Rini, Anak Petani Sawit yang Sukses Memanfaatkan Limbah Sawit Menjadi Piring Anyaman

Rini adalah putri dari Rasim (58). Rasim adalah petani sawit binaan Asian Agri. Rasim selalu mendorong anaknya untuk berwirausaha sehingga dapat menciptakan lapangan kerja dan menambah penghasilan bagi warga di kampungnya.
Kegiatan Rini dan Ibu-ibu sedang melakukan proses pembuatan piring anyaman lidi dari pelepah kelapa sawit.
Kegiatan Rini dan Ibu-ibu sedang melakukan proses pembuatan piring anyaman lidi dari pelepah kelapa sawit.

Bisnis.com, PANGKALAN KERINCI — Siang itu, Rini yang tinggal di lingkungan perkebunan sawit di Kabupaten Pelalawan, Riau, sedang duduk-duduk santai bersama para tetangganya di teras rumah. Suasana menjadi hening ketika topik pembicaraan ibu-ibu itu habis dan yang terdengar hanyalah suara semilir angin.

Ketika itu lah, kenang Rini, dirinya mendapatkan ide untuk memulai usaha menganyam piring dari lidi sawit.

Rini (kanan) menjelaskan bagaimana ide awal membangun usaha piring anyaman dari limbah pelepah kelapa sawit.
Rini (kanan) menjelaskan bagaimana ide awal membangun usaha piring anyaman dari limbah pelepah kelapa sawit.

“Ini tahun 2019 awal, di sini kan banyak ibu-ibu duduk santai. Jadi, saat itu saya memang pernah punya pikiran [untuk berwirausaha], daripada duduk santai saja,” kata Rini baru-baru ini.

Rini adalah putri dari Rasim (58). Rasim adalah petani sawit binaan Asian Agri. Rasim selalu mendorong anaknya untuk berwirausaha sehingga dapat menciptakan lapangan kerja dan menambah penghasilan bagi warga di kampungnya.

Rini mengatakan bahwa ibu-ibu di sana juga memiliki kebutuhan yang banyak tetapi tak bisa pergi jauh dari rumah. Ide untuk berwirausaha pun muncul setelah Rini teringat temannya dari desa sebelah yang sehari-hari membuat piring anyaman dari lidi sawit.

Kegiatan Rini dan Ibu-ibu sedang melakukan proses pembuatan piring anyaman lidi dari pelepah kelapa sawit.
Kegiatan Rini dan Ibu-ibu sedang melakukan proses pembuatan piring anyaman lidi dari pelepah kelapa sawit.

Untuk tahap awal, Rini menyewa pelatih dan memanggil ibu-ibu yang tinggal di dekat rumahnya. Setelah melewati pelatihan sekitar 3 kali, Rini dan para ibu-ibu mulai terbiasa walau masih terkendala karena ternyata membuat piring anyaman itu sulit juga.

Baru lah pada November 2019, usaha piring anyaman Rini dan tiga orang temannya dimulai dan mulai dikomersilkan. Walaupun khawatir usaha ini bisa berhenti di tengah jalan, Rini mendapat semangat dari tetangganya yang lain karena memperlihatkan minat untuk membeli produk tersebut.’

Kata Rini, piring anyaman dari lidi sawit itu dijual seharga Rp6.000 untuk yang kecil. Sementara itu harga 1 kilogram lidi biasanya Rp12.000.

“Pernah pesanan piring ini sampai Rp3,5 juta,” tutur Rini.

Adapun, untuk mendapatkan lidi sawit biasanya Rini mengambil pelepah sawit dari kebun milik ayahnya yang menjadi petani mitra Asian Agri Group dan dari beberapa kebun di sekitar rumahnya, kemudian dibersihkan secara manual.

Dalam proses membersihkan daun untuk mendapatkan lidi sawit tersebut, Rini mengaku tangannya sering terluka dan kapalan.

Saat itu lah, suami Rini bernama Trimo terpikir untuk membuat alat yang bisa membersihkan daun sawit langsung menjadi lidi sawit. Selain tangan tidak akan sakit lagi, produksi piring anyaman pun bakal meningkat karenanya.

