11 Perusahaan di Sumut Disetujui Jadi Calon Emiten

Sebelas nama perusahaan di Sumut telah mengantongi izin untuk menjadi emiten. Meski demikian, minat korporasi di Sumatra Utara untuk melakukan penghimpunan dana dari pasar modal dinilai masih rendah jika dibandingkan dengan potensi yang ada.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 13 September 2019  |  15:17 WIB
11 Perusahaan di Sumut Disetujui Jadi Calon Emiten
Pengunjung beraktivitas di dekat papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, MEDAN— Sebelas nama perusahaan di Sumut telah mengantongi izin untuk menjadi emiten. Meski demikian, minat korporasi di Sumatra Utara untuk melakukan penghimpunan dana dari pasar modal dinilai masih rendah jika dibandingkan dengan potensi yang ada.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menggali potensi-potensi calon emiten, sehingga perusahaan publik di Sumatra Utara semakin meningkat.

Kepala OJK Regional V Sumbagut Yusup Ansori mengatakan otoritas bersama PT Bursa Efek Indonesia Perwakilan Sumut secara reguler melakukan sosialisasi, salah satunya kepada bank BUMN untuk menggali potensi calon emiten dari debitur mereka.

“Kemarin sudah ada dua perbankan, dan nanti akan tambah satu bank lagi. Harapannya calon emiten di Sumatra Utara semakin meningkat,” kata Yusup menjawab pertanyaan Bisnis, dikutip Jumat (13/9/2019).

Terkait potensi perusahaan yang melakukan IPO, lanjut Yusup, Sumatra Utara memiliki PT Bank Sumut. Saat ini Bank Sumut telah menentukan target untuk menjadi perusahaan terbuka. “Target sudah ada dari mereka, minimal dua tahun mereka akan IPO atau go-public,” ujar Yusup.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Djustini Septiana menambahkan sebenarnya jumlah perusahaan yang layak untuk melakukan penawaran saham perdana di bursa cukup banyak. Saat ini, pihaknya telah mengantongi 11 nama perusahaan yang telah disetujui untuk menjadi emiten.

“Kami baru dapat data sekitar 11 nama [perusahaan] yang disetujui untuk tahap awal menjadi emiten. Sebenarnya masih banyak lagi [yang berpotensi], hanya kami belum tahu saja,” ujarnya.

Ada sejumlah kendala yang membuat korporasi enggan melantai di bursa, antara lain karena alasan laporan keuangan termasuk jumlah laba dan aset, masalah perpajakan, serta konflik internal perusahaan.

Kendati begitu, lanjut Djustini, saat ini baik perusahaan kecil maupun besar memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke pasar modal. Bukan hanya menyoal laba saja, perusahaan layak go-public adalah yang memiliki prospek ke depan.

“Jadi kita tidak mengukur besar kecilnya perusahaan itu. Selama perusahaan tersebut beberapa tahun memiliki prospek mestinya itu layak di pasar modal,” jelas Djustini.

Direktur Utama PT. Bursa Efek Indonesia Inarno Djayadi mengatakan selama ini banyak yang beranggapan perusahaan go-public hanya perusahaan yang besar atau perusahaan yang membukukan laba saja. Padahal, saat ini, BEI juga memfasilitasi berbagai level korporasi.

“Memang kami ada papan utama yang mensyaratkan agak ketat, seperti harus untung, operasional tiga tahun. Tapi, kami ada pakem pengembangan, tidak harus selalu dari keuntungan tetapi yang penting prospek ke depannya. Kami juga ada papan akselerasi, itu akan lebih ringan lagi untuk memfasilitasi perusahaan yang kecil atau medium,” papar Inarno.

Menurut Inarno hingga saat ini baru terdapat 6 emiten saham dan 2 emiten obligasi di Sumatra Utara. Perusahaan efek memiliki 26 kantor cabang yang tersebar di Sumut, tercatat 7 kantor cabang manajer investasi, dan 12 galeri investasi BEI.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa, sumut

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top