BI Catat Pertumbuhan Kredit di Riau Masih Terbatas

Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Riau, per November 2019 pertumbuhan kredit di Riau berdasarkan lokasi proyek tumbuh 2,6% yoy atau jauh lebih lambat ketimbang 2018 yang sebesar 20,2%.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  13:13 WIB
BI Catat Pertumbuhan Kredit di Riau Masih Terbatas
Sebuah kapal kargo berbendera asing memuat bungkil inti sawit (palm kernel meal) di terminal curah cair Dermaga C Pelabuhan PT. Pelindo I Dumai di Dumai, Riau, Sabtu (11/1/2020). Kunjungan kapal selama tahun 2019 di terminal curah cair pelabuhan umum PT. Pelindo I Dumai sebanyak 810 armada kapal atau kunjungan per bulannya sebanyak 60 - 80 kapal dengan nilai produksi curah cair komoditas kelapa sawit (CPO) sebanyak 6.122.366 ton. - Antara/Aswaddy Hamid

Bisnis.com, PEKANBARU — Bank Indonesia Perwakilan Riau mencatat pemulihan pertumbuhan kredit pada 2019 di Bumi Lancang Kuning masih terbatas. Hal itu seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global yang turut berdampak pada laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau.

Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Riau, per November 2019 pertumbuhan kredit di Riau berdasarkan lokasi proyek tumbuh 2,6% yoy  atau jauh lebih lambat ketimbang 2018 yang sebesar 20,2%.

Sementara itu, pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi bank di Riau tumbuh 7,2%, juga turun dari posisi 7,8% pada 2018.

Adapun, penyaluran kredit di Tanah Melayu terpantau lebih banyak ke sektor perorangan untuk konsumsi sebesar 32,2%. Selanjutnya untuk sektor pertanian tersalurkan sebesar 22,1%, perdagangan, restoran, dan hotel sebesar 13,5%, perindustrian sebesar 12,3%, konstruksi sebesar 9,3%, dan lain-lain sebesar 10,7%.

Sementara berdasarkan penggunaannya, kredit di Riau mengalir ke modal kerja sebesar 28,2%, investasi sebesar 39,6%, dan konsumsi sebesar 32,2%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Decymus menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit di suatu daerah biasanya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Mengingat pertumbuhan ekonomi Riau sejak 2013 cenderung melambat, logikanya pertumbuhan kredit pun akan ikut melempem.

“Terus yang kedua begini, ini surprise, tahun lalu kita mencatat pertumbuhan [kredit] yang sangat tinggi sampai 20% pada 2018. Memang betul 2019 pertumbuhan kredit kita cukup melambat, tapi itu berdasarkan lokasi proyek,” kata Decymus saat ditemui di kantornya, akhir pekan lalu.

Dirinya menjelaskan bahwa kredit berdasarkan lokasi proyek merupakan pembiayaan yang diberikan oleh perbankan di luar Riau. Untuk ini memang terjadi penurunan tajam per November 2019 dibandingkan pencapaian pada 2018. Namun demikian, penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank di Riau alias pembiayaan diberikan oleh perbankan yang ada di Riau saja justru masih terjaga di kisaran 7%.

Decymus pun masih mengapresiasi pertumbuhan kredit tersebut. Pasalnya, apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sekitar 5% dapat membawa penyaluran kredit nasional sekitar 7%, pertumbuhan ekonomi Riau yang hanya sekitar 2% tetap mampu menyamai penyaluran kredit yang juga sebesar 7%.

“Yang turun kontribusi pembiayaan di Riau itu adalah dari perbankan luar Riau. Perbankan di Riau itu justru naik dalam memberikan pembiayaan di sini. Overall, nasional yang tumbuh 5% dan kreditnya paling kuat 7%. Sedangkan Riau yang ekonominya tumbuh 2%-an bisa juga tumbuh 7%, ini hebat menurut saya,” jelas Decymus.

Menjaga Konsumsi

Adapun porsi penyaluran kredit yang lebih besar ke perorangan disebut Decymus perlu dijaga. Pasalnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi di Tanah Melayu.

“Penyaluran [kredit] terbesar itu masih untuk kredit perorangan,  konsumsi. Itu sebabnya saya paham Pak Syamsuar [Gubernur Riau] itu selalu jadi perhatian beliau tentang penyaluran kredit. Tujuannya agar menjaga daya beli masyarakat tidak semakin melemah di samping kami juga menjaga inflasi,” tutur Decymus.

Dirinya menunjukkan bahwa inflasi perlu dijaga di tengah ancaman perlambatan ekonomi. Pasalnya, jika harga-harga naik tak beraturan dapat semakin menggerus daya beli masyarakat.

Adapun inflasi di Provinsi Riau pada 2019 terpantau cukup terkendali sebesar 2,36% yoy. Untuk 2020, diperkirakan inflasi dapat dijaga pada rentang 3,1% dengan plus-minus 1%.

Untuk menggairahkan perekonomian, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga sebanyak 4 kali di sepanjang 2019. Hal itu, lanjut Decymus, telah direspons oleh perbankan di Riau dengan melakukan penyesuaian suku bunga.

Adapun saat ini suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Riau turun menjadi 3,19% dari sebelumnya 3,31%. Selain itu, suku bunga kredit juga terus melanjutkan tren penurunan menjadi 10,71% dari sekitar 12% sejak pertengahan 2017.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, riau

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top