Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Sumbar Canangkan Transformasi Tenun Minang

Kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatra Barat melakukan Pencanangan Transformasi Tenun Minang.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 30 November 2020  |  20:20 WIB
Penandatanganan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatra Barat tentang Pencanangan Transformasi Tenun Minang di Padang, Senin (30/11/2020). - Istimewa
Penandatanganan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatra Barat tentang Pencanangan Transformasi Tenun Minang di Padang, Senin (30/11/2020). - Istimewa

Bisnis.com, PADANG - Kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatra Barat melakukan Pencanangan Transformasi Tenun Minang. Kegiatan ini pun didahului dengan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatra Barat.

Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatra Barat Wahyu Purnama A mengatakan pencanangan Transformasi Tenun Minang itu sebagai identitas tunggal akan memudahkan kampanye yang terstruktur dan masif tentang tenun Minang.

"Dengan demikian dapat menggugah atau meningkatkan kesadaran akan kebanggaan terhadap kekayaan budaya warisan leluhur masyarakat Minangkabau, tanpa harus menanggalkan kekhasan motif maupun filosofi yang ada di berbagai karya tenun/tenun yang ada di Sumbar," kata Wahyu yang dikutip dari penyampaiannya secara virtual di Padang, Senin (30/11/2020).

Dia menyampaikan bahwa Pencanangan Transformasi Tenun Minang ini, juga merupakan upaya yang berkelanjutan dan dilakukan bertahap, dengan tujuan menggugah dan memudahkan masyarakat untuk mengasosiasikan Tenun Minang sebagai suatu kerajinan/fashion yang berasal dari Sumatra Barat, baik yang dihasilkan oleh pengrajin dari Pandai Sikek, Silungkang, Sijunjung, Balai Panjang, Halaban, maupun Kubang.

"Pencanangan Transformasi Tenun Minang akan dilakukan melalui kreasi busana menggunakan tenun. Kegiatan ini akan melibatkan UMKM binaan, desainer busana dan para Kepala Daerah di Provinsi Sumbar," jelas dia.

Wahyu menjelaskan secara garis besar, tenun dapat diidentifikasi dan dikenali berdasarkan daerah pembuatnya yang memiliki kekhasan seperti pada teknik, warna dan motif.

Pada umumnya, tenun yang dihasilkan di Sumbar terdiri dari tenun Silungkang, tenun Pandai Sikek, tenun Halaban, tenun Kubang, tenun Balai Panjang dan beberapa daerah lainnya yang menghasilkan tenun/tenun namun kurang dikenal, misalnya tenun selendang balapak dari Kenagarian Sungayang di Batusangkar.

"Dari yang kami jumpai di lapangan pada umumnya, pengrajin tenun/tenun di Sumbar bersifat kekeluargaan dan turun temurun," ucapnya.

Menurutnya tenun Minang memiliki potensi untuk dikembangkan, mengingat tenun merupakan salah satu warisan kekayaan budaya leluhur masyarakat Minangkabau sebagai pakaian tradisional yang dikenakan pada acara adat dan acara kebesaran kerajaan Minangkabau.

Selain itu, dukungan dari pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan tenun, Pemkot Payakumbuh melalui pengembangan Sentra Tenun Balai Panjang, Kementerian PUPR mendirikan Sentra Tenun Lintau di Kabupaten Tanah Datar, dan Kementerian Perindustrian mendirikan Sentra Tenun Tenun Unggan di Kabupaten Sijunjung dapat disinergikan untuk meningkatkan pengembangan tenun di Sumbar.

Namun demikian, kata Wahyu, terdapat tantangan dalam pengembangan tenun, antara lain masih banyak pengrajin memiliki pola pikir tradisional dalam menjalankan usaha tenun sebagai pekerjaan tambahan sehingga kegiatan operasional pengrajin masih belum menuju ke skala bisnis, peralatan dan pendanaan masih belum memadai.

"Di sisi lain, belum ada satu identitas yang kuat, sehingga untuk kegiatan jangka panjang perlu dilakukan perubahan, antara lain penguatan branding Tenun Minang yang mewakili kearifan lokal seluruh tenun yang ada di Sumbar," sebutnya.

Wahyu menyampaikan bahwa tantangan lainnya adalah pengrajin tenun/tenun di Sumbar juga merasakan dampak pandemi Covid-19.

Mengingat tenun/tenun bukan merupakan kebutuhan pokok, penurunan permintaan mengakibatkan kegiatan pengrajin yang dikurangi, bahkan dihentikan karena pelanggan/klien yang juga berdampak pandemi Covid-19.

Hal ini juga membuat pengrajin menghadapi kendala keuangan terkait biaya penenun dan biaya operasional.

"Kita melalui KPw BI Provinsi Sumbar untuk mendorong pengembangan tenun minang melalui berbagai upaya," ucap dia.

Upaya itu yakni pelaksanaan kurasi melalui Program Industri Kreatif Syariah (IKRA) Indonesia. Peningkatan kapasitas SDM melalui Wirausaha Bank Indonesia (WUBI) 2020.Bantuan sarana dan prasarana melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI).

Lalu pendampingan teknis kepada kelompok pengrajin di Sentra Tenun Balai Panjang. Serta mengikutsertakan pada berbagai event dan pameran yang diselenggarakan di Bank Indonesia. Peningkatan kapasitas UMKM dari sisi produksi dan pemasaran harus disertai dengan upaya peningkatan dari aspek permintaan.

Untuk itu, diperlukan adanya peningkatan kesadaran dan kebanggaan menggunakan tenun, terutama oleh masyarakat Sumatera Barat. Upaya yang akan dilakukan adalah menggencarkan kampanye penggunaan tenun secara terstruktur dan masif.

Sinergi dengan pemangku kepentingan, melalui penggalangan komitmen 7 Walikota/Bupati untuk mengembangkan Tenun Minang dilakukan pada hari ini, Senin 30 November 2020.

KPw Bank Indonesia Provinsi Sumbar berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah menyelenggarakan Pencanangan Transformasi Tenun Minang yang tujuannya tidak saja mendukung pengembangan Tenun Minang sebagai industri kreatif, namun juga untuk mengembangkan UMKM dan ekonomi kreatif menuju digitalisasi UMKM dan memajukan pariwisata Sumbar.

Sementara itu Gubernur Sumbar Irwan Prayitno pun menyambut baik adanya kegiatan Pencanangan Transformasi Tenun Minang itu. Menurutnya peranan BI amatlah penting untuk mendorong UMKM di Sumbar terus produktif berinovasi.

"Tenun Minang ini memang sudah lama dikenal oleh banyak orang termasuk itu dari wisatawan. Namun perlu perkembangan, agar tenun ini bisa lebih diminati oleh banyak kalangan. Pencanangan Transformasi Tenun Minang adalah langkah yang tepat," ujarnya.

Irwan Prayitno pun berharap agar keberadaan peran dari BI dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pelaku tenun khususnya dan UMKM pada umumnya.

Bagi gubernur, di era sekarang tenun bisa berinovasi dari berbagai model, melalui peran desainer. Untuk itu, Transformasi Tenun Minang diharapkan menjadi sebuah kegiatan yang dapat memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM dan juga bagi dunia pariwisata di Sumbar. (k56)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumbar
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top