Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

11 Bulan Lamanya Harga Gambir di Pesisir Selatan Anjlok, Lahan Diabaikan Petani

Harga gambir di tingkat petani di daerah Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, semakin memburuk. Kondisi ini telah terjadi hampir sepanjang tahun 2020 ini.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 22 November 2020  |  17:58 WIB
Seorang petani tengah memetik daun gambir di kebun di Pesisir Selatan.  - Bisnis/Noli Hendra
Seorang petani tengah memetik daun gambir di kebun di Pesisir Selatan. - Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, PAINAN - Harga gambir di tingkat petani di daerah Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, semakin memburuk. Kondisi ini telah terjadi hampir sepanjang tahun 2020 ini.

Anggi, petani di Sutera, mengatakan, saat ini harga gambir hanya Rp15.000 per kilogram. Kondisi ini sudah terjadi sepanjang tahun 2020 ini.

"Bahkan sebelum pandemi inipun harga gambir tidak bisa lebih dari Rp20.000 per kilogram nya. Ini adalah tahun-tahun yang suram bagi kami petani gambir," katanya kepada Bisnis, Minggu (22/11/2020).

Diakuinya bahwa akibat kondisi harga yang anjlok itu, cukup banyak petani yang malah mengabaikan lahannya dan beralih untuk turun ke sawah. Namun bagi petani yang tidak memiliki lahan sawah, masih tetap untuk memanen gambir.

Khusus di Kecamatan Sutera, ada sekitar ratusan hektare perkebunan gambir. Dan bisa dikatakan hanya sebagian kecilnya saja yang perkebunan gambir tetap dipanen daun-daun gambirnya.

Selebihnya perkebunan dibiarkan ditumbuhi semak belukar, karena merasa merugi jika tetap memanen gambir disaat harga lagi anjlok.

Sebab untuk memanen gambir itu butuh buruh tani yang tentunya harus mengeluarkan biaya untuk membayar upah. Artinya bila ingin memanen gambir dalam situasi harga murah ini, harus melakukan tenaga sendiri tanpa harus melibatkan buruh tani.

"Tapi kalau tanpa ada buruh taninya, kerja akan lambat serta menghabiskan waktu yang lama dan membuat hasil panen gambir hanya sedikit. Maka penghasilan pun tak seberapa," ujarnya.

Di Pesisir Selatan, bila melibatkan buruh tani, maka akan ada sistem bagi hasil. Dimana hasil panen akan dibagi 50:50, dimana 50 persen untuk pemilik kebun dan 50 persen untuk upah buruh.

Memang dari sisi kerja panen cukup cepat, namun dari sisi penghasilan dengan harga yang murah, bagi pemilik lahan nilai pendapatan dari perkebunan gambar belum begitu memuaskan.

"Jadi sama saja besar pasak daripada tiangnya. Makanya banyak petani yang pilih turun ke sawah, dan membiarkan kebun gambir ditumbuhi semak belukar," ungkapnya.

Sedangkan Anggi sendiri memilih untuk tetap pergi ke kebun gambir, karena mempertimbangkan kondisi ekonomi yang semakin sulit di masa pandemi ini.

"Daripada menganggur di rumah. Biarlah saya ke kebun, meski hasilnya sulit melepas lelah, tapi setidaknya dapat melepas belanja sehari-hari," tegas dia.

Sementara itu, Riko, petani gambir yang kini memilih turun ke sawah, mengakui bahwa sudah hampir 2 bulan ini dia mengabaikan perkebunan gambarnya. Dan selama itu pula dia memilih fokus untuk berada di sawah.

Dikatakannya saat ini di daerahnya itu tengah musim tanam. Mengingat perkebunan gambir lagi tidak menguntungkan untuk dikelolah, sementara bertanam padi dinilai kini cukup menjanjikan, maka dia memilih untuk turun ke sawah.

"Seluruh desa ini lagi ke sawah yakni mulai masa tanam. Saya ada punya 4 kavling sawah. Kini saya fokus ke sawah dan tidak lagi melihat kebun gambir. Harga gambir murah, jadi saya biarkan saja dulu," ucapnya kepada Bisnis.

Menurutnya alasan mengabaikan perkebunan gambir itu adalah kondisi harga yang tak kunjung membaik bahkan hingga jelang penutupan tahun 2020 ini. Padahal tahun lalu, harga gambir tidak separah tahun ini, setidaknya harga bisa di atas Rp20.000 per kilogram.

Sementara sepanjang tahun 2021 ini, harga gambir paling tinggi hanya berada di Rp15.000 per kilogram dan cukup sering berada di harga Rp13.000 per kilogram.

Jika harga gambir berada di bawah Rp20.000 per kilogram, maka akan sulit meraup untung untuk memanen gambir itu. Karena ongkos untuk memanen gambir cukup besar.

Seperti perlu memiliki kayu bakar, serta biaya makan selama berada di kebun. Sebab untuk memanen gambir itu, harus menginap di dikebun di dalam sebuah pondok tempat mengolah getah gambir menjadi gambir kering.

"Jika sudah melakukan panen daun gambir dan memulai mengolahnya jadi gambir kering. Perlu dipersiapkan dana. Nah ini lah yang kami hitung-hitung tidak cocok dengan harga gambir saat ini," sebut Riko.

Untuk itu, dengan alasan kondisi demikian, Riko memilih untuk mengabaikan perkebunan gambirnya dan memilih jadi bertani di sawah. Hal itu akan dijalankan usai panen raya dilakukan pada tahun 2021 mendatang.

"Ya kita lihat pula nanti harga gambirnya pada tahun 2021 nanti. Artinya sampai akhir tahun 2020 ini, saya mungkin tidak ke kebun gambir saya dulu," tegasnya.

Riko mengungkapkan dulu ketika harga gambir terbilang jaya yakni sempat Rp75.000 hingga Rp100.000 per kilogram, ekonomi keluarganya sangat menggairahkan.

Banyak aset keluarga yang telah dimilikinya, seperti kendaraan roda empat, rumah mewah, pendidikan anaknya berjalan lancar, serta telah mampu memperluas perkebunannya.

"Dulu awal-awalnya perkebunan gambir saya itu hanya 3 hektare. Dikarenakan dulu harga gambirnya mahal, saya tambah 2 hektare, dan kini lahan yang saya tinggalkan itu ada sekitar 5 hektare lebih," ungkap Riko.

Kini lahan seluas 5 hektare itulah yang dibiarkan terlantar tanpa dilihat sekilas pun, lantaran tak bersemangat untuk memanen daun gambir, akibat harga yang masih anjlok.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumbar
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top