Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Lobster Sumbar Terhenti akibat Pandemi

Semenjak pandemi Covid-19 melanda Provinsi Sumatra Barat, eksportir tidak bisa lagi melakukan pengiriman langsung ke berbagai negara tujuan melalui Bandara Internasional Minangkabau.
Lobster hidup yang tengah diperiksa di BKIPM Padang sebelum dikirim melalui jalur udara di Bandara Internasional Minangkabau/Bisnis-Noli Hendra
Lobster hidup yang tengah diperiksa di BKIPM Padang sebelum dikirim melalui jalur udara di Bandara Internasional Minangkabau/Bisnis-Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Semenjak pandemi Covid-19 melanda Provinsi Sumatra Barat, eksportir tidak bisa lagi melakukan pengiriman langsung ke berbagai negara tujuan melalui Bandara Internasional Minangkabau.

Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Padang Rudi Barmara mengatakan terhitung sejak adanya pandemi di Sumbar lalu lintas ekspor memang sangat terdampak, bahkan para eksportir harus melakukan langkah agar komoditas yang diekspor itu tidak menumpuk di gudang.

"Bisa dikatakan tidak ada lagi lalu lintas ekspor di Sumbar yang kita catat sepanjang adanya pandemi Covid-19 ini terutama untuk lobster," katanya, Selasa (20/10/2020).

Padahal lobster adalah komoditas ekspor terbesar di Sumbar dengan negara tujuan Malaysia dan Hong Kong. Tapi mengingat tidak ada lagi penerbangan internasional di Bandara Internasional Minangkabau, maka ekspor pun jadi terhenti.

"Jadi yang tercatat lalu lintas saat ini khusus lobster memang tidak ekspor dari Sumbar, tapi malah melakukan pengiriman domestik," ujar dia.

Kendati di BKIPM mencacat sebagai lalu lintas pengiriman domestik, tapi nantinya tujuan daerah domestik misalnya Jakarta, barulah di sana menjadi komoditi ekspor. Sebab untuk di Bandara Soekarno Hatta masih ada penerbangan internasional sehingga masih bisa ekspor.

"Jadi namanya itu ekspor dari Sumbar via Jakarta. Namun dalam catatannya itu tidak bisa disebut ekspor karena pengiriman barangnya domestik dari Sumbar ini," ucap dia.

Rudi menyebutkan kendati para eksportir Sumbar tidak bisa lagi mengirim langsung komoditas ekspor dari BIM langsung, secara jumlah bisa dikatakan tidak mengalami perubahan yang signifikan, disaat melakukan ekspor maupun melakukan pengiriman domestik.

Menurutnya hanya soal lalu lintasnya saja yang berubah, kalau jumlah lobster tidak jauh berbeda pada tahun-tahun sebelum adanya pandemi Covid-19 ini.

Terkait pengiriman komoditas perikanan secara domestik, Station Manager PT Angkasa Pura Kargo Bandara Internasional Minangkabau Muhammad Rafi mengaku setiap harinya ada pengiriman barang yang masuk di kargo BIM. Di mana dari sekitar 35 ton hingga 40 ton volume angkutan kargo di BIM per hari nya itu, ada sekitar 20-30 persennya merupakan komoditas perikanan.

"Iya ada lobster, kepiting, ikan hias, rajungan. Jadi ada sekitar 20-30 persen dari total per hari angkutan kargo di BIM itu ada komoditinya," ungkap Rafi.

Kendati cukup banyak komoditas yang diangkut oleh kargo di BIM, ada kendala yang dihadapi mengingat komoditas yang dibawa itu adalah sifatnya transit dan kondisi komoditas tersebut hidup.

"Kendala untuk membawa komoditas hidup ini ya soal risiko mati. Selama ini memang ada terjadi komoditas yang dibawa itu ada yang mati sekitar 5-7 persen, tapi bisa ditoleransi," sebutnya. (k56)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Noli Hendra
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper