Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sumsel Menanti Tuah Pencabutan Larangan Peredaran Minyak Goreng Curah

Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan berharap pencabutan larangan peredaran minyak curah bisa segera berdampak positif terhadap harga minyak goreng di pasaran yang masih tinggi.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 23 Desember 2021  |  16:45 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan berharap pencabutan larangan peredaran minyak curah bisa segera berdampak positif terhadap harga minyak goreng di pasaran yang masih tinggi.

Sekretaris Daerah Sumatra Selatan Supriono mengatakan hingga kini pihaknya belum melihat imbas dari pembatalan larangan tersebut untuk perkembangan harga minyak goreng di daerah itu.

“Minyak goreng curah bisa diedarkan kembali, tetapi itu belum terlaksana dengan baik,” katanya, baru-baru ini.

Menurut Supriyono, jika minyak goreng curah sudah beredar bisa menekan harga minyak goreng kemasan. 

Dia menilai saat ini stok minyak goreng curah belum sampai ke lini empat atau pasar ritel. 

“Sekarang yang beredar kan masih minyak goreng kemasan. Kalau distribusi minyak curah sudah ada maka harapannya harga bisa stabil,” katanya.

Berdasarkan pantauan Bisnis di sejumlah toko ritel modern, harga minyak goreng kemasan masih tergolong tinggi. Harga dibanderol mulai dari Rp19.900 per liter hingga Rp23.000 per liter, per Kamis (23/12/2021).

Sementara berdasarkan data Dinas Perdagangan Sumsel, harga minyak goreng kemasan rata-rata Rp19.000 per liter.

Terkait wacana subsidi harga minyak goreng, Supriyono menilai bahwa pemda harus melihat regulasi pusat terlebih dahulu.

“Untuk subsidi, kita harus lihat regulasi pusat apakah bisa? Namun demikian, kebijakan pencabutan larangan minyak curah itu perlu kita tinjau dulu,” katanya.

Terpisah, Fungsional Analis Prasarana dan Sarana Perkebunan Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan tingginya harga minyak goreng tidak terlepas dari sisi hulu, di mana harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masih melambung.

“Harga CPO tinggi karena permintaan juga banyak sementara pasokan terbatas,” katanya.

Dia menjelaskan meski Indonesia merupakan produsen sawit, namun sebagian lahan di sentra perkebunan masih melakukan peremajaan dan belum menghasilkan.

Dia menilai peningkatan konsumsi itu terjadi baik di pasar global maupun domestik. Hal itu, kata Rudi, seiring aktivitas dunia usaha, termasuk UMKM yang berangsur normal.

Rudi menambahkan, pemberian subsidi merupakan langkah yang bisa ditempuh pemerintah untuk membuat harga minyak goreng stabil.

“Bisa subsidi CPO maupun subsidi minyak gorengnya langsung dengan operasi pasar,” katanya.

Dia menjelaskan mekanisme operasi pasar yang menggelontorkan minyak goreng dengan harga di bawah rata-rata pasar bisa berdampak langsung ke masyarakat.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Sumatra Selatan, Ahmad Rizali, mengatakan Pemprov telah bekerja sama dengan swasta menggelar operasi pasar minyak goreng.

“Ada 25.200 liter minyak goreng kemasan yang disiapkan untuk operasi pasar, dan disebar di 9 titik,” katanya.

Rizali memaparkan harga minyak goreng yang dilepas ke masyarakat itu dibanderol Rp14.000 per liter. 

“Setiap titik akan kami siapkan 3.000 liter minyak goreng. Harganya lebih murah, selisih Rp5.000 per liter dibanding harga pasaran,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak goreng
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top