Bank Mesti Bersiap Gandeng Perusahaan Fintech

PT Bank Mestika Dharma Tbk. mempersiapkan sejumlah rencana ekspansi pada 2019, salah satunya di bidang perbankan digital serta kerja sama dengan perusahaan keuangan berbasis teknologi.
Ropesta Sitorus | 26 November 2018 20:53 WIB
Bank Mestika - bankmestika.co.id

Bisnis.com, MEDAN – PT Bank Mestika Dharma Tbk. mempersiapkan sejumlah rencana ekspansi pada 2019, salah satunya di bidang perbankan digital serta kerja sama dengan perusahaan keuangan berbasis teknologi.

Albertus M. Dooradi, Head of Marketing Bank Mestika, menuturkan penerapan teknologi untuk perbankan akan semakin diperbanyak agar perseroan mampu bersaing. Salah satu yang akan ditempuh yakni kolaborasi dengan financial technology untuk memperkuat pertumbuhan pembiayaan.

“Tahun depan rencana kami banyak, termasuk penggunaan teknologi termasuk kolaborasi dengan fintech. Jika ada peluang kami bisa kerja sama entah dalam bentuk chanelling atau yang lain, kami melihat ada potensi kolaborasi tersebut,” katanya kepada Bisnis.

Meski enggan membeberkan lebih terperinci, Albertus mengungkapkan pihaknya telah mulai melakukan penjajakan dengan beberapa perusahaan perintis teknologi keuangan yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.

Selain itu, bank umum kelompok usaha (BUKU) II dengan permodalan berkisar Rp1 triliun – Rp5 triliun tersebut juga menargetkan layanan mobile banking mulai dapat diterapkan pada 2019. Bank Mestika menyatakan telah mengantongi izin dari OJK untuk uji coba layanan tersebut.

“Kami sudah punya internet banking sejak beberapa tahun yang lalu, pengembangan berikutnya mobile banking,” ujarnya.

Menurutnya, penerapan layanan tersebut semakin perlu guna meningkatkan kenyamanan nasabah dalam bertransaksi di era digital saat ini. Hal itu sejalan dengan strategi perseroan yang ingin memperluas basis nasabah khususnya kalangan segmen milenial.

Secara keseluruhan, Bank Mestika masih optimistis terhadap potensi pertumbuhan bisnis pada tahun 2019 mendatang. Adanya pemilihan umum juga diprediksi mampu menggerakkan perekonomian yang pada akhirnya menaikkan permintaan kredit, khususnya kredit ritel dan rumah tangga.

Menurutnya, perbankan masih memiliki keleluasaan untuk melakukan ekspansi mengingat rasio kecukupan permodalan (capital adequacy ratio) yang masih tinggi yakni berkisar 35%. Begitu juga dengan rasio pembiayaan terhadap pendanaan masih cukup longgar yakni di kisaran 90%.

“Fokus kami tahun depan masih sama seperti tahun ini yakni segmen usaha kecil menengah yang menjadi tulang punggung bisnis kami sejak lama. Kami optimistis dengan pertumbuhan ekonomi yang masih akan bagus, nilai tukar terhadap dolar AS masih tergantung dengan potensi kenaikan Fed tapi regulator juga akan menyesuaikan dengan itu,” tuturnya.

Selain dari segi pembiayaan, Bank Mestika juga menyiapkan strategi dari sisi pendanaan yakni lewat berbagai program tabungan berhadiah. Menurutnya, dana-dana murah seperti tabungan dan giro lebih efisien dari segi biaya serta lebih stabil dibandingkan dengan dana deposito dari perusahaan besar maupun dana wholesale dari pasar modal.

“Kami hindari dana wholesale karena selama ini kami selalu dapatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) dari nasabah ritel dan SME, makanya kami cukup konservatif dan tidak mengobral suku bunga simpanan,” ujarnya.

Albertus menambahkan perseroan cenderung mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dengan mencermati perkembangan pasar. Hal itu membuat rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) dapat terjaga di level 2,5%, jauh di bawah ambang batas aman yang direkomendasikan OJK yakni 5%.

Sementara itu, Bank Mestika masih optimistis mampu merealisasikan pertumbuhan sesuai dengan rencana bisnis bank sampai akhir 2018, termasuk pertumbuhan pembiayaan sampai 9,27%.

“Sejauh ini kinerja perseroan masih on track. Sejak 5 tahun lalu kami mencanangkan pertumbuhan aset double size menjadi Rp12 triliun dan itu sudah terealisasi pada Juni lalu,” tambah Albertus.

Sebelumnya, Presiden Direktur Bank Mestika Achmad S. Kartasasmita menyatakan perseroan mulai mengejar pertumbuhan komisi atau fee based income (FBI), di samping sumber pendapatan utama yakni dari bunga pinjaman.

Belum lama ini, bank publik yang berbasis di Sumatra Utara itu menggandeng PT FWD Life Indonesia meluncurkan produk asuransi berjangka ProFuture. FWD Life merupakan pelopor asuransi berbasis digital di Indonesia serta menjadi perusahaan asuransi keempat yang mendistribusikan produk bancassurance lewat Bank Mestika.

“Lewat inovasi produk ini kami ingin mengembangkan pasar baru yakni segmen milenial yang potensinya masih sangat tinggi di Sumut,” kata Achmad.

Kendati belum mematok target khusus, dia berharap pemasaran produk bancassurance juga akan dapat mengerek pendapatan perseroan. “Kontribusi dari bancassurance selama ini sekitar 10%-20% dari total FBI. Kalau tidak mulai mendorong pendapatan komisi ini ya kami tidak bisa bersaing, sebab bank mana yang sekarang tidak menawarkan asuransi,” tuturnya.

Tag : bank mestika
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top