Harga Komoditas Penyumbang Deflasi Terus Naik

Harga beberapa komoditas yang menyumbang deflasi di Sumatra Utara terus naik seperti daging ayam ras dan dencis
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  22:45 WIB
Harga Komoditas Penyumbang Deflasi Terus Naik
Pedagang membersihkan bawang putih di salah satu pasar tradisional di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (2/5/2019). - ANTARA/Arnas Padda

Bisnis.com, MEDAN - Harga beberapa komoditas yang menyumbang deflasi di Sumatra Utara terus naik seperti daging ayam ras dan dencis.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan tekanan harga memang terjadi pada periode Ramadan dan Idulfitri. Adapun, harga sejumlah komoditas telah mengalami kenaikan sejak April seperti bawang putih dan cabai merah.

Menurutnya, harga komoditas lain pun turut tertekan seperti daging ayam ras yang telah naik 7,14 persen di pekan kedua Mei. Sementara itu, pada pekan pertama Mei, kenaikan yang direalisasikan sebesar 7,03 persen. Tren yang sama terjadi pada dencis yang pada pekan pertama Mei mengalami kenaikan harga sebesar 1,02 persen dan naik lagi sebesar 9,2 persen pada pekan kedua Mei.

"Tekanan cukup tinggi di hari puasa dan Lebaran ini dari hasil SPH (survei pemantauan harga)," ujarnya, Kamis (9/5/2019).

Lebih lanjut, komoditas lain seperti daging sapi, telur ayam, minyak goreng dan beras juga harus diantisipasi kenaikan harganya. Alasannya, dia menyebut terdapat laporan di lapangan seperti terbatasnya stok cabai merah karena dikirim ke daerah lain seperti Riau. Laporan yang sama juga terjadi pada komoditas beras yang kerap kali dikirim ke Banda Aceh sehingga Sumatra Utara harus mendapat pasokan beras dari daerah lain.

Sebagai gambaran, pada 2018, Sumatra Utara memproduksi 3,3 juta ton dan mengalami surplus 1,6 juta ton. Sementara itu, produksi cabai menyentuh 183.402 ton dan surplus 73.927 ton.

Hal itu, katanya, yang perlu ditelusuri lebih lanjut untuk bisa menjaga harga di lapangan.

"Kami surplus beras tapi inflasi masih tinggi," katanya.

Untuk mengatasi harga yang tinggi, dia menyebut perlu menjaga distribusi pasokan. Pasalnya, kelangkaan di beberapa daerah akan menjadi pemicu kenaikan harga. Sebagai contoh, distribusi cabai merah dari Kabupaten Karo yang menjadi sentra produksi cabai merah harus tersalurkan secara merata. Dengan demikian, akses terhadap komoditas tersebut tak terganggu.

"Kalau produksi hanya di Karo saja bukan merupakan solusi. Harus didistribusikan karena kelangkaan di satu wilayah akan menyebabkan kenaikan harga," katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bps, deflasi, sumut

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top