Dongkrak Okupansi Hotel di Sumut Hingga 15 Persen

Ketua PHRI Sumut Denny S. Wardhana mengatakan sampai dengan September 2019 peningkatan tingkat keterisian kamar terbilang belum stabil. Menurutnya, hal tersebut masih dibayangi naiknya harga tiket pesawat rute domestik, sehingga banyak yang enggan untuk mencari hotel atau berwisata di Sumatra Utara.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  19:50 WIB
Dongkrak Okupansi Hotel di Sumut Hingga 15 Persen
Ilustrasi

Bisnis.com, MEDAN— Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Sumatra Utara menharapkan okupansi atau tingkat keterisian kamar hotel di Sumut dapat meningkat 10 persen-15 persen sampai dengan akhir tahun ini. Mengingat selama ini peningkatan masih di bawah rata-rata okupansi hotel sebesar 50 persen.

Ketua PHRI Sumut Denny S. Wardhana mengatakan sampai dengan September 2019 peningkatan tingkat keterisian kamar terbilang belum stabil. Menurutnya, hal tersebut masih dibayangi naiknya harga tiket pesawat rute domestik, sehingga banyak yang enggan untuk mencari hotel atau berwisata di Sumatra Utara.

Sebagai gambaran, dia menyebut bila dibandingkan tahun lalu, tahun ini cenderung lebih sepi karena konsumen yang sebagian besar merupakan institusi swasta juga pemerintah memilih untuk mencari hotel di lain kota seperti kota di Jawa yang tak memerlukan biaya tinggi untuk tiket pesawat.

“Saat ini pertumbuhan tingkat okupansi belum stabil atau belum signifikan meskipun data BPS menunjukan peningkatan dibandingkan tahun lalu” kata Denny saat dikonfirmasi Bisnis Jumat (11/10/2019).

Dia berharap permintaan aktivitas meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) atau petemuan, insentif, konvensi, dan pameran di Sumatra Utara dapat meningkat. Pasalnya, aktivitas tersebut tidak hanya mendongkrak okupansi, tetapi juga rata-rata lama menginap (RLM).

Untuk itu, seluruh pemangku kepentingan di Sumut mulai dari pemkot, pelaku usaha wisata, PHRI, hingga masyarakat perlu mendorong penyelenggaraan acara besar baik di tingkat nasional ataupun internasional. Sebelumnya kerap menjadi pilihan untuk melakukan pertemuan, pameran dan konvensi. Sayangnya, di tahun ini kegiatan cenderung lebih lengang.

“Peningkatan kerjasama dengan Asita dan pihak airlines untuk promo juga dibutuhkan,” tambahnya.

Menurutnya, akibat alasan itu, tak heran bila tingkat keterisian kamar untuk hotel kategori bintang 3 dan di atasnya menurun. Meskipun sebelumnya telah disebutkan bahwa harga tiket pesawat akan diturunkan, belum terlihat kenaikan okupansi dari sekiranya 250 anggota PHRI Sumut.

Di sisi lain, sejak tahun lalu, belum ada tambahan hotel baru berbintang di Medan. Tambahan hotel, katanya, saat masih dalam proses. Salah satu tambahan hotel berbintang terdapat di daerah Sidempuan. Dia mengatakan di beberapa daerah Sumut masih membutuhkan hotel standar berbintang. “Khususnya di daerah titik-titik wisata dibutuhkan hotel berbintang,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumut

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top