Suranto—suami Rini—membantu istrinya meraut lidi pelepah kelapa sawit dengan mesin sederhana yang ia ciptakan yaitu Praudi Express.
Suranto—suami Rini—membantu istrinya meraut lidi pelepah kelapa sawit dengan mesin sederhana yang ia ciptakan yaitu Praudi Express.

“Berhubung usaha istri saya ini lidi dan waktu itu dikerjakan manual, untuk mendapatkan satu kilo gram lidi itu membutuhkan 4—5 jam. Usaha baru berjalan satu minggu, tangannya rusak karena kapalan dan luka,” kata Trimo terkekeh.

Trimo masih ingat setelah kunjungan Luhut Panjaitan di Langgam, dirinya mendapat tantangan untuk membuat mesin yang dapat membersihkan daun sawit menjadi lidi dalam waktu tiga hari.

Trimo pun berhasil menciptakan mesin yang dinamakannya PRAUDI (Peraut Lidi) itu tetapi dengan kapasitas yang masih rendah.

Namun, kualitas dan kapasitas mesin itu terus dikembangkan sampai bisa meraut 4—5 kilogram lidi dalam satu jam.

Selain digunakan untuk usaha istrinya, Trimo juga membawa mesin itu untuk mengikuti lomba. PRAUDI berhasil menyabet juara 1 di tingkat kabupaten dan provinsi. Selanjutnya, tahun ini mesin itu akan diikutkan lomba se-nasional.

Lewat lomba-lomba tersebut, masyarakat luar pun mengetahu keberadaan PRAUDI dan membeli dari Trimo. Sampai saat ini, mesin PRADI tersebut telah terjual sebanyak 40 unit.

SUMBANG PAD

Adapun, kreativitas para petani sawit itu turut didorong oleh pemerintah dan perusahaan yang bermitra.

Misrawati, Kabid Pendayagunaan SDA, Teknologi Tepat Guna, dan Usaha Ekonomi Masyarakat Kabupaten Pelalawan, mengatakan pihaknya terus memberikan pembinaan kepada masyarakat untuk memanfaatkan berbagai potensi di lingkungan sekitar.

“Kami berupaya membina masyarakat, terutama dalam hal ini kalau di bidang teknologi tepat guna, memanfaatkan potensi yang ada seluas-luasnya untuk meningkatkan penghasilan mereka,” tutur Misrawati.

Harapannya, apabila inovasi masyarakat tersebut bernilai ekonomi tinggi, nantinya akan menjadi sumber pemasukan bagi daerah juga. Dengan demikian, PAD dapat disalurkan ke desa-desa untuk pembangunan berkelanjutan.

Selain dari pemerintah, beberapa perusahaan perkebunan sawit juga turut terjun ke lapangan membantu petani mendapatkan pemasukan pada masa replanting.

Rafmen, Deputy Head Kemitraan Asian Agri, menyampaikan sebagai perusahaan perkebunan besar di Indonesia dalam menjalankan kegiatannya tetap fokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, mengelola SDA yang berkelanjutan, dan meningkatkan potensi mitra

“Dengan demikian, keberadaan perusahaan senantiasa menciptakan manfaat bagi masyarakat, negara, iklim, pelanggan, dan perusahaan itu sendiri,” kata Rafmen.

Untuk mendorong pengembangan kewirausahaan petani di berbagai sektor, kata Rafmen, perseroan memberikan dukungan berupa alih teknologi perkebunan, penyediaan bibit unggul Topaz produksi Asian Agri, dan capacity building untuk petani dan organisasinya.

“Hal itu untuk mendorong masyarakat dan petani untuk berusaha atau berbisnis sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing,” jelas Rafmen.

Di tengah kondisi petani yang gamang memasuki masa replanting, Rafmen menilai pendapatan alternatif harus dicari untuk menjaga pundi-pundi keuangan. Melakukan kreasi dengan jiwa kewirausahaan yang tinggi pun bakal dapat mencukupi kehidupan petani selama masa tunggu.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

# Hot Topic

Rekomendasi Kami

Foto

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper