Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Lebaran, Permintaan Uang di Riau Naik Rp700 Miliar

Deputi Kepala Perwakilan BI Riau Bidang Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Manajemen Internal, Asral Mashuri menjelaskan tahun lalu realisasi penarikan uang tunai menjelang Lebaran mencapai Rp4,5 triliun.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 28 April 2022  |  17:04 WIB
Deputi Kepala Perwakilan BI Riau Bidang Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Manajemen Internal, Asral Mashuri (kiri) bersama Deputi Kepala Perwakilan BI Riau Maria Cahyaningtyas (kanan). BI Riau memaparkan perkembangan penyaluran uang rupiah menjelang Lebaran 2022.  - Bisnis/Arif Gunawan
Deputi Kepala Perwakilan BI Riau Bidang Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Manajemen Internal, Asral Mashuri (kiri) bersama Deputi Kepala Perwakilan BI Riau Maria Cahyaningtyas (kanan). BI Riau memaparkan perkembangan penyaluran uang rupiah menjelang Lebaran 2022. - Bisnis/Arif Gunawan

Bisnis.com, PEKANBARU -- Bank Indonesia Provinsi Riau mencatat menjelang Lebaran tahun ini, permintaan uang tunai di wilayah itu mengalami peningkatan hingga Rp700 miliar jika dibandingkan momen Lebaran tahun lalu.

Deputi Kepala Perwakilan BI Riau Bidang Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Manajemen Internal, Asral Mashuri menjelaskan tahun lalu realisasi penarikan uang tunai menjelang Lebaran mencapai Rp4,5 triliun.

"Kami prediksi tahun ini kebutuhan uang tunai jelang Lebaran mencapai Rp5,02 triliun karena tahun ini ada kebijakan cuti bersama dan diperbolehkannya mudik oleh pemerintah. Sampai hari ini Bank Indonesia Riau sudah menyalurkan Rp5,2 triliun atau naik Rp700 miliar dibandingkan tahun lalu," ujarnya Kamis (28/4/2022).

Dia mengakui adanya peningkatan permintaan uang tunai tersebut, memang didorong adanya kebijakan dibolehkannya mudik oleh pemerintah yakni dengan memberikan cuti bersama Idul Fitri selama 4 hari kerja sehingga total libur Lebaran tahun ini mencapai selama 10 hari.

Meski demikian kenaikan permintaan uang tunai itu disebut masih dalam tahap wajar dan tidak terlalu bergejolak. Bahkan dari data bank sentral diketahui tendensi aktivitas masyarakat untuk mengambil uang tunai mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Dari laporan yang diterima BI, ada beberapa bank yang menutup layanan mesin ATMnya karena memang permintaan uang tunai di wilayah itu mengalami penurunan.

"Jadi dari analisa kami permintaan uang tunai di momen menjelang Lebaran ini turun karena adanya perpindahan transaksi dari tunai menjadi transaksi elektronik atau digital," ujarnya.

Kemudian secara jenis pecahannya dari total Rp5,2 triliun yang telah disalurkan untuk kebutuhan Lebaran ini, masih didominasi oleh uang pecahan besar yakni Rp100.000 dan Rp50.000 dengan nilai penyaluran Rp4,8 triliun, dan sisanya uang pecahan kecil dengan nilai penyaluran Rp400 miliar.

Asral menambahkan untuk memudahkan masyarakat mendapatkan uang tunai selama momen Lebaran, pihaknya memiliki 3 lokasi kas titipan, dimana bank yang ditunjuk menjadi perwakilan bank sentral dalam menyalurkan uang tunai ke bank sekitarnya.

Ketiga lokasi itu adalah pertama di Kota Rengat dengan mitra Bank BNI, serta Kota Pasir Pengarayan dan Kota Selatpanjang dengan mitra Bank Riau Kepri.

Sementara untuk di Pekanbaru, BI Riau sebelumnya telah mengoperasikan mobil kas keliling di 4 titik yakni Purna MTQ, Stadion Rumbai, Stadion Utama Riau, dan Masjid Raya Annur Provinsi Riau.

Sebelumnya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau memerkirakan pertumbuhan ekonomi daerah itu sepanjang tahun ini akan tumbuh positif 3,38 persen atau sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang di angka 3,36 persen.

Kepala BI Riau Muhamad Nur menjelaskan dari pengamatan bank sentral diketahui geliat ekonomi masyarakat terus meningkat pada saat ini jika dibandingkan tahun sebelumnya.

"Dari survei yang kami lakukan diketahui saat ini permintaan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat terus meningkat diikuti masih tingginya harga komoditas unggulan kelapa sawit. Karena itu dari hitungan kami ekonomi Riau diperkirakan tumbuh 3,38 persen," ujarnya.

Menurut data Bank Indonesia ekonomi Riau 2021 tumbuh 3,36 persen, sedangkan pertumbuhan per triwulannya tahun lalu sempat mendekati 5 persen atau tepatnya di angka 4,59 persen.

M. Nur meyakini pada tahun ini ekonomi Riau akan kembali tumbuh positif bahkan lebih tinggi karena sejumlah faktor pendorong. Di antaranya realisasi vaksinasi di Riau yang cukup tinggi dimana dosis pertama sudah mendekati 100 persen, dosis kedua di angka 70 persen lebih, dan dosis ketiga atau booster masih di angka 12 persen.

Dengan kondisi tersebut aktivitas masyarakat menjadi semakin ramai berkat makin terwujudnya kekebalan kelompok dari program vaksinasi yang sudah dijalankan pemerintah.

Selanjutnya pada kuartal IV tahun ini diprediksi akan menjadi puncak pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun karena biasanya di akhir tahun anggaran, pemerintah di pusat dan daerah melakukan pembayaran berbagai kontrak dan merealisasikan anggaran sesuai target tahunan.

"Dengan beberapa kondisi itu kami meyakini ekonomi Riau akan tumbuh di rentang 3 sampai 4 persen, dan perkiraan kami bisa di angka 3,38 persen atau lebih tinggi dari tahun lalu," ujarnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia riau Mudik Lebaran
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top