Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asa Masyarakat Talang Babungo Membangun Geowisata di Ketinggian 1.400 Mdpl

Seteguk demi seteguk kopi hangat, mengiringi imajinasi bahwa Jorong Kayu Jangguik, akan menjadi sebuah desa yang mampu mengalihkan pandangan dunia.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 29 Desember 2021  |  15:28 WIB
Keindahan di kawasan Geowisata Pincuran Puti, yang berada di Jorong Kayu Jangguik, Desa Talang Babungo, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Minggu (26/12/2021). Sejumlah warga setempat mulai mendatangi Pincuran Puti. - Bisnis/Noli Hendra
Keindahan di kawasan Geowisata Pincuran Puti, yang berada di Jorong Kayu Jangguik, Desa Talang Babungo, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Minggu (26/12/2021). Sejumlah warga setempat mulai mendatangi Pincuran Puti. - Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, SOLOK - Pagi terasa begitu dingin di Jorong Kayu Jangguik, Desa Talang Babungo, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Segelas kopi hangat akan terasa begitu cepat berlalu, jika tak segera diseduh.

Jauh mata memandang ke arah perbukitan yang terlihat samar ditutupi kabut pagi. Sayup-sayup suara deru angin terdengar sembari menyapa tubuh yang dibaluti sehelai pakaian yang lusuh.

Pagi itu, persis pada pertengahan tahun 2021 lalu, masyarakat di Kayu Jangguik, menatap pagi dengan perasaan yang tak sama dibandingkan hari biasanya.

Seteguk demi seteguk kopi hangat, mengiringi imajinasi bahwa Jorong Kayu Jangguik, akan menjadi sebuah desa yang mampu mengalihkan pandangan dunia.

Jorong Kayu Jangguik

Cita-cita masyarakat di pagi itu, semakin kuat dan tak akan beku dibaluti angin pagi yang terasa begitu dingin.

Suara sahutan-sahutan mulai terdengar di sepanjang jalan di sela-sela kabut yang masih menyelimuti alam. Ya, pagi itu, adalah awal bagi masyarakat setempat melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan secara bersama, menuju merangkai cita-cita desa.

Mereka adalah para masyarakat yang ingin mengubah desanya menjadi perhatian dunia.

Hafizur Rahman adalah sosok pria yang jadi pendongkrak semangat para masyarakat di Kayu Jangguik. Cita-cita desa yang pegang oleh masyarakat di sana, datang dari Hafizur Rahman.

Ada ungkapan yang disampaikan Hafizur Rahman kepada masyarakat. "Desa kita adalah desa yang indah. Kita bisa mengubah pandangan dunia, sehingga dunia tak bisa akan berpaling. Tapi semua itu butuh kerjasama untuk mewujudkan cita-cita tersebut," ucapnya.

Ungkapan itu, seakan memberikan secercah harapan baru bagi masyarakat setempat. Karena ternyata, Jorong Kayu Jangguik memiliki sebuah kepingan surga yang tersembunyi. Namanya Pincuran Puti.

Kawasan Pincuran Puti itu berada di ketinggian 1.400 mdpl yang masih berada di Jorong Kayu Jangguik. Tempat itu, konon menjadi sebuah tempat pemandian putri keturunan raja-raja terdahulunya.

Kawasan Pincuran Puti

Dipilihnya tempat itu jadi pemandian putri raja, tentu bukan tanpa alasan. Kawasan pincuran tersebut, ternyata memiliki tempat yang nyaman dan disuguhi oleh pemandangan alam yang begitu menakjubkan.

"Keindahan itu lah yang kami jaga hingga saat ini. Sehingga kampung Kayu Jangguik kini dikenal sebagai kawasan geowisata," kata Hafizur Rahman, yang juga seorang Wali Nagari atau Kepala Desa di daerah itu, Rabu (29/12/2021).

Untuk menjadikan Pincuran Puti sebagai geowisata, Hafizur Rahman, menegaskan, semua proses pengerjaan hingga penataan lokasi, dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Kayu Jangguik.

Semangat gotong royong dari masyarakat itu, bukan didorong oleh materi, melainkan demi cita-cita yang sama, yakni membangun desa untuk mengalihkan pandangan dunia.

Keinginan itu membuat masyarakat di Kayu Jangguik rela untuk menghabiskan waktu bekerja secara bergotong royong untuk menciptakan geowisata di kawasan Pincuran Puti.

"Kita mulai bekerja itu pada pertengahan tahun 2021. Pekerjaan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Sedangkan untuk desain lokasi, kita dibantu oleh para anak muda yang peduli dengan wisata," jelasnya.

Dengan adanya semangat gotong royong, kawasan di Pincuran Puti yang luasnya mencapai 1,5 hektar itu, tanpa waktu lama, mulai terlihat penataan yang begitu indah.

Kayu-kayu dari hutan yang ada di sekitar Pincuran Puti itu, turut dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membuat tempat jembatan kayu sebagai fasilitas pendukung untuk akses mencapai Pincuran Puti.

