Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Telur di Sumsel Susut 100 Ton

Harga telur ayam pada sejumlah pasar tradisonal di Palembang terus mengalami peningkatan. Kondisi ini diakibatkan produksinya yang mengalami penyusutan sejak dua dua bulan terakhir.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 16 Juli 2018  |  23:54 WIB
Pedagang menata telur - Antara/Sigid Kurniawan
Pedagang menata telur - Antara/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, PALEMBANG -- Harga telur ayam pada sejumlah pasar tradisonal di Palembang terus mengalami peningkatan. Kondisi ini diakibatkan produksinya yang mengalami penyusutan sejak dua dua bulan terakhir.

Seperti diakui Sumarni, salah seorang pedagang bahan pokok di Pasar Satelit, Sako Palembang. Menurutnya, tingginya harga telur di tingkat pedagang karena harus menyesuaikan harga beli dari agen.

"Kini agen menjual rata-rata Rp23.000--Rp24.000 per kilogram. Padahal normalnya sekitar Rp19.000--Rp20.000 per kg," katanya, Senin (16/7).

Dengan kondisi seperti itu, kata dia, rata-rata pedagang kini menjual telur ayam berkisar Rp25.000--Rp26.000 per kg. Selain itu, pasokan yang bisa diterima pedagang juga jauh menurun.

"Kalau biasanya per 3 hari bisa terima 5-8 peti dengan isi 100 butir per peti, kini hanya dapat separuhnya saja," katanya.

Ketua Asosiasi Masyarakat Perunggasan Sumsel (AMPS), Ismaidi mengatakan, saat ini produksi telur dari peternak di Sumsel rata-rata hanya sekitar 150 ton per hari, padahal normalnya mencapai 250 ton. Kondisi ini sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir.

"Cuaca yang sangat panas dengan suhu berkisar 33-34 derajat celcius membuat ayam petelur sulit produksi. Hal ini juga mempengaruhi pertumbuhan ayam," katanya.

Dia menjelaskan, kini harga telur ayam di kandang dilepas dengan harga Rp22.000 per kg. Padahal normalnya hanya sekitar Rp16.000.

"Kondisi serupa juga terjadi dengan ayam potong," katanya, terlebih kandang peternak di Sumsel kebanyakan terbuka. Sehingga dengan cuaca seperti ini ayam rentan terserang penyakit dan mudah mati.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel, Yustianus mengatakan, tingginya harga telur tersebut karena banyak peternak ayam petelur gagal produksi.

"Konsumsi telur di Sumsel mencapai 150 ton per hari. Tapi kini jumlahnya hampir sama dengan produksi dari peternak, namun peternak di Sumsel juga menyuplai ke daerah lain, seperti Bengkulu, Bangka Belitung, hingga Jakarta," katanya.

Dia menambahkan, jumlah ayam petelur di Sumsel tercatat sekitar 7 juta ekor. Namun, karena faktor cuaca yang terlalu panas membuat produksi peternak jauh berkurang.

"Kondisi ini tidak hanya terjadi di Sumsel. Hampir di seluruh Indonesia. Maka dari itu, kami juga berharap agar Pemerintah Pusat turun tangan untuk membantu mencarikan jalan keluarnya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telur sumsel
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top