Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sumut Targetkan Pengembangan Kawasan Kedelai Seluas 1.500 Hektare Tahun Ini

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatra Utara (Provsu) menargetkan pengembangan kawasan kedelai hingga 1.500 hektare untuk tahun 2021. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produksi kedelai Sumut.
Cristine Evifania Manik
Cristine Evifania Manik - Bisnis.com 22 Februari 2021  |  12:19 WIB
Tanaman kedelai - Antara
Tanaman kedelai - Antara

Bisnis.com, MEDAN - Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatra Utara (Provsu) menargetkan pengembangan kawasan kedelai hingga 1.500 hektare untuk tahun 2021. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produksi kedelai Sumut.

Sepanjang tahun 2020, Sumut hanya mampu memproduksi kedelai sebanyak 4.003 ton.

“Luas tanam kedelai Sumut tahun 2020 seluas 1.702 hektare. Luas panennya adalah 2.559 hektare. Produksi kedelai tahun 2020 sebanyak 4.0003 ton,” kata Kepala Bidang Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provsu Juwaini, Senin (22/2/2021).

Berdasarkan data yang dikumpulkan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provsu, terdapat 15 kabupaten di Sumut yang menghasilkan kedelai, di antaranya Kabupaten Serdang Bedagai, Deli Serdang, Langkat, Padang Lawas, Asahan, Batubara, Simalungun, Padang Lawas Utara, Nias Selatan, Tapanuli Selatan, Binjai, Padang Sidempuan, Nias Utara, Tanjung Balai, dan Nias.

Dari kabupaten tersebut,tujuh diantaranya termasuk kawasan sentra kedelai untuk Sumut, yaitu Kabupaten Serdang Bedagai, Langkat, Deli Serdang, Asahan, Batubara, Padang Lawas dan Padang Lawas Utara,” imbuh Juwaini.

Di lain sisi, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut Barita Sihite mengatakan kebutuhan kedelai di Sumut mencapai 12.000 ton per bulan atau 144.000 ton per tahun. Karenanya, sekitar 90 persen dari kebutuhan kedelai di Sumut bergantung pada kedelai impor.

Kata Barita, tingginya impor kedelai juga berhubungan dengan kualitas kedelai lokal yang rendah. Hal itu membuat perajin tempe dan tahu hanya mau menggunakan kedelai impor sebagai bahan baku produksi mereka.

Juwaini juga mengamini hal tersebut. Katanya, kualitas kedelai yang diproduksi di Sumut tidak sebaik kedelai impor akibat perawatan yang tidak serius.

“Kualitas fisik [kedelai impor] lebih baik dilihat dari warna, keseragaman ukuran dan tekstur. Kualitas lokal tidak sama dengan impor disebabkan oleh kurangnya perawatan karena dianggap bukan merupakan tanaman utama. Provitas rendah dan harga jual yang rendah,” pungkas Juwaini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumut
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top