Jembatan Batam-Bintan Belum Tentu Dibangun

Rencana pembangunan jembatan penghubung antara Kota Batam dan Kabupaten Bintan, masih abu-abu. Kalaupun nantinya jadi dibangun, jembatan yang biasa dikenal dengan nama jembatan Babin (Batam-Bintan) ini masih harus menjalani proses pengkajian yang memakan waktu tidak sebentar.
Bobi Bani
Bobi Bani - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  14:20 WIB

Bisnis.com, BATAM-Rencana pembangunan jembatan penghubung antara Kota Batam dan Kabupaten Bintan, masih abu-abu. Kalaupun nantinya jadi dibangun, jembatan yang biasa dikenal dengan nama jembatan Babin (Batam-Bintan) ini masih harus menjalani proses pengkajian yang memakan waktu tidak sebentar.

Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional (PJN) 1 Kepri, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Endry Z Djamal menuturkan, masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) harus satu suara untuk mengupayakan pembangunan jembatan ini. 

Memperlihatkan akan pentingnya jembatan ini untuk segera dibangun. Jika tidak, rencana tersebut akan dikaji kembali, karena proyek ini menelan anggaran yang tidak sedikit.

"Kalau resikonya lebih besar, maka akan dikaji kembali, mau tidak mau masyarakat Kepri harus satu suara," kata Endry ketika ditemui di Gedung Marketing BP Batam, Batam Centre, pada Senin (27/5).

Endry melanjutkan, pihaknya melihat hadirnya salah satu jembatan terpanjang di Indonesia ini memang dibutuhkan masyarakat. Khususnya untuk menjaga konektivitas masyarakat antar pulau ini.

Saat ini, pihaknya melihat masyarakat Batam dan Bintan terhubung melalui transportasi laut hanya sampai pukul 17.00 WIB.

Setelah itu, hubungan keduanya melalui transportasi massa tidak lagi ada. Kondisi ini cukup menyulitkan jika suatu waktu masyarakat ada kebutuhan mendesak.

"Ini menjadi salah satu alasan utama rencana jembatan ini dibangun, selain memang ada potensi ekonomi di dalamnya," tutur Endry lagi.

Kementerian PUPR melalui Satker PJN 1 Kepri, lanjut Endry, sejatinya terus berupaya memproses percepatan realisasi pembangunan jembatan ini.

Upaya tersebut, harus juga didukung oleh Pemerintah Daerah (Pemda) yang telah mendapat tugas untuk melakukan kajian-kajian perihal rencana pembangunan jembatan Batam-Bintan.

Pada prosesnya, dukungan tersebut memang sudah dilakukan dengan hadirnya data pendukung terkait lokasi berdirinya jembatan ini.

Dari kajian tersebut, jika rencana awalnya jembatan ini akan langsung menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Bintan, kini berubah akan melalui pulau lainnya. Yakni Pulau Ngenang, Talok, dan Tanjung Sauh di Batam, dan berakhir di Pulau Bintan.

"Prosesnya masih sangat panjang, feasibility studi (FS) juga harus disiapkan oleh Pemda, memang sebelumnya sudah ada tapi masih perlu perbaikan lagi. Sekarang juga ada perubahan rutenya, sehingga masih panjang dan bertahap," kata Endry lagi.

Jika jadi dibangun jembatan Babin ini akan jadi yang terpanjang di Indonesia, sepanjang 6,4 Kilometer. Panjang jembatan ini mengalahkan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) sepanjang 5,4 Kilometer.

Senada dengan mengambangnya rencana pembangunan jembatan ini, rencana pembangunan jalan tol di Batam juga masih belum ada kejelasan. Padahal sebelumnya jalan yang akan membentang dari kawasan Bandara Internasional Hang Nadim Batam di Kecamatan Nongsa ke kawasan Industri di Kecamatan Sungai Beduk, dan ke Pelabuhan Batu Ampar di Kecamatan Batu Ampar ini sudah masuk dalam Perpres Presiden (Perpres) No. 56 2018 lalu.

Endry menjelaskan, sampai saat ini belum ada pembahasan secara detil terkait kapan proyek jalan sepanjang 25 Kilometer tersebut akan mulai dikerjakan. "Jalan tol itu belum detil kami bahas, sehingga belum terlalu dapat kami sampaikan," tutur Endry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batam, jembatan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top