruf Maulana, mengatakan kenaikan tarif kontainer sangat menghambat pertumbuhan dunia usaha di Batam.

"Saya minta BP Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam jangan cuma membangun infrastruktur, tapi juga memperhatikan dunia usaha. Kenaikan tarif kontainer justru akan mencekik dunia usaha," ujar Makruf..

Dia melihat kenaikan tarif kontainer ini berasal dari perusahaan forwarder, sehingga meminta BP Batam untuk menjadi penengah dalam persoalan ini, agar tidak ada lagi situasi yang kontra produktif dengan dunia usaha di Batam.

"Kami melihat dari tahun ke tahun, tarif terus naik tanpa ada yang bisa mengendalikan. Regulator harus hadir apabila ada persaingan tidak sehat dan membuat biaya industri semakin tinggi," ungkapnya.

Sementara itu, mengenai rencana BP Batam yang mau menaikkan tarif bongkar muat kontainer di pelabuhan, Makruf berpendapat bahwa sebelumnya BP Batam melakukan cost benefit analysis terhadap rencana tersebut.

Menurutnya dengan kehadiran STS Crane dan Autogate System di Pelabuhan Batuampar, seharusnya merupakan bentuk peningkatan layanan untuk menekan ongkos logistik, bukan sebaliknya membuat tarif lebih mahal.

"Seharusnya BP Batam sebagai regulator dan operator bisa menerapkan tarif yang lebih kompetitif, tapi tidak memberatkan pelaku usaha. Bukan sebaliknya malah membuat tarif makin tidak kompetitif, sementara perbaikan kualitas layanan pasca kehadiran STS Crane belum terbukti," ucapnya.

Dia kemudian melanjutkan, pengelola pelabuhan di dunia saat ini berlomba memberikan insentif berupa tarif dan fasilitas layanan modern, yang bertujuan untuk mengurangi dwelling time.

"Ketika pengelola berinvestasi crane yang semakin canggih dan efisien, maka diharapkan arus volume kontainer smakin tinggi, bukan sebaliknya malah tarif dinaikkan yang bisa berujung kenaikan ongkos logistik dan harga barang kepada konsumen akhir," paparnya.

Namun, tidak semua pihak juga menolak kenaikan tarif kontainer ini. Aliansi Maritim Indonesia (ALMI) malah mendukung langkah BP Batam untuk melakukan penyesuaian tarif bongkar muat pelabuhan di Batam.

Ketua ALMI, Osman Hasyim, mengatakan rencana kenaikan tarif sudah tepat, karena tujuannnya untuk peningkatan perawatan, pelayanan dan pembangunan infrastruktur pelabuhan ke depan.

"Hal itu memang sudah wajar. BP Batam sudah terlalu baik, sejak berdiri sampai saat ini masih terus memberikan subsidi agar biaya pelabuhan murah. Justru hal ini kontraproduktif menurut pandangan saya," ucapnya.

Osman melihat investasi negara atas kemajuan industri di Batam, sudah sangat besar. Sehingga, sudah seharusnya negara mendapatkan pendapatan yang memadai.

"Pelabuhan itu sudah ditetapkan sebagai pelabuhan komersial. Artinya pelabuhan juga harus beroperasi dengan cara komersial. Bukankah dalam menetapkan tarif sudah ada alat ukurnya? Dilihat dari satu aspek saja, menurut saya harga yang ditetapkan jauh di bawah standar atau sangat murah. Ini malah tidak sehat. Padahal, yang kita inginkan semuanya sehat," ujar Osman.

Terpisah, Direktur Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BP Batam, Dendi Gustinandar mengatakan BP Batam memang berencana melakukan penyesuaian tarif bongkar muat kontainer dalam waktu dekat.

"BP Batam masih menggunakan peraturan lama dari tahun 2012. Kami memang ada rencana penyesuaian dengan melihat kondisi 11 tahun belum ada perubahan," kata Dendi.

Meski tarif bongkar muat akan segera berubah, tapi Dendi berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan pelabuhan.

"Tarif [bongkar muat] di pelabuhan berubah karena kami ingin meningkatkan pelayanan dan infrastruktur," ucapnya.

Mengenai kenaikan tarif pengiriman kontainer, Dendi melihat bahwa hal tersebut murni urusan business to business (B to B).

"Kami di BP Batam hanya buat tarif [bongkar muat]," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait, mengungkapkan bahwa BP Batam akan segera mengundang stakeholder terkait untuk membahas rencana kenaikan tarif bongkar muat, sekaligus persoalan kenaikan tarif pengiriman kontainer.

Dia menjelaskan bahwa perusahaan forwarder pasti memiliki alasan untuk menaikkan harga tarif pengiriman kontainer, misalnya karena terdapat komponen harga yang nilainya terus meningkat, seperti SDM, bahan bakar dan lainnya.

"Kami juga akan menjelaskan mengenai komponen harga [tarif bongkar muat] dari BP Batam dalam diskusi terbuka tersebut," ungkapnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper