Manisnya Bisnis Kedai Kopi di Palembang

Bisnis kedai kopi atau coffee shop belakangan ini menjamur di kota-kota besar, tak terkecuali Kota Palembang yang menjadi bidikan lokasi pelaku usaha kuliner tersebut untuk mereguk manisnya cuan dari secangkir kopi.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  16:57 WIB
Manisnya Bisnis Kedai Kopi di Palembang
Pengunjung menikmati kopi di Tanamera Coffee Palembang - Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG – Bisnis kedai kopi atau coffee shop belakangan ini menjamur di kota-kota besar, tak terkecuali Kota Palembang yang menjadi bidikan lokasi pelaku usaha kuliner tersebut untuk mereguk manisnya cuan dari secangkir kopi.

Bisnis coffee shop di Palembang tak hanya digeluti pelaku usaha lokal atau wong Palembang asli, melainkan juga brand nasional yang telah mengembangkan tokonya di beberapa kota.

Mengusung beragam jenis konsep, setiap coffee shop yang bermunculan di Kota Palembang rata-rata menyajikan tempat yang nyaman agar pengunjung betah berlama-lama meneguk kopi, tentu saja desain yang instagramable menjadi nilai plus yang diyakini bisa menarik tamu datang.

Namun demikian, para pelaku bisnis coffee shop mengaku cita rasa dan orisanalitas kopi adalah menu utama yang

menjadi kunci untuk menarik penikmat kopi.

Salah satunya adalah Tanamera Coffee yang telah memiliki 11 cabang di kota besar dan mulai ekspansi ke Bumi Sriwijaya.

Senior Marketing Executive Tanamera Coffee Indonesia, Natasha Tirtadajaya, pihaknya sangat mengandalkan kualitas dari biji kopi yang disuguhkan kepada pengunjung.

“Kopi yang kami gunakan adalah 100% kopi arabika dari berbagai daerah di Indonesia, dari Jawa, Sumatra hingga Flores,” katanya saat acara pembuaan kedai Tanamera Coffee di Palembang Square Mal, Selasa (26/2/2019).

Natasha mengemukakan Palembang merupakan kota pertama di Pulau Sumatra yang menjadi lokasi ekspansi kedai kopi yang berdiri sejak 2013 tersebut.

Menurut ia, pembukaan cabang di Palembang merupakan bentuk pendekatan dan apresiasi Tanamera Coffee kepada pelanggan di kota itu. Apalagi, kata Natasha, banyak pelanggannya yang request pembukaan gerai di Palembang melalui sosial media.

“Kami lihat dari instagram banyak yang minta buka di Palembang, jadi sebagai bentuk apresiasi kami bukalah di sini,” katanya.

Natasha memaparkan setelah membuka sejumlah gerai di kota besar, pihaknya menilai penikmat kopi di beberapa kota tersebut memiliki selera yang berbeda-beda.

Dia mencontohkan penikmat kopi di Makassar cenderung menyukai cita rasa kopi yang manis ketimbang pahit.

Dukungan Pemda

Sama seperti daerah lainnya di Tanah Air, Sumatra Selatan juga memiliki varietas kopi andalan khas Bumi Sriwijaya, seperti Kopi Semendo yang merupakan kopi jenis robusta.

Untuk mendukung dan menggaungkan kopi asli Sumsel, Pemprov Sumatra Selatan berencana mewajibkan setiap instansi di provinsi itu untuk menyuguhkan kopi asli Sumsel saat rapat dan menerima tamu.

Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru mengatakan instruksi tersebut tak lain bertujuan untuk mengangkat derajat dan membangkitkan industri kopi di Sumsel.

"Tidak ada alasan untuk tidak mendukung industry [kopi] ini. Bahkan di setiap instansi saya harapkan kopi Sumsel jadi sajian pertama  untuk rapat maupun ada tamu. Saya minta itu tapi harus kopi Sumsel," katanya beberapa waktu lalu.

Deru menilai dari berbagai aspek, kopi memang digemari dan mudah dalam berbagai hal seperti perawatan, pemeliharaan, pengolahan, penyajian serta mudah mendapatkannya.

Dia mengatakan selama ini kopi Sumsel yang berjenis Robusta kalah dengan kopi berjenis jenis lainnya. Padahal ini ada tanaman yang sangat subur bahkan bijinya sangat lebih besar-besar dari tempat lain.

"Semalam ada yang bilang alasannya kenapa kopi kita tidak begitu kuat di pasar internasional, ternyata orang tahu pengolahan kita ini masih belum sempurna, lebih komplet lagi kurang higienis,” katanya.

Oleh karena itu, gubernur mengajak masyarakat bersama-sama untuk mengangkat derajat kopi, karena kopi Sumsel secara kuantitas  memang tidak diragukan.

Cita rasa kopi, dia melanjutkan, bergantung pada pengolahannya, masing-masing orang punya kesukaan yang berbeda, ada yang dia lebih suka diolah secara hand made tradisional, tapi ada juga yang mau diolah secara modern, jadi ini tidak tergantung dengan industri besar.

"Kopi kita kurang dikenal karena kita sendiri yang kurang mempromosikannya, nah mulai hari ini semua medsos kita mulai dengan kopi Sumatera Selatan. Inilah cara kita untuk membantu petani agar mereka tetap bangga menjadi petani kopi dan hasilnya diserap oleh para pedagang, di olah oleh para industriawan dan berakhir menjadi terkenal di masyarakat," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
palembang, kedai kopi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top