Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saluran Kemih Pasien Terjahit dan Rahim Diangkat, RS Metta Medika Sibolga Diduga Malapraktik

Riski hanya bisa pasrah. Perempuan berusia 34 tahun ini harus rela menghadapi kenyataan. Dia divonis tak bisa lagi mengandung anak karena organ rahimnya sudah diangkat. Yang jadi persoalan, Riski diduga jadi korban malapraktik
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 17 Juni 2022  |  17:36 WIB
Riski Rikawati Laoli saat dirawat di rumah sakit.  -  Istimewa
Riski Rikawati Laoli saat dirawat di rumah sakit. - Istimewa

Bisnis.com, MEDAN - Riski hanya bisa pasrah. Perempuan berusia 34 tahun ini harus rela menghadapi kenyataan. Dia divonis tak bisa lagi mengandung anak karena organ rahimnya sudah diangkat. Yang jadi persoalan, Riski diduga jadi korban malapraktik.

Riski Rikawati Laoli nama lengkapnya. Warga Desa Binasi, Kecamatan Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara ini merupakan istri dari Muhrozi, seorang guru honorer.

Petaka yang dialami Riski berawal dari operasi persalinan anak ketiganya di Rumah Sakit (RS) Metta Medika Sibolga pada Sabtu (23/4/2022) lalu. Anak ketiga mereka selamat. Namun kini Riski terpaksa harus bolak-balik ke rumah sakit demi memeroleh perawatan medis.

Dengan berlinang air mata, Muhrozi menceritakan kisah sang istri yang juga berprofesi sebagai guru honorer.

"Saat itu istri saya mau melahirkan. Jadi kami bawa ke rumah sakit di Sibolga, Metta Medika. Di situ istri saya menjalani operasi caesar," kata Muhrozi kepada Bisnis, Jumat (17/6/2022).

Operasi caesar dimulai pada Sabtu (23/4/2022) pukul 14.30 WIB. Selang sekitar 40 menit kemudian, oknum dokter berinisial J yang menangani datang dan memberi tahu Muhrozi bahwa istrinya mengalami pendarahan.

"Diberi pilihan. Rahimnya diangkat atau tidak. Katanya kalau rahim tidak diangkat maka pendarahan akan terus berlanjut. Maka itu akhirnya saya setujui," ujarnya.

Di tengah rasa gundah, Muhrozi kembali mendengar kabar buruk lainnya. Dokter J kembali datang dan memberi tahu Muhrozi bahwa istrinya dalam kondisi kritis.

"Dokter menyatakan pasien kritis dan harus memeroleh tambahan bius demi keselamatan pasien. Mendengar itu, saya kembali menyetujui," kata Muhrozi.

Dua menit berselang, dokter menyatakan bahwa Riski mengalami pendarahan total dan butuh darah golongan B+ sebanyak empat kantong. Pikiran Muhrozi pun semakin kacau.

Dengan panik, Muhrozi berjuang keras mencari pertolongan. Beruntung, dua anggota keluarga datang menjenguk dan bersedia mendonorkan darahnya. Muhrozi juga memeroleh bantuan satu kantong darah dari Palang Merah Indonesia (PMI) setempat.

"Yang kami sesalkan, mengapa sebelum masuk ruang operasi tidak ada antisipasi stok darah? Kenapa setelah pasien dinyatakan kritis baru dicari darahnya?" ujar Muhrozi heran.

Malam tiba. Riski keluar ruang operasi dan diarahkan menuju ruang Intensive Care Unit (ICU). Muhrozi akhirnya dibolehkan menemui sang istri keesokan hari. Tepatnya pada Minggu (24/4/2022) pukul 07.30 WIB.

Saat itu, Riski sudah mulai sadar. Namun kondisinya sangat lemah sehingga belum mampu berbicara.

Kejanggalan mulai dirasakan Muhrozi beberapa hari setelahnya. Riski mengaku tidak bisa kencing dan tubuhnya membengkak.

"Setelah dilakukan USG, oleh disarankan untuk cuci darah sebanyak tiga kali. Katanya untuk mengembalikan fungsi ginjal," kenang Muhrozi.

Dalam kondisi yang sudah sangat mengkhawatirkan, RS Metta Medika Sibolga akhirnya merujuk Riski ke RS Mitra Sejati Medan pada Rabu (27/4/2022). Tujuannya untuk konsultasi soal ginjal dan menjalani cuci darah.

Setibanya di RS Mitra Sejati Medan, Riski langsung memeroleh penanganan. Pada Kamis (28/4/2022) pagi, dokter datang dan melihat kondisi perempuan tersebut.

Kecurigaan Muhrozi semakin menjadi-jadi setelah mendengar penjelasan dokter bahwa istrinya tersebut tidak mengalami masalah pada bagian ginjal.

"Dokternya juga merasa kecewa karena pada isi rujukan rumah sakit sebelumnya tidak mencantumkan informasi tentang kondisi pasien sebenarnya," kata Muhrozi.

Dari RS Mitra Sejati Medan, Riski kemudian dirujuk lagi ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan pada Jumat (29/6/2022).

Di sinilah segala kecurigaan Muhrozi terjawab. Setelah melalui Ultrasonografi (USG), diketahui bahwa terjadi sesuatu pada bagian organ kantong kemih Riski. Petugas medis menduga saluran kantong kemihnya terjepit akibat jahitan.

Sebelum mengambil tindakan lebih lanjut, pihak RSUP Haji Adam Malik Medan menganjurkan agar pasien menjalani cuci darah. Tujuannya agar menormalkan fungsi ginjal.

"Kami menyetujuinya," kata Muhrozi.

Pada Minggu (1/5/2022), Riski akhirnya kembali dioperasi. Dokter berniat membuka jahitan pada bagian kantong kemih perempuan tersebut. Lagi, pihak keluarga diminta agar menyiapkan tambahan darah.

Singkat cerita, kondisi Riski semakin lemah sehingga tim dokter bersiaga. Proses penanganan memakan setidaknya 16 kantong darah golongan B+.

Perjuangan melelahkan Muhrozi akhirnya terbayar setelah kondisi istrinya membaik di RSUP Haji Adam Malik Medan.

"Setelah dilakukan perawatan intens, Alhamdulillah kondisi istri saya mulai membaik dan diizinkan dokter untuk rawat jalan," kata Muhrozi.

Atas berbagai kejanggalan yang dialaminya, Muhrozi memutuskan untuk menempuh jalur hukum. Muhrozi menunjuk Akhmad Johari Damanik sebagai pengacaranya.

Menurut Johari, mereka telah melayangkan surat somasi terhadap RS Metta Medika Sibolga sebanyak dua kali. Melalui surat itu, kuasa hukum meminta klarifikasi atas tindakan yang dilakukan oknum dokter dan rumah sakit terhadap Riski.

"Jadi kami sudah dua kali mengirim surat somasi terhadap dokter dan pihak RS Metta Medika di Sibolga," katanya.

Sementara itu, Humas RS Metta Medika Sibolga Sumiati Hutabarat tidak memberi penjelasan mengenai dugaan malapraktik tersebut.

Dia meminta agar Bisnis datang langsung ke rumah sakit untuk berkenalan.

"Kalau ada yang mau dikonfirmasi dan dibincangkan boleh saja silakan datang ke RS Metta Medika Sibolga. Keluhan pasien akan selalu kami hargai dan pelayanan yang terbaik akan kami upayakan. Mungkin lebih baik kita langsung bisa bertemu supaya kenalan juga," katanya melalui pesan singkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah sakit sumut malapraktik
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top