Dan kayu-kayu itu juga dirangkai menjadi sebuah mini kapal yang ditempatkan di lereng pegunungan Kayu Jangguik, serta dihadapkan untuk bisa memandang keindahan Desa Talang Babungo.

Dengan adanya rangkaian jembatan kecil itu, akan memberikan kemudahan bagi pengunjung mengakses kawasan Pincuran Puti, tanpa harus lelah berjalan di atas tanah.

Bahkan supaya di tempat pincuran air terlihat bersih, masyarakat desa pun secara bersama-sama rela menggosok lumut-lumut yang membaluti batu-batu yang ada di sepanjang aliran pincuran air tersebut.

Tujuan hal itu dilakukan, agar air yang mengalir dari Pincuran Puti terlihat bersih. Sehingga membuat setiap pengunjung yang datang, bisa merasakan ketenangan dan rasa nyaman, ketika melihat derasnya aliran pincuran mengalir dari lereng perbukitan itu.

"Dari atas sana, kita bisa memandang Desa Talang Babungo yang memiliki 7 jorong. Kita bisa melihat hamparan perkebunan sayur serta tebu. Jika di malam hari, suasana akan terasa begitu syahdu, karena kabut menutupi Desa Talang Babungo disaat lampu-lampu rumah penduduk mulai menyala," ujar Hafizur Rahman.

Kawasan dengan ketinggian 1.400 mdpl itu, tidak hanya menyuguhkan keindahan alam untuk dipandangi saja. Berada di kawasan Pincuran Puti, juga seakan menjadi sebuah momen berarti, karena dulunya kawasan itu hanya bisa didekati oleh para puti.

Kini usaha dan semangat gotong royong masyarakat untuk mengubah kampung Kayu Jangguik jadi daerah yang dilirik pandangan dunia mulai berbuah manis.

Pada hari Minggu 26 Desember 2021 lalu, Geowisata Pincuran Puti telah diresmikan oleh Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy. Pada momen peresmian itu, hampir seluruh masyarakat di Jorong Kayu Jangguik menyerbu tempat Pincuran Puti.

Senyum bahagia dari penduduk setempat terpancar ketika melakukan perjalanan kurang lebih 1,5 kilometer untuk mencapai titik Pincuran Puti.

Ratusan masyarakat berjalan kaki menuju ketinggian 1.400 mdpl itu. Senyum dan canda tawa mengiringi langkah mereka selama mencapai lokasi yang telah dibangun bersama tersebut.

Masyarakat setempat terbilang masih minim untuk pergi berwisata. Namun hadirnya Geowisata Pincuran Puti, asa dan harapan serta rasa penasaran untuk berwisata itu datang dari lubuk hati penduduk setempat.

Sehingga langkah demi langkah menuju Pincuran Puti, hanya wajah-wajah bahagian yang terlihat. Mereka tidak kenal lelah, dan mereka mampu melawan dinginnya hembusan angin di Pincuran Puti itu.

"Ke depan Pincuran Puti akan terus dibenahi dan dikembangkan adanya tempat camping atau kemah. Masyarakat-masyarakat akan dilatih menjadi masyarakat yang siap mendampingi wisatawan bila datang ke Pincuran Puti, dan mewujudkan masyarakat yang ramah serta lingkungan yang asri," tegas Hafizur Rahman.

Perlahan-lahan, dia melihat akan memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat di sekitaran Kayu Jangguik maupun di Talang Babungo sendiri.

Apalagi, kata Hafizur Rahman, kawasan wisata Pincuran Puti ini sangat berdekatan dengan Jorong Tabek, yang merupakan kawasan binaan dari PT Astra International Tbk yakni Kampung Berseri Astra (KBA).

"Kita harus melewati Zona 2 KBA Tabek untuk bisa menuju ke Pincuran Puti," ujarnya.

Dengan adanya sinergitas antar daerah yang masih berada di Desa Talang Bungo itu, dapat memperkuat perekonomian masyarakat desa.

Karena ke depan dengan telah hadirnya Pincuran Puti, akan mulai tumbuh tempat-tempat usaha baru dari masyarakat, mata pencaharian tidak lagi bertumpu pada pertanian dan perkebunan. Artinya UMKM pun akan mulai mencuat di sekitaran kawasan Talang Babungo.

Kini asa masyarakat yang dibaluti dingin pagi itu, telah berhasil merangkai cita-cita, mengubah desa. Semangat bersama untuk sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan Ranah Minang ini, akhirnya terwujud sudah.

Senyum bahagia dari masyarakat Desa Talang Babungo ini, seakan menguatkan pendapat dari William Penn. "Kehidupan desa lebih disukai, karena disana kita melihat pekerjaan Tuhan, tetapi di kota-kota hanya pekerjaan manusia. Dan yang satu menjadi subjek yang lebih baik untuk kontemplasi daripada yang lain." (k56)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wisata sumbar
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top