Dipicu Karhutla, 275.502 Warga Sumatra Derita ISPA

Jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di Sumatra Selatan mencapai 274.502 orang selama periode Januari–Juni 2019 karena dipicu kebakaran hutan dan lahan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  09:05 WIB
Dipicu Karhutla, 275.502 Warga Sumatra Derita ISPA
Suasana kebakaran lahan gambut di Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Rabu (30/1/2019). - ANTARA/Syifa Yulinnas

Bisnis.com, PALEMBANG - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan mulai berdampak pada kesehatan warga.

Jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di Sumatra Selatan mencapai 274.502 orang selama periode Januari–Juni 2019 karena dipicu kebakaran hutan dan lahan.

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nuraini mengatakan penyakit ISPA cenderung rentan menyerang saat musim kemarau yang memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa lokasi di Sumsel.

“Kami sudah mengirim imbauan kepada pemerintah daerah untuk menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan mengantisipasi terjadinya kabut asap menjelang puncak musim kemarau,” kata Lesty.

Menurut Lesty, Kota Palembang menjadi daerah paling tinggi jumlah penderita ISPA yang mencapai 80.162 orang selama periode tersebut.

Kemudian, disusul Banyuasin dengan penderita mencapai 36.871 orang, Muara Enim sejumlah 35.405 orang, Musi Banyuasin 21.871 orang dan Ogan Komering Ilir 13.292 orang.

Lesty mengemukakan daerah yang paling rawan terdampak kabut asap yakni Palembang, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Lahat.

“Untuk Palembang sebenarnya bukan sumber asap, namun menjadi wilayah paling parah terdampak asap seperti yang terjadi pada 2015 kemarin. Arah angin dari sumber asap yakni di OKI dan Ogan Ilir membawa asap hingga ke Palembang,” ujar Lesty.

Secara bulanan, bulan April menjadi masa paling parah dengan jumlah 54.409 penderita, disusul Maret dengan 54.237 penderita, sebanyak 50.837 penderita pada Februari, Januari 44.142, Mei dengan 40.459 penderita dan 30.418 penderita pada Juni.

Lesty menjelaskan ISPA bukan hanya disebabkan oleh kabut asap, namun virus yang menyerang sistem pernapasan pun bisa menyebabkan ISPA.

Namun demikian, kata dia, kabut asap yang membawa partikel kebakaran akan memperburuk potensi bertambahnya penderita.

“Dengan datangnya musim kemarau, potensi karhutla menyebabkan terjadinya kabut asap pun akan semakin tinggi. Oleh karena itu kami sudah melakukan sejumlah antisipasi pencegahan dan penanggulangan,” kata dia.

Untuk langkah pencegahan dan pengendalian, Dinkes Sumsel telah menginstruksikan Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk melakukan langkah-langkah penanggulangan, seperti meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menggunakan masker apabila bepergian, serta memperbanyak minum air putih.

Ia menjelaskan, bila terjadi peningkatan kasus penderita ISPA, pneumonia, konjungtivitis, dan diare di daerah, pihaknya meminta kepada surveilans kesehatan melakukan langkah-langkah pengendalian dengan cermat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Karhutla

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top