Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Andalkan Panduan CHSE, Museum Batak Berupaya Bangkit

Pandemi Covid-19 mengakibatkan kegiatan pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE) terhenti.
Cristine Evifania Manik
Cristine Evifania Manik - Bisnis.com 19 Februari 2021  |  15:27 WIB
Salah seorang pengunjung mencuci tangan di depan pintu masuk Museum TB Silalahi Center, Kamis (18/2/2021). - Bisnis/Cristine Evifania Manik
Salah seorang pengunjung mencuci tangan di depan pintu masuk Museum TB Silalahi Center, Kamis (18/2/2021). - Bisnis/Cristine Evifania Manik

Bisnis.com, MEDAN - Pandemi Covid-19 mengakibatkan kegiatan pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE) terhenti. Hal ini berdampak besar pada penurunan jumlah pengunjung Museum Batak TB Silalahi Center yang terletak di Kabupaten Toba, Sumatra Utara.

Sebelum pandemi Covid-19, kunjungan di museum batak terbesar di Indonesia ini bisa mencapai 400 orang dalan satu hari. Bahkan, pada hari raya keagamaan bisa menembus 5.000 pengunjung dalam satu hari.

"Kalau kunjungan berkurang banyak. Dulu satu hati bisa 300 hingga 400 orang, sekarang tidak sampai 100 orang," kata Humas TB Silalahi Center Ondi Siregar, Jumat (19/2/2021).

Kata Ondi, museum tersebut sempat tutup selama beberapa bulan pada tahun 2020 lalu. Saat ini, museum dibuka dengan menerapkan panduan cleanliness, healthy, safety, environmental sustainability (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Penerapan panduan tersebut merupakan upaya pengelola TB Silalahi Center membangkitkan kembali jumlah kunjungan di tempat tersebut. Menurut pengamatan bisnis.com, setiap pengunjung museum diwajibkan mengukur suhu tubuh dan menggunakan satung tangan plastik sebelum memasuki lingkungan museum.

"Kalau pengunjung terlalu ramai, pengunjung masuk secara bertahap. Dalam satu ruangan tidak boleh lebih dari 50 orang," tambah Ondi.

Museum ini merupakan satu dari 264 usaha pariwisata di Sumatra Utara yang memiliki sertifikat CHSE dari Kemenpar. Sertifikat ini menandakan museum TB Silalahi telah lulus audit dalam penerapan protokol kesehatan untuk industri pariwisata.

Berdasarkan panduan khusus CHSE untuk pelaksanaan pameran, jarak pengunjung dalam stand pameran dibatasi minimal satu meter atau melakukan rekayasa teknis dalam stand pameran untuk menghindari kontak fisik.

Hal tersebut juga dilakukan di museum tersebut. Museum TB Silalahi terdiri atas dua gedung utama, yaitu Museum Pribadi TB Silalahi dan Museum Batak.

Pengamantan di lapangan menunjukkan pintu masuk dan keluar gedung tersebut sejak awal memang sudah dibedakan sehingga kemungkinan kontak fisik antar pengunjung dapat diminimalisir. Selain itu, pengelola museum juga membuat tanda berbentuk persegi sebagai tempat pengunjung berdiri. Jarak antara tanda satu dan lainnya adalah satu meter.

"Sejak Juli 2020 kita melakukan pemeliharaan. Setiap hari Senin museum ini didesinfeksi," pungkas Ondi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumut
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top