Koreksi Volume Ekspor Karet Sumut Berlanjut

Tercatat, volume ekspor periode Januari- Juli 2019 mencapai 237.036 ton, turun sebesar 11% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 06 September 2019  |  12:33 WIB
Koreksi Volume Ekspor Karet Sumut Berlanjut
Petani mengumpulkan getah karet hasil panen di perkebunan Bathin II Babeko, Bungo, Jambi, Sabtu (30/3/2019). Harga jual getah karet di tingkat petani setempat berangsur naik dari Rp8.000 per kilogram pada minggu lalu menjadi Rp8.200 per kilogram per hari ini. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan

Bisnis.com, MEDAN — Volume ekspor karet alam Sumatra Utara belum pulih, justru terus mengalami penurunan. Tercatat, volume ekspor periode Januari- Juli 2019 mencapai 237.036 ton, turun sebesar 11% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah menyebutkan volume ekspor pada Juli 2019 juga mengalami penurunan sebesar sebesar 18,91% (yoy) menjadi 33.641 ton dari 41.489 ton pada periode yang sama.

Adapun untuk pengapalan bulan ini, Gapkindo Sumatra Utara memperkirakan penurunan volume ekspor akan terjadi kembali. Kali ini, penetapan pembatasan ekspor yang disetujui oleh negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) melalui skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) ditengarai akan menjadi penyebabnya.

“Adanya pengurangan ekspor melalui skema AETS untuk pengapalan Juli 2019,” kata Edy kepada Bisnis, dikutip Jumat (6/9/2019).

Seperti diketahui, pemerintah melalui Menteri Perdagangan menugaskan Gapkindo untuk menjalankan pembatasan ekspor melalui skema AETS. Penugasan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan No. 779 Tahun 2019 Tentang Pelaksanaan Agreed Export Tonnage Scheme keenam untuk komoditi karet alam.

Ekspor karet Indonesia akan dikurangi sebesar 98.160 ton untuk kurun waktu 1 April hingga 31 Juli 2019. Hal yang sama juga berlaku bagi dua negara anggota ITRC lainnya yakni Malaysia dan Thailand dengan proporsinya masing-masing.

Dengan dilakukannya pengurangan ini, maka alokasi ekspor karet Indonesia selama periode pelaksanaan ditetapkan sebesar 256.863 ton pada April, 245.015 ton untuk Mei, 173.880 ton di Juni, dan 266.033 ton pada Juli.

Dia menambahkan bahwa menurunnya pasokan dipicu karena rendahnya harga yang mengakibatkan banyak petani karet yang tidak berproduksi karena mencari pekerjaan lain yang lebih menguntungkan.

Terkait penurunan harga karet, pemerintah saat ini tengah berupaya baik dengan meningkatkan serapan karet dalam negeri dan bekerja sama dengan para negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC).

Di samping itu, adapula upaya untuk melakukan peremajaan tanaman karet yang sudah menua dan tidak lagi produktif. Sejumlah upaya diharapkan bisa membangunkan pasar dan harga karet bisa menjadi lebih baik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet, sumut

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top