Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saksi Sebut Kerabat dan Aparat Siksa Penghuni Kerangkeng Bupati Langkat

Sudah lebih dari empat eks penghuni kerangkeng maupun keluarganya yang mengajukan perlindungan kepada LPSK.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 25 Februari 2022  |  17:30 WIB
Warga membantu penghuni kerangkeng untuk melarikan diri saat petugas kepolisian datang ke kediaman pribadi Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin alias Cana di Desa Raja Tengah, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Senin (24/1/2022). - Istimewa.
Warga membantu penghuni kerangkeng untuk melarikan diri saat petugas kepolisian datang ke kediaman pribadi Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin alias Cana di Desa Raja Tengah, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Senin (24/1/2022). - Istimewa.

Bisnis.com, MEDAN - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu membeberkan informasi baru soal dugaan penyiksaan yang dialami sejumlah penghuni kerangkeng di kediaman Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin.

Edwin mengatakan, saksi yang mengajukan permohonan perlindungan ke LPSK membeberkan adanya dugaan keterlibatan oknum aparat dan juga kalangan keluarga sang bupati dalam tindakan itu.

"Itu ada keluarga dari bupati, ada oknum tertentu dan ada oknum aparat yang aktif juga melakukan kekerasan terhadap para penghuni kerangkeng itu," kata Edwin kepada Bisnis, Jumat (25/2/2022).

Sejauh ini, sudah lebih dari empat eks penghuni kerangkeng maupun keluarganya yang mengajukan perlindungan kepada LPSK. Untuk itu, Edwin mendorong penegak hukum agar segera menuntaskan perkara ini, sehingga memberi rasa aman sekaligus menghapus keraguan para korban untuk mengungkapkan perlakuan yang dialaminya.

"Mengapa sampai hari ini belum ada kejelasan siapa tersangka, tindak pidananya apa. Kemudian apa kesulitan dari proses hukum ini. Karena ini tempatnya jelas, orangnya sudah jelas. Bukan misterius," kata Edwin.

Sementara itu, juru bicara keluarga Bupati Langkat nonaktif, Mangapul Silalahi, tak menampik bahwa tindak kekerasan biasa dialami para penghuni kerangkeng, mereka menyebutnya tempat binaan.

Tindak kekerasan itu, kata dia, biasa dilakukan oleh penghuni lama terhadap mereka yang baru dijebloskan. Dengan kata lain, Mangapul menuding tindakan tersebut dilakukan antar sesama penghuni. Hal semacam ini, lanjut Mangapul, lumrah terjadi di tempat-tempat pembinaan seperti Lembaga Permasyarakatan (Lapas) maupun Rumah Tahanan (Rutan) negara.

"Kemudian ketika dimasukkan ke tempat pembinaan ada semacam, apa ya namanya, 'upacara sambutan' lah. Dan itukan bukan rahasia umum. Kita tahu persis di beberapa Rutan," kata Mangapul kepada Bisnis.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Sumatra Utara Kombes Hadi Wahyudi mengatakan, petugas akan memberi informasi soal perkembangan penanganan perkara ini. "Nanti kami update," kata Hadi kepada Bisnis, Jumat (25/2/2022).

Sejauh ini, kepolisian mendapati setidaknya tiga orang meninggal dunia selama berada dalam kerangkeng di kediaman pribadi Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin alias Cana. Selain itu, terdapat enam orang lainnya mengalami penganiayaan hingga cacat.

Dalam kasus kerangkeng ini, aparat telah memeriksa lebih dari 65 orang. Berdasar penelusuran petugas, terdapat sejumlah alat yang diduga dipakai untuk menyiksa penghuni kerangkeng. Satu di antaranya adalah selang air. Alat ini diduga dipakai untuk mencambuk mereka.

Penyidik telah melakukan pemeriksaan langsung terhadap Cana di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, pada Senin (14/2/2022). Petugas juga memutuskan untuk menggali dua kuburan eks penghuni tewas saat berada di kerangkeng tersebut. Proses ekshumasi dilakukan di lokasi makam berbeda di Kabupaten Langkat Sumatra, Utara, pada Sabtu (12/2/2022) lalu.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelanggaran ham sumut langkat
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top