Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Petani Padi di Sumsel Masih Belum Untung

Kondisi tersebut tercermin dari nilai tukar pertanian (NTP) maupun nilai tukar usaha pertanian (NTUP) subsektor tanaman pangan yang turun pada Desember 2020.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 08 Januari 2021  |  14:03 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, PALEMBANG – Petani padi di Sumatra Selatan dinilai masih belum merasakan keuntungan dari usahanya.

Kondisi tersebut tercermin dari nilai tukar pertanian (NTP) maupun nilai tukar usaha pertanian (NTUP) subsektor tanaman pangan yang turun pada Desember 2020.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel NTP subsektor tanaman pangan sebesar 92,52 atau turun 1,64 persendari bulan November 2020 yang sebesar 94,06.Sementara NTUP subsektor tanaman pangan juga turun dari semula 93,64 menjadi 92,49. 

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan penurunan NTP itu lantaran rendahnya harga gabah di tingkat petani.

“Harga gabah di Sumsel belum bagus, sehingga melalui NTP ini kita melihat petani padi belum untung,” katanya, Jumat (8/1/2021).

Endang menjelaskan indeks nilai tersebut menunjukkan bahwa harga yang diterima petani dari panen lebih rendah ketimbang harga yang dibayarkan petani, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun untuk biaya produksi mengolah sawahnya.

Dia mengatakan bahkan petani padi di Sumsel masih kalah bersaing dengan petani palawija, seperti kacang tanah dan jagung, lantaran harga yang mereka terima lebih tinggi.

Bahkan dibanding sektor pertanian lainnya, seperti peternakan,perikanan dan tanaman perkebunan rakyat, NTP tanaman pangan yang paling rendah. Subsektor lainnya tersebut mendapat indeks lebih tinggi, ada pula yang sudah melampaui angka 100, seperti tanaman perkebunan rakyat.

“Ini bisa jadi bahan analisa untuk pemangku kepentingan, karena kita inginnya petani sejahtera melalui panen yang mereka jual,” jelasnya.

Rendahnya harga gabah kering panen (GKP) diakui petani di sejumlah daerah. Wawan darmawan, petani di Desa Sumber Mulya, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, mengaku ia menjual gabah senilai Rp3.800 per kilogram (kg).

“Biasanya harga gabah yang saya terima di kisaran Rp5.000 per kg, sekarang malah turun,” katanya.

Hal senada disampaikan Ilham, petani padi di Dusun 3, Desa Muara Dua, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. 

“Saat ini harga gabah di tempat kami hanya Rp3.600, memang sejak bulan lalu masuk masa panen dan harganya turun,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumsel
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top