Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Musi Rawas Diproyeksikan Jadi Daerah Pengembangan Kakao

Pemprov Sumatra Selatan mendorong Kabupaten Musi Rawas menjadi daerah percontohan pengembangan tanaman kakao di provinsi itu.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 06 Mei 2019  |  13:53 WIB
Musi Rawas Diproyeksikan Jadi Daerah Pengembangan Kakao
Warga menunjukkan biji kakao saat proses penjemuran di Teluk Raya, Kumpeh Hulu, Muarojambi, Jambi, Jumat (19/4/2019). Harga jual biji kakao kering di tingkat penampung setempat mulai bergerak naik dari Rp18 ribu per kilogram pada awal tahun 2019 menjadi Rp22 ribu per kilogram dalam bulan ini. - Antara/Wahdi Septiawan
Bagikan

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemprov Sumatra Selatan mendorong Kabupaten Musi Rawas menjadi daerah percontohan pengembangan tanaman kakao di provinsi itu.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan pihaknya sudah meninjau langsung pembibitan kakao di Desa Bamasco, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas, dan dinilai layak menjadi sentra kakao.

“Saya minta pada dinas perkebunan menjadikan Musi Rawas sebagai model percontohan bagi daerah lainnya di Sumsel dalam hal pengembangan tanaman coklat [kakao],” katanya, Senin (6/5/2019).

Menurut Deru, pengembangan tanaman kakao bisa saja merambat ke daerah lain di Sumsel yang memiliki topografi dan kondisi lahan yang sama seperti Musi Rawas.

“Jika digarap dengan serius, mampu meningkatkan pendapatan petani karena harganya nyaris tidak mengalami fluktuasi seperti karet,” katanya.

Selain memiliki perkebunan kakao, Musi Rawas juga telah memiliki rumah produksi pengolahan biji kakao menjadi produk olahan cokelat berkualitas ekspor.

Pemprov Sumsel juga berkomitmen bakal memberikan bantuan bantuan berupa mesin produksi berskala modern melalui Dinas Prindustrian dan Perdagangan (Disprindag) Provinsi. Namun dengan syarat rumah cokelat itu dapat memberdayakan masyarakat setempat agar terlibat langsung dalam aktivitas produksinya.

“Ke depan kita harapkan rumah coklat ini mampu meningkatkan produksinya. Masyarakat sekitar juga kita minta dilibatkan langsung dalam proses produksinya,” katanya.

Terkait dengan pemasaran hasil produksi selain secara online juga dilakukan secara konvensional, bahkan ada yang dieskpor ke Singapura. Oleh karena itu, Deru meminta pihak perbankan untuk menggarap pembiayaan di sector tersebut.

Sementara itu Bupati Musirawas Hendra Gunawan mengatakan selain ditanam di lahan perkebunan milik rakyat, komoditas itu juga dijadikan tanaman pekarangan.

“Sebelumnya masyarakat kita bergantung pada hasil tanaman karet. Namun sekarang kami anjurkan warga menanam coklat. Bukan saja dilahan perkebunan namun juga di pekarangan rumah,” katanya.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan tanaman kakao tersebar di sejumlah daerah lainnya.

“Kalau di Musi Rawas sentranya ada di Desa Pramasco dan Desa Megang Sakti IV juga telah dikembangkan industri skala rumah tangga,” katanya.

Pihaknya mencatat luasan kebun kakao di Musi Rawas mencapai 159 hektare dengan produksi sebanyak 114 ton biji kering.

Sementara areal kebun kakaos terluas berada di Kabupaten Lahat yang mencapai 4.380 ha dengan produksi sebanyak 2.280 ton biji kering, disusul Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) seluas 1.734 ha dengan produksi 631 ton biji kering.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumsel kakao
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top