Kabut Asap, Rugikan Ekonomi Sampai Paksa Warga Mengungsi

Kabut asap parah kembali mendera Indonesia, termasuk wilayah Pekanbaru di Riau, dan berdampak terhadap aktivitas ekonomi hingga kesehatan warga.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 16 September 2019  |  15:15 WIB
Kabut Asap, Rugikan Ekonomi Sampai Paksa Warga Mengungsi
Sejumlah anak penjual koran berpose di depan dua patung di Monumen Perjuangan Rakyat Riau dengan masker medis saat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pekat menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (14/9/2019). Belum bisa dipastikan siapa yang memasang masker di patung tersebut, tapi diduga sebagai bentuk protes terhadap penanganan karhutla dan kabut asap yang membuat kualitas udara di Riau tercemar hingga kategori berbahaya. - ANTARA FOTO/FB Anggoro

Bisnis.com, PEKANBARU -- Akhir pekan lalu, Alexander kembali menghubungi istrinya. Dia meminta kabar dari sang istri setelah mengungsikan keluarganya ke luar Pekanbaru karena kualitas udara di kota itu sudah masuk level berbahaya dalam sepekan terakhir.

"Sudah telepon tadi, istri dan anak saya mengungsi ke Payakumbuh, Sumatra Barat, kayaknya sampai udara di Pekanbaru kembali membaik," ungkap Alex, panggilan akrabnya, kepada Bisnis.

Alex dan banyak warga lain di Riau memang tidak punya banyak pilihan, saat ini. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak akhir Juli 2019, membuat kualitas udara di daerah itu terus menurun. Mulai dari level sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan kini sudah di posisi berbahaya.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), udara di Riau menjadi berbahaya karena asap karhutla dari wilayah selatan seperti Sumatra Selatan (Sumsel) dan Jambi dibawa oleh angin yang bergerak ke utara.

Pengendara kendaraan bermotor menembus kabut asap pekat dampak dari kebekaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Jumat (13/9/2019). Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah di Provinsi Riau yang terpapar kabut asap pekat yang mengakibatkan jarak pandang menurun drastis di Kota tersebut./Antara

Pada Senin (16/9/2019), data Air Visual menunjukkan Air Quality Index (AQI) dan polusi udara di Pekanbaru menyentuh 152, masuk dalam kategori tak sehat. Level tertinggi dalam sebulan terakhir adalah 181, yang terjadi pada Jumat (13/9).

Kondisi ini membuat penduduk di kelompok bayi, anak-anak, wanita hamil dan menyusui, serta lanjut usia rentan terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau menunjukkan angka penderita ISPA di wilayah itu mencapai 39.277 orang sepanjang Januari-11 September 2019, dengan jumlah penderita sampai 11 September saja sebanyak 9.931 orang. Tidak hanya ISPA, penyakit lain yang juga bakal terjadi akibat asap yaitu pneumonia, iritasi mata, iritasi kulit, diare, dan bronkitis akut.

Tak heran jika masyarakat yang memiliki pilihan untuk mengungsi ke luar kota memilih untuk "kabur" sementara ke daerah lain, Padang, Bandung, Yogyakarta, dan lainnya.

Namun, mereka yang tidak punya kemampuan untuk mengungsi terpaksa bertahan di Pekanbaru dengan mengurangi aktivitas luar ruangan.

Bagi yang punya AC akan punya kenaikan beban biaya listrik karena mesin itu harus menyala 24 jam. Saat keluar rumah pun warga harus menggunakan masker supaya dapat bernapas dengan baik, agar dada tidak terasa sesak akibat asap.

Aktivitas pendidikan seperti sekolah dan kuliah juga sudah dihentikan untuk sementara waktu sejak pekan lalu. Kebijakan itu diambil Pemerintah Daerah (Pemda) setempat agar aktivitas anak-anak dan masyarakat di luar rumah berkurang, sampai kondisi udara membaik.

Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pekanbaru dipulangkan lebih awal karena kualitas udara kembali memburuk akibat kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan, di Kota Pekanbaru, Riau, Senin (9/9/2019)./Antara

Tidak hanya itu, kegiatan ekonomi setempat ikut terganggu asap. Sektor yang paling awal terkena dampak yaitu bidang pariwisata dan akomodasi perhotelan.

Ketua Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) Riau Dede Firmansyah mengatakan pihaknya sudah mendapatkan aduan dari anggota tentang turunnya jumlah wisatawan yang datang ke daerah itu.

