Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Petani di Sumbar tak Minat Lagi Tanam Kakao

Petani di Sumatra Barat enggan menggeluti tanaman kakao, kendati harga jualnya relatif bagus.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 14 September 2020  |  15:53 WIB
tanaman kakao
tanaman kakao

Bisnis.com, PADANG - Petani di Sumatra Barat enggan menggeluti tanaman kakao, kendati harga jualnya relatif bagus.

Meski Provinsi Sumatra Barat telah ditetapkan sebagai sentra kakao Indonesia bagian barat oleh Wapres Yusuf Kalla tahun 2016 lalu dan ternyata kini ada sejumlah daerah di Sumbar malah tidak lagi merawat perkebunan kakaonya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Syafrizal menyatakan daerah yang kini terlihat banyaknya tanaman kakao yang tidak terawat sehingga banyak yang mati terdapat di Kabupaten Padang Pariaman serta diikuti oleh sejumlah daerah lainnya.

"Di Sumbar ini Padang Pariaman adalah daerah yang cukup luas perkebunan kakaonya setelah Kabupaten Limapuluh Kota. Kalau total luas lahan kakao di Sumbar itu 145.735 hektar," kata pria yang akrab disapa Jejeng ini kepada Bisnis, Senin (14/9/2020).

Penyebabnya itu tidak diketahui juga kenapa masyarakat malas untuk mengurus perkebunan kakaonya. Padahal dari segi harga tanaman kakao ini terbilang cukup bagus yakni Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogramnya.

Selain itu bicara perawatannya juga tidak sulit untuk berkebun kakao itu, hanya perlu memangkas serta membersihkan lingkungan tanaman kakaonya. Lalu yang perlu diawasi itu serangan hama seperti tupai.

"Masalah kini kakao tidak dirawat sehingga banyak yang mati. Padahal hanya perlu dipangkas dan dibersihkan tapi masyarakat tidak melakukannya," ujar dia.

Jejeng juga menyatakan bahwa soal pendampingan dan perhatian soal peremajaan tidak pernah kendor dari pemerintah terutama dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan.

Untuk itu pemerintah setempat menganggap bahwa perkebunan kakao sepertinya tidak diminati lagi. Bahkan dikarenakan banyak tanaman kakao yang mati, banyak petani beralih ke perkebunan jagung.

"Kalau tanaman jagung jelas menjanjikan karena di Sumbar sendiri produksi jagung memiliki pangsa pasar yang bagus," sebutnya.

Kakao Sumbar memiliki karakteristik khusus yang tidak dimiliki tempat lain yaitu rasa fruity dengan melting point yang tinggi sehingga tidak mudah meleleh pada suhu setempat.

Melihat hal tersebut sebenarnya sangat disayangkan. Karena permintaan kakao dunia akan terus meningkat dengan terbukanya pasar baru di China, Rusia, India, Jepang dan Timur Tengah.

Tidak hanya berupa dalam bentuk produksi mentah saja yang memiliki peluang yang bagus. Tap masih terbuka peluang untuk pengembangan industri kakao menjadi produk jadi dan produk setengah jadi serta pengembangan pasar dalam negeri.

Jejeng menjelaskan bila melihat dari produksi kakao itu dari 145.735 hektar lahan yang ada jumlah produksinya itu bisa mencapai 66.917 ton. Dengan perhitungan per hektar nya itu bisa memproduksi 1.200 kilogram kakao.

"Kalau jumlah petani kakao di Sumbar itu 213.971 orang yang tersebar di sejumlah daerah," sebut dia.

Daerah yang menjadi pengembangan perkebunan kakao itu berada di Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kota Sawahlunto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao sumbar
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top