Setelah Ihan Batak, Pemerintah dan Swasta Tambah Kapal di Danau Toba

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menyatakan akan menyelesaikan pembangunan dua kapal motor penumpang (KMP) usai meluncurkan Ihan Batak, kapal Ro-Ro pertama yang dibangun di kawasan Danau Toba, Sumatra Utara
Ropesta Sitorus | 02 September 2018 16:52 WIB
Warga berada di dalam kapal motor saat akan bersandar di Pelabuhan Tigaras untuk membeli bahan kebutuhan, di Simalungun, Sumatra Utara, Rabu (20/6/2018). Kapal motor yang mampu mengangkut sekitar 40 orang penumpang tersebut merupakan salah satu alat transportasi warga dan wisatawan antar pulau di Danau Toba. - ANTARA/Irsan Mulyadinz

Bisnis.com, MEDAN - Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menyatakan akan menyelesaikan pembangunan dua kapal motor penumpang (KMP) usai meluncurkan Ihan Batak, kapal Ro-Ro pertama yang dibangun di kawasan Danau Toba, Sumatra Utara.

Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi pembangunan dua kapal tambahan tersebut akan diselesaikan paling lama pada 2019.

“Pada tahun ini 1 dan tahun depan 1 lagi,” katanya kepada Bisnis, Minggu (2/9/2018).

Budi belum menyebutkan terkait ukuran dan estimasi kebutuhan biaya yang diperlukan untuk kapal tersebut.

Namun dalam kesempatan sebelumnya, dia sempat menyatakan bahwa ukuran kapal yang akan dibangun dalam waktu dekat itu lebih kecil dari kapal Ihan Batak yang diluncurkan pada Sabtu (1/9) kemarin di kawasan Pantai Pasir Putih Desa Parparean II, Kecamatan Porsea, Tobasa.

Seperti diberitakan, kapal Ro-Ro Ihan Batak tersebut berukuran 300 Gross Tonage (GT) yang nantinya akan melayari perairan Danau Toba dari kawasan Parapat Simalungun – Pulau Samosir.

Kapal tersebut dikerjakan di Cirebon dan kemudian dilanjutkan pengerjaannya setelah diangkut lewat jalur darat ke Porsea. Kontrak KMP Ihan Batak berlaku sejak 28 Agustus 2017, dengan jadwal pembangunan memakan waktu selama 15 bulan.

Budi menuturkan pembangunan KMP Ihan Batak sudah hampir rampung dan tinggal tahap finishing. “Sudah mencapai 90%, diprediksikan pada akhir Oktober sudah siap diserahterimakan. Pada Desember 2018, kapal ini ditargetkan sudah dapat beroperasi dan melayani penumpang guna Angkutan Natal Tahun Baru mendatang.”

Pada perkembangan lain, Kementerian Perhubungan terus mendorong perbaikan aspek keselamatan pelayaran di Danau Toba. Peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Juni lalu diharapkan menjadi momentum bagi perubahan, baik dari sisi operator, masyarakat maupun pemerintah daerah.

“Masuk kapal langsung catat manifest dan pakai life jacket. Marilah kita bersama ciptakan sistem keselamatan pelayaran yang baik karena tahun depan ada target 1 juta wisatawan yang akan datang ke Danau Toba jadi harus kita ciptakan fasilitas yang berkeselamatan,” paparnya. 

Dia menuturkan revitalisasi masih terus dilakukan di beberapa pelabuhan di sekitar Danau Toba, salah satunya Ajibata. Selain itu, tarif penyeberangan di Danau Toba juga akan diubah dalam waktu dekat sehingga operator juga diharapkan untuk menyiapkan iuran wajib untuk Jasa Raharja.

“Setelah tim Ad-Hoc Danau Toba bekerja 1 bulan dan memperbaiki semua aspek keselamatan pelayaran di sini terutama dari aspek dernaga, kapal, sumber daya operator maupun masyarakatnya, juga budayanya. Saya datang kembali untuk mengecek pelaksanaan pembangunan di Ajibata yang sudah mencapai 26%,” jelasnya. 

Sebagai danau vulkanis terbesar di Indonesia dengan panjang 100 km dan luas 1.130 km, Danau Toba memang dinilai masih kekurangan infrastruktur pelayaran.

Apalagi dengan ditambahnya rute dan frekuensi penerbangan ke Bandara Silangit, kebutuhan akan kapal pengangkut orang dan barang di sekitar kawasan Danau Toba tentunya semakin meningkat.

Menurut Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba Arie Prasetyo, peluang investasi untuk sektor transportasi seperti kapal wisata juga masih terbuka lebar bagi swasta.

“Selama ini kapal yang rutin berlayar itu wisata, tapi disebut kapal commuter juga. Nah kalau yang betul-betul untuk wisata berjadwal seperti dining cruise kayak di luar negeri, itu belum ada. Tapi sudah ada beberapa investor yang mau mengembangkan itu,” kata Arie kepada Bisnis, belum lama ini.

Dia menjelaskan, saat ini ada dua investor lokal yang telah mulai menyiapkan bentuk wisata cruise di Danau Toba dengan konsep yang menarik.

“Satu bikin kayak konsep live on board di kapal dikolaborasikan dengan atraksi di darat seperti desa wisata. Satu lagi konsepnya kayak dining cruise atau restoran terapung di beberapa lokasi seperti di Ajibata dan Tomok,” ungkapnya.

Dia yakin segmen pasar luxury untuk bentuk-bentuk wisata baru tersebut pasti akan tumbuh jika pasokannya sudah disiapkan. Bentuk pengembangan tersebut diharapkan dapat mempercepat terwujudnya target 1 juta wisatawan di Danau Toba dan 20 juta wisatawan mancanegara di Indonesia secara keseluruhan yang dipatok pemerintah pada 2019.

Tag : kapal roro, danau toba
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top