Harga Kelapa di Sumsel Anjlok 77 Persen, Petani Menjerit

Puluhan petani kelapa di Sumatra Selatan mendesak pemerintah provinsi untuk segera membantu dalam mengatasi anjloknya harga produk perkebunan itu hingga 77% sejak satu tahun terakhir.
Dinda Wulandari | 29 November 2018 14:41 WIB
Pedagang musiman membawa buah kelapa muda untuk dijajakan sebagai minuman berbuka puasa di Desa Cot Cut, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (27/5). - Antara/Irwansyah Putra

Bisnis.com, PALEMBANG – Puluhan petani kelapa di Sumatra Selatan mendesak pemerintah provinsi untuk segera membantu dalam mengatasi anjloknya harga produk perkebunan itu hingga 77% sejak satu tahun terakhir.

Seruan tersebut disampaikan petani dan mahasiswa yang melakukan aksi damai di Halaman DPRD Sumsel, Kamis (29/11/2018).

Muhammad Asri, Ketua Serikat Tani Nasional Sumsel, mengatakan pemerintah perlu melakukan penanganan serius terhadap harga kelapa agar kesejahteraan petani bisa terjaga.

“Petani kelapa terancam jatuh miskin apabila tidak ada penanganan serius. Bayangkan harganya saat ini hanya berkisar Rp900—Rp700 per butir dari awalnya Rp2.000 sampai Rp3.000 per butir,” kata Asri kepada Bisnis.

Dengan kata lain, harga kelapa anjlok hingga 77% dari Rp3.000 menjadi Rp700 per butir.

Dia mengatakan petani kelapa yang mayoritas berada di wilayah perairan Kabupaten Banyuasin hanya mengantongi penghasilan bersih maksimal Rp2,5 juta saat panen.

Bahkan, kata Asri, penghasilan itu bisa lebih rendah jika panen susut karena kurangnya perawatan dari petani.

“Kepemilikan lahan petani kelapa ini Kecil, paling 1 hektare dengan produksi maksimal 5.000 biji. Kalau harga anjlok seperti ini petani sulit merawat kebun dan berdampak pada produksi susut jadi 2.000 biji per ha,” jelasnya.

Dia memaparkan dari harga sekitar Rp700—Rp900 per biji tersebut, petani harus mengeluarkan biaya panen Rp300 per biji dan biaya perawatan Rp200 biji. Sehingga pendapatan bersih dari panen kelapa yang dikantongi petani hanya Rp200 sampai Rp400 per biji.

Oleh karena itu, Asri melanjutkan, pihaknya meminta Pemprov dan DPRD Sumsel mengambil langkah nyata dengan menginisiasi terbentuknya koperasi petani kelapa.

“Selain itu yang lebih penting adalah bangun industri kelapa di Sumsel, dan bentuk juga satgas untuk memberantas mafia kartel dalam perdagangan kelapa,” paparnya.

Asri mengatakan pihaknya mengendus terdapat mafia dalam perdagangan kelapa karena harga produk olahan kelapa di pasaran tidak mengalami penurunan harga.

“Harga produk di toko-toko masih normal kenapa harga bahan baku yang dibeli dari petani anjlok,” katanya.

Tag : kelapa
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top