Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Industri Sumsel Merosot 17,32 Persen, Ini Penyebabnya

Penurunan ekspor sektor industri, yang berperan dominan bagi Sumsel, berasal dari komoditas bubur kertas/pulp, karet remah, dan kertas tisu. 
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 15 Juni 2020  |  16:07 WIB
Crumb rubber atau karet remah - Ilustrasi/turkish.alibaba.com
Crumb rubber atau karet remah - Ilustrasi/turkish.alibaba.com

Bisnis.com, PALEMBANG – Ekspor komoditas industri di Sumatra Selatan tercatat merosot 17,32 persen sepanjang periode Januari – Mei 2020 yang berimbas pada penurunan nilai total ekspor provinsi tersebut.

Berdasarkan data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, ekspor sektor industri tercatat senilai US$1,04 miliar pada Januari – Mei 2020. Sementara itu, ada periode yang sama tahun lalu tercatat sebanyak US$1,2 miliar.

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan sektor industri memiliki peranan dominan terhadap kinerja ekspor Sumsel.

Share sektor ini hingga 72,91 persen terhadap keseluruhan nilai ekspor Sumsel. Sehingga kalau turun pasti langsung berpengaruh,” katanya, Senin (15/6/2020).

Endang melanjutkan penurunan ekspor sektor industri berasal dari komoditas bubur kertas/pulp, karet remah (crumb rubber) dan kertas tisu. 

Dia memaparkan ekspor karet biasanya ditujukan ke Amerika Serikat. Namun, pada bulan lalu ekspor ke negara itu turun tajam hingga 27,07 persen. Sementara ekspor bubur kertas dan kertas tisu mayoritas ditujukan ke negara Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang.

“Padahal sektor industri merupakan penggerak perekonomian Sumsel serta banyak menyerap tenaga kerja,” ujarnya.

Dia melanjutkan, tak hanya sektor industri yang merosot, kinerja ekspor sektor pertambangan turut terkontraksi sebagai dampak pandemi Covid-19. Selama lima bulan pertama, ekspor komoditas batubara dan lignit turun 10,27 persen.

Meski kinerja ekspor menurun, namun BPS mencatat bahwa neraca perdagangan Sumsel masih surplus.

“Masih surplus karena nilai ekspor masih lebih besar ketimbang impor, meskipun jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya surplus ini lebih kecil,” katanya.

Pada bulan Mei 2020, Sumsel masih surplus sebanyak US$182,89 juta. Hal itu berasal dari kinerja total ekspor yang sebanyak US$240,84 juta sementara nilai impor mencapai US$57,95 juta.

“Secara negara tujuan, perdagangan kita masih surplus dengan Tiongkok, Amerika Serikat dan Malaysia,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor sumsel
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top