Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Petani Kopi di Sumbar Hadapi Dilema saat Pasar Ekspor Terhenti

Jumlah kopi yang diekspor sebelum bulan Juni itu sebanyak 2 kontainer dan jumlah itu menurun dibandingkan tahun-tahun lalu.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  16:48 WIB
Teuku Firmansyah, Bendahara dan Bagian Promosi - Penjualan Koperasi Produsen Serba Usaha (KPSU) Solok Radjo.
Teuku Firmansyah, Bendahara dan Bagian Promosi - Penjualan Koperasi Produsen Serba Usaha (KPSU) Solok Radjo.

Bisnis.com, SOLOK - Petani kopi yang ada di Kabupaten Solok, Provinsi, Sumatra Barat, benar-benar tengah dilema menyikapi sulitnya pasar kopi di tengah pandemi Covid-19.

"Sebelum ada pandemi ini kopi yang ada di Nagari/Desa Aia Dingin Kecamatan Danau Kembar turut mengisi pasar kopi di Amerika. Kalau sekarang, palingan terakahir sebelum Juni 2020 ekspor kopi arabika yang kita lakukan, dan itupun sesuai permintaan saja," kata Teuku Firmansyah, Bendahara dan Bagian Promosi/Penjualan Koperasi Produsen Serba Usaha (KPSU) Solok Radjo, ketika dihubungi Bisnis dari Padang, Selasa (13/10/2020).

Firmansyah menjelaskan di bawah naungan brand Solok Radjo itu ada dua jenis kopi yang dikembangkan yakni kopi arabika dan robusta. Namun kopi yang diekspor hanya untuk jenis kopi arabika karena dinilai cocok dan berkualitas bagi pasar di Amerika.

Jumlah kopi yang diekspor sebelum bulan Juni itu sebanyak 2 kontainer dan jumlah itu menurun dibandingkan tahun-tahun lalu. Biasanya bila memasuki penghujung tahun jumlah kopi yang diekspor telah mencapai 4-6 kontainer kopi.

Tapi semenjak adanya pandemi Covid-19, Amerika yang menjadi tujuan terbesar ekspor kopi di Solok itu tidak lagi melakukan permintaan kopi di Solok hingga akhir tahun 2020 ini. Kendati demikian bila pandemi telah berlalu diperkirakan kondisi ekspor akan kembali membaik di tahun 2021 mendatang.

Saat ini untuk melakukan langkah solusi dari stok kopi yang ada agar tidak menumpuk di gudang, Solok Radjo memilih untuk menguatkan pasar lokal serta mencoba penjualan di pasar hilir seperti membuat sebuah usaha kafe yang menjual kopi asli yang di racik dari Solok Radjo.

"Tapi untuk pasar lokal pun lagi lesu. Bahkan penjualannya di tahun ini mengalami penurunan sebesar 50 persen bila dibandingkan dengan penjualan tahun lalu. Kita di Solok Radjo harus berbuat apalagi supaya kopi itu laku di pasaran," ujar dia.

Hal yang menjadi kegalauan Firmansyah bersama tim Solok Radjo lainnya adalah akan memasukinya panen raya kopi di Kabupaten Solok yang menjadi mitra dari Solok Radjo ini. Setidaknya ada ribuan hektare lahan kopi yang bakal panen di akhir 2020.

Bila panen itu berlangsung diperkirakan produksi kopi bisa mencapai ratusan ton kopi. Karena untuk satu hektare perkebunan dengan jumlah 300 batang kopi bisa panen sebanyak 250 kilogram kopi dalam bentuk chery.

Firmansyah menyebutkan setiap harga kopi yang dibeli oleh Solok Radjo berpatokan pada kondisi harga kopi nasional dan juga internasional. Dan dalam kondisi pandemi ini, harga Rp6.000 per kilogram itu dinilai sebuah dampak dari situasi terkini.

"Dulu normalnya itu Rp10.000 per kilogram dan bahkan bisa lebih. Sebab turunnya ya dikarenakan dampak dari Covid-19 juga," ujarnya.

Sedangkan untuk harga jual dari Solok Radjo ke sejumlah pangsa pasar mulai Rp45.000 hingga Rp120.000 per kilogram.

Menurutnya jauhnya dari harga beli dengan harga jual, karena di sini Solok Radjo perlu melakukan berbagai proses dan tahapan yang cukup dari hasil panen yang dalam bentuk chery hingga di kelola menjadi kopi biji dan kopi serbuk.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Syafrizal mengatakan Solok Radjo merupakan salah satu kopi yang terkenal, tidak hanya bagi masyarakat lokal tapi di kalangan pencinta kopi dunia.

Menurutnya kalau bicara lahan perkebunan kopi di Sumbar cukup luas yakni untuk kopi arabika 17.265 hektar dengan produksi 12.004 ton. Lalu untuk kopi robusta ada seluas 20.196 dengan panen 10.288 ton per tahunnya.

Dia menyebutkan untuk kopi arabika di Sumbar tersebar di Kabupaten Agam Bagian Timur, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Tanah Datar dan Lima Puluh Kota. Sedangkan kopi robusta hampir ada di seluruh kabupaten dan kota kecuali untuk Kota Padang Panjang.

"Dari yang kami catat itu pedagang kopi di Sumbar itu selain Solok Radjo juga ada Sumatera Arabica Minang Solok, Lasi, Robusta/Arabica Equator Talu, Kopi Kajai Spesiality, dan Charmintoran Coffee," sebut Syafrizal.

Dikatakannya untuk menunjang perkembangan kopi di Sumbar ada sejumlah peralatan yang telah dibantu oleh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar. Alat itu yaitu huller, pulper, sollar dryer doom, timbangan duduk, serta turut membangun UPH Kopi. (k56)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumbar kopi
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top