"Secara umum, anggota kami mengaku penjualan tiket dan paket wisata mengalami penurunan. Bisa dibilang setengahnya mengajukan pembatalan pesanan," sebutnya.

Pekan lalu, sebenarnya ada banyak agenda wisata dan hiburan yang digelar di Pekanbaru, dengan mendatangkan musisi-musisi ibu kota untuk sejumlah agenda musik yang berbeda. Misalnya, band Sheila On7, Efek Rumah Kaca, Noah, dan The Changcuters.

Ada pula agenda kegiatan religi seperti Hijrah Fest oleh Arie Untung bersama istrinya, lalu Yayasan Daarut Tauhid binaan Aa Gym yang mengadakan kegiatan dengan himpunan pengurus masjid setempat.

Dari beberapa agenda itu, ASITA Riau belum menerima laporan apakah ada yang dibatalkan terkait kabut asap.

Asap juga mulai mengganggu jadwal penerbangan di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Bahkan, ada pesawat yang terpaksa dialihkan mendarat ke Batam akibat terbatasnya jarak pandang.

ASITA Riau berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan permasalahan yang timbul dari bencana kabut asap di wilayah Riau dan Indonesia. Karena jika tidak, maka banyak pihak akan dirugikan dari bencana asap yang terus berlanjut ini.

Nelayan menepikan perahunya, di antara kabut asap, di Padang, Sumatera Barat, Jumat (13/9/2019). Nelayan setempat mengaku terganggu aktivitas melaut akibat kabut asap kiriman yang tersebar hingga ke laut dan menurunkan jarak pandang./Antara

Salah satu operator hotel mengaku terjadi penurunan jumlah tamu yang menginap di hotel dan pembatalan agenda Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition (MICE).

GM Labersa Grand Hotel Pekanbaru Yan Eka Putra menyatakan dampak kabut asap pada okupansi hotel bintang 5 itu sangat besar.

"Sangat besar pengaruhnya, okupansi kami jelas jatuh kurang lebih 50 persen penurunannya," tuturnya.

Tak hanya itu, hotel yang memiliki fasilitas MICE tersebut juga merasakan dampak lain, yaitu adanya pembatalan beberapa event yang sudah direncanakan.

Pekanbaru bukan satu-satunya daerah di Indonesia yang didera kabut asap akibat karhutla. Ada kota-kota dan kabupaten-kabupaten lain di berbagai provinsi di Indonesia yang juga mengalami situasi serupa.

Upaya Pemerintah
Adapun Pemda setempat mengaku sudah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi masalah yang timbul karena asap. 

Dinkes Riau misalnya, sudah membagikan sekitar 600.000 masker kepada penduduk sebagai langkah antisipasi bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.

Diluncurkan pula layanan ambulans darurat gratis bagi warga yang terkena ISPA, dengan menghubungi layanan 119 untuk wilayah Pekanbaru. Seluruh Puskesmas di daerah itu juga sudah ditetapkan sebagai posko kesehatan penanggulangan asap.

Anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Kabupaten Pulang Pisau melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di desa Tanjung Taruna Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (15/8/2019). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat di Kalteng terpantau 92 titik panas akibatnya kualitas udara di kota Palangkaraya tidak sehat./Antara

Wakil Gubernur Riau Edy Nasution menerangkan ada 5.800 personel satuan tugas (satgas) darat dari tim satgas karhutla Riau yang diterjunkan melakukan pemadaman api karhutla.

Di bidang hukum, satgas hukum sudah menetapkan 41 tersangka pembakar lahan dan salah satunya dari korporasi.

Pemerintah pusat seperti Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Panglima TNI, dan Kapolri juga kerap datang ke Riau untuk menangani masalah ini. Bahkan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Tito Karnavian tercatat sudah empat kali datang ke Pekanbaru untuk meninjau aktivitas pemadaman karhutla di kabupaten/kota.

"Upaya pemerintah dalam operasi pemadaman karhutla ini sudah sekitar 28.000 kali service pesawat dan helikopter waterbombing. Total air yang disiramkan untuk wilayah Riau berjumlah 112 juta liter," ucap Hadi di Pekanbaru, Sabtu (14/9).

Tentu upaya pemerintah ini diharapkan dapat segera mengakhiri masalah kabut asap yang sudah menghantui sejak 22 tahun lalu.

"Sebulan lalu saat asap mulai banyak, kami sudah takut bencana seperti 2015 terjadi lagi. Akhirnya sekarang sebagian warga mengungsi karena ketakutan itu sudah jadi nyata. Semoga masalah ini segera teratasi," ujar Dede penuh harap.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
riau, fokus, Kabut Asap

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top