Karhutla Makin Perburuk Stigma Sawit Indonesia di Eropa

Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Sumatra Selatan menilai stigma buruk masyarakat Eropa terhadap komoditas sawit dapat meningkat seiring maraknya tudingan perusahaan perkebunan sawit menjadi biang kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 23 September 2019  |  18:12 WIB
Karhutla Makin Perburuk Stigma Sawit Indonesia di Eropa
Dari kiri ke kanan: Ketua DPD Apindo Sumsel Sumarjono Saragih (dari kanan) berbincang dengam Ketua Gapki Sumsel Harry Hartanto saat acara diskusi Survei Daya Saing Usaha yang digelar di Palembang pad Senin 23 September 2019. Bisnis - dinda wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG - Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Sumatra Selatan menilai stigma buruk masyarakat Eropa terhadap komoditas sawit dapat meningkat seiring maraknya tudingan perusahaan perkebunan sawit menjadi biang kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Ketua DPD Apindo Sumsel, Sumarjono Saragih, mengatakan karhutla yang terjadi di provinsi penghasil sawit, seperti Sumsel, akan berimplikasi negatif pada industri sawit nasional, sehingga Apindo sangat menolak anggapan bahwa pengusaha sawit merupakan biang dari kebakaran lahan itu.

“Pengusaha dan buruh kami turut jadi korban atas kejadian ini, jika ada pengusaha menyuruh karyawannya untuk membakar untuk membuka lahan baru itu sama saja dengan bunuh diri,” katanya di sela acara survey daya saing usaha, Senin (23/9/2019).

Menurut Sumarjono, merujuk pada data yang dirilis Global Forest Watch, karhutla yang terjadi hanya 15% yang berada di wilayah konsensi secara nasional.

“Bahkan untuk di Sumsel sendiri hanya 2% kebakaran di areal konsesi sawit dari total luas karhutla. Sisanya itu ya berada di tanah-tanah tidak bertuan yang tidak dijaga,” katanya.

Dia mengatakan setiap pengusaha perkebunan sudah mengetahui bahwa terikat pada aturan hukum yang bersifat “strick liability” atau tanggung jawab mutlak.

Artinya, jika terjadi kebakaran di dalam lahan konsesi yang diberikan izin oleh pemerintah maka akan bertanggung jawab mutlak meski sumber api tidak berasal dari dalam.

Sumarjono mengklaim pengusaha sangat konsentrasi pada antisipasi dan pengendalian karhutla, seperti membentuk tim internal, penyediaan sarana dan prasarana pemadaman kebakaran, termasuk upaya pencegahan dengan membentuk Desa Peduli Api dan Masyarakat Peduli Api yang ada di sekitar perkebunan.

Karhutla di Sumsel selama musim kemarau tahun ini dengan setidaknya telah menghanguskan lahan seluas 2.000 hektare yang tersebar di sejumlah kabupaten.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sawit, Karhutla

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top