Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Melukis di Atas Sisa Potongan Kayu Bertintakan Aliran Listrik

Jarot seorang pria yang kini menjadi sorotan banyak orang, dikenal mampu tampil sebagai pelukis yang berbeda.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 04 September 2022  |  19:09 WIB
Melukis di Atas Sisa Potongan Kayu Bertintakan Aliran Listrik
Jarot tengah melukis di atas potong kayu dengan cara menggunakan aliran listrik bertegangan 2.200 watt, di Parak Laweh, Kota Padang, Sumatra Barat, Kamis (1/9/2022). - Bisnis/Noli Hendra
Bagikan

Bisnis.com, PADANG - Seorang warga di Parak Laweh, Kota Padang, Sumatra Barat, mencetuskan sebuah karya lukis dengan cara pengerjaan yang terbilang unik.

Jarot seorang pria yang kini menjadi sorotan banyak orang, dikenal mampu tampil sebagai pelukis yang berbeda. Kebanyakan orang, melukis di atas kertas dan menggunakan tinta berwarna-warni, serta dengan ukuran kuas yang beragam.

Bahkan ada pula yang butuh tempat khusus mencari inspirasi untuk mendapatkan lukisan yang bagus.

Tapi lukisan Jarot tidaklah demikian. Dari peralatan yang digunakan oleh kebanyak pelukis pada umumnya itu, tidak satupun yang digunakannya, untuk melahirkan sebuah karya lukis.

"Lukisan yang saya buat itu, saya beri nama lukisan petir. Karena gambar abstrak yang ada di lukisan itu, seperti petir yang menyambar di langit," katanya kepada Bisnis di Padang, Minggu (4/9/2022).

Pria yang berusia 60 tahun ini, menjelaskan, untuk melahirkan karya lukisan petir itu, peralatan yang dibutuhkan adalah sisa atau limbah potongan kayu, alat setrum, dan trafo listrik modifikasi dengan tegangan listrik mencapai 2.200 watt.

Sebelum Jarot melakukan setruman dengan daya listrik itu, hal yang pertama yang dilakukan membasahi permukaan kayu dengan soda minuman. Tujuan membasahi permukaan kayu itu, agar aliran listrik mampu di antarkan ke seluruh permukaan kayu.

"Air kan benda yang bisa dialiri listrik. Jadi ketika permukaan kayu sudah basah, saya langsung menyemtrumnya, dan nantinya akan muncul percikan seperti bunga api, dan api-api itu menjalar ke berbagai sisi permukaan kayu," jelasnya.

Namun untuk melakukan tahapan penyetruman ini, Jarot bilang, butuh keberanian dan ketelitian, karena sedikit saja lalai, bisa berakibat fatal yaitu bisa terkena setrum oleh tegangan listrik 2.200 watt.

Bila proses penyetruman ini berjalan lancar, maka akan menghasilkan sebuah motif yang begitu indah, seperti petir menyambar di langit.

"Setelah disetrum, dan permukaannya kayu sudah penuh motifnya, barulah dicuci dan digosok. Karena sisa pembakaran dengan aliran listrik itu, menyisakan abu, sehingga motifnya jadi tertutupi," ujar Jarot.

Apabila sudah dibersihkan, maka mahakarya hasil setrum listrik akan memperlihatkan sebuah motif petir yang begitu menawan. Prosesnya tidak berakhir di sana, biasanya Jarot akan mengajak rekannya untuk turut membantu proses pengecatan yang bertujuan untuk memberikan kesan warna.

"Memaknai motif petir ini, setiap orang bakal berbeda-beda. Jadi dengan saya berikan warna, seperti warna oranye mirip sunset. Artiya hasil motifnya menunjukan pemandangan di kala sore hari," ungkapnya.

Diakuinya untuk proses melukis dengan daya listrik itu, motifnya tidak bisa di konsep ataupun diarahkan sesuai dengan ide pelukisnya. Karena yang namanya pembakaran melalui aliran listrik itu, mengikuti kondisi kayu dan kondisi air yang ada di permukaan kayu.

Namun dari proses melukis yang dilakukan Jarot selama ini, hasilnya tidak ada yang terbuang, dan semuanya dianggap memiliki nilai yang indah untuk dipandang.

Buktinya harga jual untuk lukisan petir ini, mulai dari Rp200.000 hingga Rp3.000.000 juta per unit lukisan. Adanya rentang harga ini, karena tergantung ukuran kayu, serta motif yang ditimbulkan.

"Saya sebenarnya baru memulai lukisan petir ini kurang lebih satu bulan ini. Saya mendapat ide setelah menonton video di Youtube tentang seni pembakaran kayu. Saya merasa tertarik, saya coba dengan alat yang saya buat sendiri, ternyata hasilnya tidak mengecewakan," kata Jarot.

Begitupun soal kayu yang digunakan, Jarot mendapatkannya secara gratis dari sisa potongan kayu di tempat usaha perabotan. Dia memilah sejumlah sisa potongan kayu yang dianggap memiliki bentuk dan ukuran yang cocok untuk dijadikan media melukis.

Jenis kayu yang kebanyakan dipilih oleh Jarot ialah kayu jati. Alasan memilih kayu jati, selain memiliki nilai yang tinggi, kualitas motif dari setruman listrik lebih terlihat indah dan menawan.

"Makanya hasilnya bisa bernilai jutaan begitu, karena kayunya kayu jati, bakal bagus dan awet. Bentuk hasil jutaan itu, sudah mengkilat, karena pakai pernis," ucapnya.

Jarot menyebutkan meski seni yang tengah ditekuninya itu terbilang baru, ternyata ada seniman dari Bali yang bakal turut belajar kepadanya. Direncanakan, dalam waktu dekat, seniman dari Bali bakal berkunjung ke rumahnya.

Selain mendapat respons yang baik, rencana Jarot kedepannya untuk memiliki sebuah Toko Galeri Lukisan Petir. Dengan demikian akan lebih memudahkan memasarkan produk.

"Sampai saat ini pembeli masih bersifat lokal. Karena memang saya baru mulai. Rencana bakal dipromosikan ke berbagai media sosial. Harapan saya lukisan petir mampu menarik minat orang untuk memilikinya," sebut dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lukisan
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top