Kebakaran Hutan di Sumsel  Capai 257,9 Hektare

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melanda 257,9 hektare sejak musim kemarau tiba pada Juni 2019.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  16:05 WIB
Kebakaran Hutan di Sumsel  Capai 257,9 Hektare
Lokasi kebakaran lahan di Desa Pulo Keronggan, Kec Pedamaran Timur, Ogan Komering Ilir, Sumsel, Minggu (6/9). Presiden meminta Kapolri untuk menindak tegas pelaku dan perusahaan yang membakar lahan dengan sengaja. - Antara

Bisnis.com, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melanda 257,9 hektare sejak musim kemarau tiba pada Juni 2019.

Kepala BPBD Sumsel Iriansyah mengatakan karhutla terus meluas namun belum menimbulkan bencana asap.

“Meski begitu, untuk saat ini asap belum nampak di Sumsel. ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) masih di angka 50, dan jarak pandang masih normal di atas 10 kilometer,” katanya, Senin (5/8/2019).

 Iriansyah memerinci luasan lahan tersebar di sejumlah daerah, di antaranya Kabupaten Ogan Ilir 121,15 hektare, Banyuasin 6 hektare, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 57,75 hektare, Lubuklinggau 0,5 hektare, Musi Banyuasin 4 hektare, dan OKI 68,5 hektare.

 Ia mengungkapkan, memang sejak sepekan, kebakaran lahan terdeteksi terjadi di Sumsel. Hal itu dikarenakan banyak faktor baik alam ataupun ulah manusia.

 Adapun kendala yang ditemukan dalam upaya memadamkan kebakaran lahan di Sumsel, yakni kebakaran cukup luas dan tersebar di lokasi yang sulit terjangkau oleh tim darat.

 Kemudian didukung pula oleh kondisi cuaca yang panas dan tiupan angin yang cukup kencang membuat api semakin membesar.

 “Yang paling menjadi kendala pemadaman di lapangan yakni terbatasnya sumber air,” kata dia.

 Di lapangan, kata dia, pihaknya masih kerap menemukan adanya kebiasaan masyarakat membakar lahan, juga masih banyak lahan yang belum jelas status kepemilikannya, sehingga membuat lahan tersebut rawan terjadi kebakaran.

 “Masalahnya juga terkadang, kebakaran terjadi karena adanya orang iseng membuang puntung rokok,” ujanya.

 Pihaknya sudah melakukan pemetaan desa rawan kebakaran lahan yakni sebanyak 90 desa. Selain itu juga sudah ada bantuan dari pusat yakni 1.512 pasukan untuk memadamkan karhutla di Sumsel. Di antaranya 1.000 unsur TNI, 205 unsur Polri, 200 masyarakat dan 100 dari BPBD setempat.

 Untuk memaksimalkan upaya pemadaman karhutla di Sumsel, pihaknya berharap banyaknya bantuan berbagai pihak. Salah satunya, perlunya peralatan dan teknologi pemantauan secara real time, dukungan peralatan drone untuk kepentingan patroli dan memantau kondisi di lapangan.

 Selain itu juga perlunya mengoptimalkan lahan tidak produktif, melakukan teknologi perkebunan pertanian dan teknologi cuaca agar lahan yang tidak produktif menjadi lahan produktif.

 “Harapan kami agar dana desa bisa dialokasikan untuk pencegahan dan penanggulangan karhutla di desa rawan karhutla. Saat ini kita sudah mendapat bantuan berupa empat helikopter waterbombing dan satu pesawat patroli dari BNPB,” jelasnya.

 Sementara itu, Gubernur Sumsel, Herman Deru menjelaskan, karhutla yang kerap terjadi selalu akar masalahnya ada pada lahan-lahan yang selama ini tidak produktif dan tak bertuan.

 Oleh karena itu, kata dia, Pemprov Sumsel secara tegas akan menginstruksikan kepala daerah di masing-masing Kabupaten/Kota yang menjadi langganan Karhutla seperti Ogan Ilir untuk menindak lanjutinya secara serius.

 "Saya minta besok Asisten 1 dan Danrem datangi Bupatinya dan bahkan panggil camatnya untuk tahu itu tanah siapa. Kebanyakan yang terbakar ini lahan yang tidak produktif, sementara yang berpenghuni tidak terbakar. Saya juga heran sejak saya kecil persoalan ini selalu terus menerus terjadi," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kebakaran hutan

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top