2019, Ekspor Produk Perikanan Batam Rp 379,6 Miliar

Sepanjang tahun 2019, frekuensi ekspor produk perikanan melalui beberapa wilayah kerja (Wilker) Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu (SKIPM) Kota Batam menyentuh angka 3.145 kali. Dari jumlah tersebut, total nilai ekspor yang dihasilkan sebesar Rp 379.666.749.326.
Bobi Bani
Bobi Bani - Bisnis.com 13 Januari 2020  |  08:16 WIB
2019, Ekspor Produk Perikanan Batam Rp 379,6 Miliar
Kasubsi Wasdalin Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu (SKIPM) Batam Dwi Sulistiyono. JIBI - Bisnis/Bobi Bani.

Bisnis.com, BATAM - Sepanjang tahun 2019, frekuensi ekspor produk perikanan melalui beberapa wilayah kerja (Wilker) Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu (SKIPM) Kota Batam menyentuh angka 3.145 kali. Dari jumlah tersebut, total nilai ekspor yang dihasilkan sebesar Rp 379.666.749.326.

Berdasarkan frekuensi ekspor yang dilakukan, lima negara utama tujuan ekspor produk perikanan asal Batam ini masih berada di kawasan Asia. Singapura menjadi yang utama dengan frekuensi ekspor sebanyak 3.057 kali. Disusul Jepang sebanyak 33 kali; China 27 kali; Hong Kong 20 kali; dan Malaysia sebanyak 8 kali.

Untuk komoditas produk perikanan yang diekspor sendiri, kelompok ikan konsumsi segar/beku menjadi yang tertinggi dengan volume sebesar 4.650.600 kilogram senilai Rp 331.057.791.941.

Disusul komoditas ikan konsumsi hidup dengan volume sebanyak 1.202.882 ekor dengan nilai ekonomis Rp 43.883.479.385. Dan komoditas ikan hias dengan volume sebanyak 17.311 ekor senilai Rp 1.435.315.000.

"Ikan konsumsi hidup itu diekspor ke China, Jepang," kata Kasubsi Wasdalin Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu (SKIPM) Batam Dwi Sulistiyono.

Sulistiyono melanjutkan, bulan November menjadi bulan dengan frekuensi ekspor produk perikanan segar/beku sebanyak 571,423 ton.

Untuk ekspor ikan hias sendiri tertinggi terjadi pada bulan Oktober sebanyak 2.554 ekor. Sedangkan berdasarkan nilai ekonomisnya, ekspor tertinggi terjadi pada bulan Mei senilai Rp41,831 miliar.

Sementara itu, nilai impor produk perikanan ke Kota Batam mencapai angka Rp12,1 miliar, tepatnya Rp12.152.066.783. Angka ini bersumber dari impor komoditas ikan hias dengan jumlah sebanyak 1.055 ekor senilai Rp 105.500 dan komoditas ikan konsumsi segar/beku dengan jumlah 319.084 kilogram, senilai Rp12.046.566.783.

Selain Singapura yang menjadi negara utama impor produk perikanan, China masuk dalam tiga besar menyusul Malaysia yang ada di urutan kedua. Dari 32 kali impor, China ambil bagian dalam tiga kali impor produk perikanan; Malaysia sebanyak 6 kali; dan Singapura sebanyak 26 kali.

Bulan Januari 2019, menjadi waktu impor komoditas ikan konsumsi segar/beku tertinggi dengan nilai 64.730 ton. Sementara, untuk ikan hias sendiri terjadi pada Juni 2019 dengan jumlah 300 ekor. 

Impor ikan hias ini sendiri hanya dilakukan di bulan Mei, Juni, Juli, dan Oktober, November, serta Desember. Sedangkan komoditas ikan konsumsi segar/beku hanya absen di bulan Juni, Juli, dan November.

Sementara itu, meski menjadi negara dominan dengan 26 kali impor produk perikanan dari Singapura, negara tetangga ini tidak mengirim ikan dalam bentuk utuh.

"Kalau impor Singapura itu biasanya sirip hiu yang diolah di Batam," kata Sulistyono lagi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batam, perikanan

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top