Pengetahuan Warga Sumbar Soal Pasar Modal Meningkat, Ini Penyebabnya

Meningkatnya investor pasar modal di Sumbar tidak terlepas dari peran digitalisasi sehingga memudahkan dalam melakukan edukasi ke masyarakat secara luas.
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11/2022)./Bisnis-Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11/2022)./Bisnis-Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, PADANG — Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan digitalisasi berperan penting dalam pertumbuhan pasar modal di Provinsi Sumatra Barat.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumbar Early Saputra mengatakan melihat pada kondisi hingga Oktober 2022 terdapat 140.162 SID (Single Investor Identification) di Sumbar.

Menurutnya angka tersebut mengalami peningkatan cukup besar bila dibandingkan tahun 2021 lalu 106.528 SID.

Early menjelaskan meningkatnya investor pasar modal di Sumbar, tidak terlepas dari peran digitalisasi, sehingga memudahkan dalam melakukan edukasi ke masyarakat secara luas.

"Digitalisasi ini turut mempermudah akses bagi masyarakat untuk belajar dan mengetahui tentang investasi saham. Di Sumbar merasakan betul adanya peran digitalisasi itu," katanya, Jumat (25/11/2022).

Salah satu contoh, di Kabupaten Solok Selatan, Early menjelaskan, banyak masyarakat di sana yang ternyata telah ikut investasi saham. Padahal BEI belum sampai melakukan edukasi ke daerah tersebut.

"Ternyata masyarakat di Solok Selatan mengaku dapat ilmu melalui zoom meetings, instagram live dan media lainnya yang mereka ikuti. Artinya digitalisasi berperan penting soal edukasi pasar modal itu," ucap Early.

Artinya dengan adanya sarana digitalisasi itu, akan semakin banyak pula yang mulai belajar dan ikut dalam investasi saham. Terutama bagi kalangan usia muda yang lebih dekat dengan digitalisasi.

Early menyebutkan di satu sisi kalau melihat tingkat pertumbuhan inklusi dalam beberapa tahun terakhir, tampak kemauan masyarakat untuk belajar dan praktik berinvestasi semakin baik.

Diakuinya butuh waktu yang cukup panjang untuk meningkatkan jumlah masyarakat Sumbar ikut pasar modal. Karena memang 140.162 SID yang tercatat kini itu, masih sedikit bila dibandingkan total penduduk di Sumbar yang mencapai 5,5 juta jiwa.

"Memang masih banyak masyarakat yang belum teredukasi. Tapi mujurnya dengan digitalisasi, semakin banyak masyarakat bahkan di pelosok daerah sudah belajar lewat zoom, instagram live, dan lain-lainnya," ujarnya.

Kini dengan didominasi oleh usia muda, maka di masa mendatang, masyarakat akan semakin banyak ikut investasi di pasar modal, karena seiring waktu berjalan yang muda sekarang akan beranjak menjadi dewasa hingga tua.

"Jika dari sekarang sudah bagus, maka kedepannya akan lebih baik. Artinya anak muda sekarang lah yang akan menjadi harapan di masa mendatang," sebut dia.

Untuk itu selama ini BEI turut mengedukasi anak muda untuk pasar modal yakni anak muda terutama mahasiswa dan siswa. Karena inklusi keuangan yang baik, dimulai dari literasi keuangan sejak dini.

Selain itu, peran digitalisasi juga dirasakan dalam proses pembukaan rekening efek, dimana masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi yang relevan.

"Dengan adanya digitalisasi, untuk membuka rekening pun bisa duduk manis di rumah atau dimana saja. Karena bisa dilakukan secara digital," tutup Early.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper