Industri Mamin Berpotensi Topang Ekonomi Sumut

Investasi di sektor industri makanan dan minuman disebut bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi, menyerap tenaga kerja hingga meningkatkan ekspor di Sumatra Utara.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 08 Mei 2019  |  16:46 WIB
Industri Mamin Berpotensi Topang Ekonomi Sumut
Pekerja menyelesaikan produksi kue kering di Ina Cookies Factory, Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/4/2019). Industri makanan kue kering Ina Cookies tersebut memproduksi kue kering hingga 7000 toples perhari guna memenuhi pesanan dari sejumlah wilayah di Indonesia, Malaysia dan Singapura dengan terus mengembangkan varian kue dan rasa seperti Putri Ice Cream dan Nastar Blueberry yang dipasarkan dengan kisaran harga Rp50.000 - Rp150.000. - Antara/Novrian Arbi

Bisnis.com, MEDAN — Investasi di sektor industri makanan dan minuman disebut bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi, menyerap tenaga kerja hingga meningkatkan ekspor di Sumatra Utara.

Dikutip dari hasil simulasi yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara, Rabu (8/5/2019), subsektor industri makanan dan minuman merupakan subsektor yang memiliki daya saing ekspor tinggi. Adapun, penanaman modal di sektor ini masih terkendala harga gas industri yang mahal serta birokrasi perizinan yang masih panjang.

Selain itu, faktor keamanan, ketersediaan infrastruktur daerah penghasil bahan baku dan tempat pengolahan masih terbatas. Di samping itu, faktor eksternal dari kenaikan tarif bea masuk impor produk CPO dari negara mitra.

Padahal dalam asumsi simulasi, efisiensi, peningkatan produktivitas bisa mengerek naik pertumbuhan ekonomi. Perinciannya, diasumsikan terdapat efisiensi biaya bisa terbentuk dari kecukupan pasokan bahan baku yang berasal dari peningkatan produktivitas perkebunan tahunan rakyat.

Sementara itu, dari sisi sumber daya manusia (SDM), peningkatan lama sekolah 2,6 tahun dalam kurun waktu lima tahun berimbas pada peningkatan produktivitas sebesar 0,84% pertahun.

Selain itu, terdapat asumsi peningkatan modal sebesar Rp19,6 triliun dalam kurun waktu lima tahun untuk pembangunan pabrik di sisa lahan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei seluas 147 hektare.

Berdasarkan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi bisa meningkat sebesar 0,43%, penyerapan tenaga kerja naik 0,01% dan volume ekspor naik 0,55% yang bisa menyisakan selisih cukup besar dengan kenaikan volume impor yakni 0,33%. Sebagai gambaran, pada kuartal I/2019, pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara sebesar 5,3% yang ditopang dari sektor pertanian.

Oleh karena itu, untuk jangka pendek, dibutuhkan perbaikan infrastruktur penghubung antardaerah, keamanan, transparansi birokrasi dan harmonisasi peraturan. Kemudian, untuk jangka panjang, diperlukan perbaikan tata kelola, insentif untuk industri hilir CPO dan penyediaan infrastruktur penghubung kawasan industri seperti pelabuhan dan jalur kereta api.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumut, industri makanan dan minuman

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top