Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penolakan oleh Thailand tak Pengaruhi Ekspor Kelapa Sumsel

Penolakan ekspor kelapa Sumatra Selatan oleh Thailand pada pertengahan November 2019 dinilai tidak berpengaruh pada catatan ekspor komoditas itu sepanjang tahun ini.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 17 Desember 2019  |  12:56 WIB

Bisnis.com, PALEMBANG – Penolakan ekspor kelapa Sumatra Selatan oleh Thailand pada pertengahan November 2019 dinilai tidak berpengaruh pada catatan ekspor komoditas itu sepanjang tahun ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan ekspor kelapa Sumsel tercatat meningkat pada November 2019 dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kalau kita lihat untuk ekspor kelapa ternyata tidak berpengaruh, karena ekspornya masih naik di bulan November ini kita lihat trennya pun juga naik,” katanya, Selasa (17/12/2019).

Dia memerinci ekspor kelapa Sumsel pada bulan November 2019 sebesar 3,23 persen, mengalami kenaikan US$0,72 Juta dibandingkan ekspor pada bulan Oktober 2019 yang tercatat sebesar 2,51 persen.

“Kalau kemarin ke Thailand [ekspor] ada sedikit masalah tentu menjadi PR bagi OPD terkait untuk memperbaiki. Kalau mempengaruhi ya pasti akan turun drastis kan dan ini tidak,” katanya.

Selain kelapa perkembangan ekspor komoditi Sumsel lainnya yang cukup menggembirakan, kata Endang, adalah ekspor minyak kelapa sawit dan fraksinya.

Jika bulan Oktober ekspor minyak kelapa sawit sebesar 3,69 persen di bulan November ekspor mengalami kenaikan menjadi 13,61 persen atau senilai US$ 9,93 Juta.

Sementara itu secara keseluruhan nilai ekspor Provinsi Sumsel bulan November 2019 sebesar US$326,30 Juta yang terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 24,48 juta dan US$ 301, 82 Juta merupakan hasil ekspor komoditi nonmigas.

"Ya ekspor kita pada November turun sebesar 8,12 persen dibandingkan ekspor Oktober. Penurunan ekspor ini pemicu utamanya adalah perekonomian global,” katanya.

Adapun lima komoditas ekspor dari Provinsi Sumsel yang terbesar pada bulan November 2019 adalah bubur kayu/pulp senilai US$97,02 juta, Karet senilai US$83,86 juta, Batubara senilai US$74,04 juta, hasil minyak senilai US$24,48 Juta serta Kelapa Sawit dan fraksinya senilai US$13,61 Juta.

Untuk nilai impor Sumsel pada bulan November 2019 jelas Endang mengalami penurunan sebesar US$33,53 Juta atau turun sebesar 19,88 persen jika dibandingkan dengan bulan Oktober 2019 yang sebesar US$41,84 Juta. Sebagian besar Impor ini erasal dari negara Tiongkok sebesar US$12,82 Juta, Malaysia sebesar US$4,59 Juta dan Swedia sebesar US$2,02 Juta.

" Total perdagangan luar negeri Sumsel bulan November ini surplus kita sebesar US$292,77 juta. Tugas BPS kan hanya "memotret" tidak bisa memberikan rekomendasi tapi untuk referensi,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kelapa
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top