Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertumbuhan Kredit di Riau Masih Terbatas 

Bank Indonesia Perwakilan Riau mencatat pemulihan pertumbuhan kredit pada 2019 di Bumi Lancang Kuning masih terbatas. Hal itu seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global yang turut berdampak pada laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  15:03 WIB
Logo Bank Indonesia - Reuters
Logo Bank Indonesia - Reuters

Bisnis.com, PEKANBARU - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Utama Pekanbaru mencatat pertumbuhan kredit sebesar 6,5 persen secara year-on-year (yoy) pada 2019. Pemangkasan suku bunga dari Bank Indonesia sebesar 100 bps di sepanjang 2019 pun diharapkan dapat lebih menggenjot kredit di Bumi Lancang Kuning pada tahun ini.

Sementara itu, Bank Indonesia Perwakilan Riau mencatat pemulihan pertumbuhan kredit pada 2019 di Bumi Lancang Kuning masih terbatas. Hal itu seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global yang turut berdampak pada laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau.

Pemimpin Cabang BNI Pekanbaru Alkab Mansyur menyampaikan bahwa penyaluran kredit di tempatnya masih bertumbuh secara tahunan pada 2019 sebesar 6,5 persen.

"[Penyalurannya] masih mendominasi ke sektor UMKM," katanya kepada bisnis, Selasa (14/1/2020).

Adapun, dengan prospek pemangkasan suku bunga dari Bank Indonesia pada 2019, Alkap menargetkan pertumbuhan kredit di kantor cabang bank pelat merah itu bisa tumbuh 15 persen yoy pada 2020. 

Diharapkan, sektor industri akan lebih bergairah sehingga dapat menggenjot penyaluran kredit perseroan.

Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Riau, per November 2019 pertumbuhan kredit di Riau berdasarkan lokasi proyek tumbuh 2,6 persen yoy  atau jauh lebih lambat ketimbang 2018 yang sebesar 20,2 persen.

Sementara itu, pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi bank di Riau tumbuh 7,2 persen, juga turun dari posisi 7,8 persen pada 2018.

Adapun, penyaluran kredit di Tanah Melayu terpantau lebih banyak ke sektor perorangan untuk konsumsi sebesar 32,2 persen. Selanjutnya untuk sektor pertanian tersalurkan sebesar 22,1 persen, perdagangan, restoran, dan hotel sebesar 13,5 persen, perindustrian sebesar 12,3 persen, konstruksi sebesar 9,3 persen, dan lain-lain sebesar 10,7 persen.

Sementara berdasarkan penggunaannya, kredit di Riau mengalir ke modal kerja sebesar 28,2 persen, investasi sebesar 39,6 persen, dan konsumsi sebesar 32,2 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Decymus menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit di suatu daerah biasanya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Mengingat pertumbuhan ekonomi Riau sejak 2013 cenderung melambat, logikanya pertumbuhan kredit pun akan ikut melempem.

“Terus yang kedua begini, ini surprise, tahun lalu kita mencatat pertumbuhan [kredit] yang sangat tinggi sampai 20 persen pada 2018. Memang betul 2019 pertumbuhan kredit kita cukup melambat, tapi itu berdasarkan lokasi proyek,” kata Decymus saat ditemui di kantornya, akhir pekan lalu.

Decymus menjelaskan bahwa kredit berdasarkan lokasi proyek merupakan pembiayaan yang diberikan oleh perbankan di luar Riau. Untuk ini memang terjadi penurunan tajam per November 2019 dibandingkan pencapaian pada 2018.

Namun demikian, penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank di Riau alias pembiayaan diberikan oleh perbankan yang ada di Riau saja justru masih terjaga di kisaran 7 persen.

Decymus pun masih mengapresiasi pertumbuhan kredit tersebut. Pasalnya, apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pertumbuhan ekonomi tetap mampu menyamai penyaluran kredit nasional.

“Yang turun kontribusi pembiayaan di Riau itu adaah dari perbankan luar Riau. Perbankan di Riau itu justru naik dalam memberikan pembiayaan di sini. Overall, nasional yang tumbuh 5 persen dan kreditnya paling kuat 7 persen. Sedangkan Riau yang ekonominya tumbuh 2 persen-an bisa juga tumbuh 7 persen, ini hebat menurut saya,” jelas Decymus.

MENJAGA KONSUMSI

Porsi penyaluran kredit yang lebih besar ke perorangan disebut Decymus perlu dijaga. Pasalnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi di Tanah Melayu.

“Penyaluran [kredit] terbesar itu masih untuk kredit perorangan,  konsumsi. Itu sebabnya saya paham Pak Syamsuar [Gubernur Riau] itu selalu jadi perhatian beliau tentang penyaluran kredit. Tujuannya agar menjaga daya beli masyarakat tidak semakin melemah di samping kami juga menjaga inflasi,” tutur Decymus.

Dirinya menunjukkan bahwa inflasi perlu dijaga di tengah ancaman perlambatan ekonomi. Jika harga-harga naik tak beraturan, daya beli masyarakat dapat semakin tergerus.

Adapun inflasi di Provinsi Riau pada 2019 terpantau cukup terkendali sebesar 2,36 persen yoy. Untuk 2020, diperkirakan inflasi dapat dijaga pada rentang 3,1 persen dengan plus-minus 1 persen.

Untuk menggairahkan perekonomian, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga sebanyak 4 kali di sepanjang 2019. Hal itu, lanjut Decymus, telah direspons oleh perbankan di Riau dengan melakukan penyesuaian suku bunga.

Adapun saat ini suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Riau turun menjadi 3,19 persen dari sebelumnya 3,31 persen. Selain itu, suku bunga kredit juga terus melanjutkan tren penurunan menjadi 10,71 persen dari sekitar 12 persen sejak pertengahan 2017.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

riau kredit
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top