Investor Jepang Dominan Tanam Modal di Sumbar

Total investasi Jepang sepanjang tahun lalu di Sumbar mencapai US$ 49,17 juta.
Heri Faisal
Heri Faisal - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  20:29 WIB
Investor Jepang Dominan Tanam Modal di Sumbar
Warga keturunan Tionghoa menggotong "sipasan" yaitu kendaraan menyerupai lipan (kelabang) yang dinaiki anak-anak, saat Festival Cap Go Meh 2570 di Padang, Sumatera Barat, Selasa (19/2/2019). Ratusan orang terlibat pada festival dalam rangka hari ke-15 perayaan Imlek tersebut. - Antara/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, PADANG — Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mencatat investor asal Negeri Sakura paling dominan menanamkan modalnya di daerah itu sepanjang tahun lalu dengan berinvestasi di sejumlah sektor.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumbar Maswar Dedi menyebutkan penamanan modal asing (PMA) yang masuk ke Sumbar tahun lalu didominasi oleh investor dari Jepang, China, Malaysia, dan Singapura.

“Paling dominan memang investor Jepang. Mereka investasi di beberapa sektor, seperti pertambangan, industri makanan, perkebunan, dan hotel dan restoran,” katanya, Selasa (19/2/2019).

Dedi mengungkapkan total investasi Jepang sepanjang tahun lalu di Sumbar mencapai US$ 49,17 juta. Disusul kemudian investasi dari China sebesar US$ 42,84 juta, Malaysia sebesar US$ 28,63 juta, Singapura sebesar US$ 21,12 juta, dan Australia sebesar US$ 10,48 juta.

Menurutnya, tahun ini, investasi Jepang berpotensi kian meningkat, setelah sebuah perusaahan dari negara tersebut Kishi Group berencana menambah investasi di sektor peternakan ayam, sekaligus menanamkan modal untuk pengolahan ikan tuna, pengolahan limbah medis, dan pengelolaan sampah.

“Dari Jepang kemungkinan akan semakin besar. Karena tahun ini sudah ada rencana investasi dari perusahaan Jepang. Totalnya bisa mencapai Rp500 miliar,” kata Dedi.

Adapun, perusahaan asal Jepang itu menggandeng pengusaha lokal mendirikan peternakan ayam sebanyak 50.000 ekor di Kabupaten Padang Pariaman. Dari investasi tahap awal, imbuhnya, investor berencana meningkatkan kapasitas produksi hingga 500.000 ekor tahun ini.

Dedi mengungkapkan, peternakan ayam tersebut, sekaligus pengolahan mengikuti standar di negeri Sakura, karena diprioritaskan untuk kebutuhan ekspor ke Jepang.

“Jadi mereka bikin peternakan di sini, dilengkapi dengan teknologi standar mereka dan kemudian diekspor lagi ke Jepang,” katanya.

Kishi Kasoburo, Pimpinan Kishi Group menyebutkan perusahaan mereka fokus di bidang penelitian dan pengembangan sintetis, serta berinvestasi di berbagai bidang usaha.

“Kami merupakan kelompok peneliti dan pengusaha yang fokus pada sintetis berbagai produk alami yang kompleks. Kami tertarik bekerjasama dengan Sumbar,” katanya.

Adapun, Pemprov Sumbar menargetkan investasi yang masuk ke daerah itu tahun ini mencapai Rp4,3 triliun atau sedikit di atas target tahun lalu yang hanya sebesar Rp4,1 triliun.

Untuk mengejar target tersebut, pemda setempat memfokuskan investasi pada bidang energi terbarukan, pengembangan pariwisata, industri pengolahan, dan perikanan.

Sementara itu, tahun lalu, total investasi yang masuk ke Sumbar sebesar Rp4,7 triliun atau mencapai 112% dari target Rp4,1 triliun.

Investasi itu terdiri dari PMND sebesar Rp2,3 triliun atau lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar Rp3,4 triliun. Namun, untuk investasi asing mencapai realisasi 341% dari target, yakni US$180 juta dari target yang hanya US$52 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, sumbar

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top